
Indonesiaku…,
Batang Tubuhmu gemetar.
Bukan lapar.
Kau menanggung luka bertimbun luka..‼️
Lumbungmu ditikam koruptor.
Kedaulatanmu dicabik-cabik oligarki.
Anak-anakmu diperkosa, fikiran dan ideologinya dicuci.
Dibungkam,
Di kuntit,
Dibunuh‼️
Indonesiaku,
Batang Tubuhmu berlumur nanah.
Bukan sekedar darah.
Duka deritamu menulang sumsum.
Kau tak lagi kuasa berkata-kata.
Hampir berbisik saja kau di sadap,
Lidahmu di gembok.
Siapakah lagi yang perduli⁉️
Bahwa kau nyaris mati di meja demokrasi.
Siapakah lagi yang mengerti⁉️
Bahwa;
Keringat,
Air mata,
Luka,
Darah dan,
Nyawa anak-anakmu berhamburan kelangit
Menyongsong syahid menjagamu,
Menjaga Merah-Putihmu.
Siapakah lagi‼️
Kau menangis Indonesiaku…❓
Isakmu terdengar perih, lirih.
Betapa kau berusaha agar tangismu tak pecah.
Tak hendak kau mengaduh membuat gaduh.
Negeri kita sudah maha gaduh bukan⁉️
Ramai, riuh bising tempik sorak para anjing;
“Horeee…, aku berhasil merampok Jiwasraya, Asabri, BPJS, PELINDO, BANSOS bahkan aku mengunyah tambang, menggunduli hutan”.
“Horeee…, di masa pandemi kekayaanku berlipat lompat”.
“Horeee…, Anggaran sewa rumah DPR 50 juta”.
“Horeee…, kita bisa menghisap pasir laut”
“Horeee…, Mega proyek kita berbendera PSN.”
“Apalagi⁉️”
“Konstitusi di cabuli”
“Mahkamahnya dikencingi, media-media dilacuri”.
“BuzeRp bergaji untuk cipta kondisi”.
“Apalagi⁉️”
Tertatih kau singsingkan kebaya usangmu
Disisa tenagamu kau beringsut ke rumah rakyat.
Dengan nanah itu kau goreskan pesan pada dindingnya;
“Negeri ini hampir mati, masihkah ada yang perduli⁉️”
#Puisi_SangLangit
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.