Oktober 9, 2026

Semut Ibrahim | Yogyakarta – Adalah Burhanuddin Zainuddin Rusdiman, atau Burhanuddin ZR, lahir pada 21 April 1941 di Kampung Kauman Yogyakarta. Burhan Kampak. Membaca namanya terbayang ketegasan & keberanian.

Burhanuddin ZR adalah putra dari Zainuddin Ma’ruf Rusdiman, seorang tokoh Islam di Yogyakarta. Burhanuddin merupakan alumni SMA Negeri 1 Yogyakarta atau yang sering disebut SMA Teladan, sejak muda telah aktif terlibat dalam organisasi baik itu organisasi pelajar seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) hingga organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika beliau menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pada tahun-tahun 1960-1964 gerakan komunis di Indonesia merasa berada di atas angin sehingga bermain kotor dengan melontarkan tuduhan dan fitnah keji terhadap lawan-lawan politiknya. Kekuatan-kekuatan Islam diintimidasi dalam rangka  menggerogoti keutuhan umat dan kelangsungan kehidupan beragama di Indonesia.

Hal seperti ini terjadi dan dirasakan di basis-basis perkampungan kaum santri di Yogyakarta. Mereka dengan kesombongannya mencoba memprovokasi dan mengganggu. Masa-masa awal ini adalah masa-masa perlawanan terhadap gerakan Komunis yang selalu  mengintimidasi, memfitnah, dan merusak akidah Islam.

Ketika terjadi pergolakan politik dengan munculnya pemberontakan G 30 S/PKI yang memunculkan teror penghadangan serta penganiayaan oleh anggota atau simpatisan PKI terhadap aktivis Islam di jalan-jalan hingga serangan ke kampung atau wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim yang mengakibatkan jatuhnya korban para pemuda Yogyakarta yang anti komunis membuatnya (Burhanuddin ZR-red) terjun langsung bersama dengan kawan-kawannya untuk melakukan perlawanan.

Dalam situasi yang serba tidak jelas dan jatuhnya banyak korban jiwa akibat perbuatan para anggota dan simpatisan PKI membuat Burhanuddin yang saat itu tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan juga anggota Angkatan 66 yang tergabung dalam Laskar Aris Margono, dimana Aris Munandar dan Margono adalah nama pemuda anggota Persyarikatan Muhammadiyah yang menjadi korban kebiadaban ditembak aparat yang sudah dibina oleh PKI dan juga meninggalnya Kolonel Katamso Komandan Korem dan Letkol R. Sugiyono Kepala Staf Komando Resort Militer Korem 072/Pamungkas Kodam VII/Diponegoro (Sekarang Kodam IV/Diponegoro) di Yogyakarta melakukan tindakan keras kepada para anggota PKI sehingga akhirnya membuatnya dijuluki Burhan Kampak.

Burhanuddin, pendiri media cetak Eksponen, Radio (Perjuangan) Arma Sebelas, dan pendiri sekaligus ketua pertama Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) Daerah Istimewa Yogyakarta menghabiskan masa tuanya tinggal di Yogyakarta dekat Museum Perjuangan Yogyakarta di Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan.

Rabu, 23 April 2025, Pukul 23.00 WIB Bapak Burhanuddin Zainuddin Rusdiman berpulang kehadlirat Allah SWT di usia 85 tahun di Brontokusuman Kota Yogyakarta. Jenazah di kebumikan siang ini, Kamis 24 April 2025 pukul 13.00 WIB di Taman Pemakaman Islam Karangkajen, Mergangsan, Kota Yogyakarta.

Almarhum meninggalkan seorang istri (Sri Matini) dan empat orang anak (Ivan Harimurti, Laksmi Prita Dewi, Herry Krishnamurti dan Febriyanti Diah Pitaloka).

Selamat jalan Pak Burhan, keberanian, semangat serta kecintaanmu kepada Republik Indonesia akan terus hidup membersamai perjalanan kami.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu, Ya Allah, ampunilah dia, sayangilah dia, berikanlah dia kekuatan, dan maafkanlah dia.

Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosanya, menerima semua amal ibadahnya dan menempatkannya dalam kemuliaan. Aamiin.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca