Oktober 9, 2026

(Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Cut Meutia, Laksamana Mahalayati, Panglima Polim, Teungku Cik Ditiro)

Dipersembahkan oleh Haremen

Mereka lupa,
atau berpura-pura tidak tahu,
bahwa laut di sekitar Aceh bukan sekadar biru,
melainkan darah yang pernah tumpah,
jejak-jejak gerilya yang tidak padam meski zaman telah berubah

Gambar logo Kerajaan Peurlak, Aceh

Mereka gagal membaca,
bahwa Aceh bukan hanya peta di meja,
tapi luka yang masih berdarah,
dan memori panjang yang menolak dijajah—lagi

Pulau-pulau itu…
Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, Mangkir Ketek—
bukan tanah kosong yang bisa digeser sesuka hati,
bukan papan catur bagi para birokrat di ibukota,
mereka saksi bisu perlawanan tanpa henti

Dulu,
ketika belanda mengirim Marsose dari darat dan laut,
dan Jepang menebar Kempetai di setiap pelabuhan dan sudut,
para pejuang Aceh menyelinap ke semak dan gua,
menyelamatkan nyawa, menyiapkan perang,
di pulau-pulau kecil yang seolah terlupa.

Cut Nyak Dhien bersembunyi dari mata serdadu,
Cut Meutia memimpin perang dengan senjata warisan suaminya,
Teuku Umar mengatur tipu dan siasat,
Laksamana Malahayati menggetarkan armada laut musuh,
Panglima Polim mengatur serangan di rimba dan rawa,
dan Teungku Chik di Tiro,
membakar semangat lewat ayat-ayat jihad di gubuk-gubuk pesantren tua
dan menebar semangat perjuangan
hingga ke pulau-pulau terpencil Aceh

Mereka menulis sejarah di atas pasir dan gelombang,
tapi sejarah itu tidak pernah hilang
Karena Aceh menyimpannya dalam nyanyian nelayan,
dalam doa pagi di meunasah,
dalam amarah yang diwariskan diam-diam
pada setiap anak lelaki dan perempuan
yang belajar bahwa hidup bisa dibeli,
tapi kehormatan tidak

Dan Jakarta,
pernah menandatangani janji di atas luka,
dalam naskah Linggarjati yang disambut tanya :
“Mana bagian kami dari republik ini?”
Aceh menyerahkan emas untuk republik,
Aceh membuka jalur darat, laut, dan udara,
agar Proklamasi tidak hanya bergaung di Jakarta,
tapi hidup di seluruh Indonesia dan Dunia.

Tapi setelah merdeka,
yang datang bukan ucapan terima kasih,
melainkan instruksi dari pusat,
pembangunan yang tidak pernah menyentuh akar,
dan senjata yang ditodongkan kepada mereka yang bertanya :
“Apa arti keadilan?”

Di sinilah Teuku Muhammad Hasan bersuara
Di masa awal republik,
Ia mengabdi tanpa pamrih untuk negeri,
namanya tidak selalu disebut dalam buku sejarah,
tapi Aceh tahu,
bahwa ia berdiri ketika negeri masih mencari arah.

Teuku Nyak Arif pun begitu,
berunding dalam bayang-bayang senapan,
tetap membela republik,
meski tahu bahwa republik bisa lupa.

Kini,
pulau-pulau itu kembali jadi perbincangan,
bukan karena sejarahnya,
tapi karena tanahnya hendak dipindahkan,
digeser, diserahkan,
oleh tangan-tangan yang tidak paham rasa.

Tapi Aceh tidak pernah lupa,
dan laut tidak pernah memaafkan ingkar janji.
Apa yang tertulis di batu karang,
tidak bisa dihapus oleh tinta birokrasi.

Aceh tahu,
bahwa kedaulatan bukan hadiah,
tapi darah yang dijaga oleh ingatan.

Dan bila negeri ini buta akan sejarah,
maka jangan heran
jika Aceh sekali lagi berkata:
Cukup Sudah

Empat Pulau Bisa Kalian Geser Di Atas Peta,
tapi Aceh tidak bisa kalian cabut dari akar sejarah. Termasuk pulau-pulau yang menjadi pusat perlawanan pejuang-pejuang Aceh melawan Kolonialisme


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca