
Semut Ibrahim | Tulungagung – Masjid al-Fattah sebelumnya bernama Masjid Putih, masjid ini sebenarnya sudah lama berdiri. Berawal dari sebuah masjid kampung di tahun 1952. Di zaman itu masyarakat menyebutnya dengan Masjid Putih karena dibangun dengan pasir letusan Gunung Kelud yang berwarna putih.
Masjid Putih tersebut kemudian direnovasi beberapa kali meliputi perluasan lahan dan bangunan. Bangunan Masjid Putih menjadi bertembok, bangunan sederhana, teras beratap cor, menara beton. Luasnya kurang dari separo bangunan yang sekarang.
”Masjid Putih tersebut dibangun di atas dua bidang tanah wakaf. Satu bidang berasal dari hasil pembelian kolektif beberapa warga Muhammadiyah. Satu bidang lagi wakaf dari almarhum Bapak Muslihun. Kedua bidang tanah tersebut telah secara formal diwakafkan kepada Muhammadiyah,” katanya.
Renovasi total dilakukan tahun 2019. Seorang pengusaha Tulungagung setelah berbincang dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur berminat memperluas dua bidang tanah di sebelah barat dan utara masjid. Tanah itu juga sudah resmi diwakafkan kepada Muhammadiyah.
”Atas kedermawanan pengusaha ini pula, bangunan Masjid Putih dirobohkan total, kemudian dibangunlah di atas empat bidang tanah wakaf tersebut sebuah masjid yang besar dan indah yang kemudian dinamakan Masjid al-Fattah yang terbuka bagi siapapun yang ingin beribadah di dalamnya,” tuturnya.
Demikian penjelasan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung Arief Sudjono Pribadi di lansir dari situs resmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
Pengusaha ini bernama H. Soetrimo, ia di panggil Abah Trimo, orang desa yang sangat sederhana. Menurut mas Ruhi (Oktober 2023). Beberapa tahun sebelumnya Abah Trimo bertemu ketua PWM Jatim KH. Saad Ibrahim dan beliau menyampaikan niatnya akan wakaf masjid untuk Muhammdiyah, saat itu pula Abah Trimo menyerahkan cheque sebesar 10 milyar, sedang masjidnya sendiri namanya Al Fattah dibangun menghabiskan dana sekitar 80 M.

Tahun 2022 lalu diresmikan oleh Prof. Haedar Nasir didampingi oleh Pak JK (Jusuf Kalla) dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Sejak itu masjid Al Fattah resmi milik Muhammadiyah PDM Kab. Tulungagung.
Belum lama ini Abah Trimo mengundang ustadz Jazir dari Jogokariyan untuk ceramah di masjid Al Fattah. Ustadz jazir mengangkat masalah wakaf, setelah Ustadz Jazir turun disaksikan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung dan Ustadz Jazir sendiri, beliau (Abah Sutrimo) mewakafkan 12 (dua belas) SPBU (stasiun pengisian bahan Bakar umum) miliknya untuk Persyarikatan Muhammadiyah.
Abah Trimo ini orangnya sangat sederhana, hidupnya sehari-hari di masjid menjadi marbot, mengurus masjid dan melayani jama’ah, apalagi kalau waktu pengajian dan puasa, Abah Sutrimo menjadi pelayan yang mengambilkan minum dan makanan untuk jamaah.
“Sewaktu-waktu ditelpon dimintai pendapat, walau malam saya harus jawab”. paparnya.
Pendidikan Abah Trimo tidak tinggi, hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) setara Sekolah Dasar (SD), meskipun hanya lulusan SR, Abah Trimo adalah salah satu importir kacang tanah terbesar di Indonesia dari Amerika, dalam sebulan beliau Abah Trimo bisa mendatangkan 100 kontainer untuk keperluan pabrik kacang atom/canghai merk Gangsar dan aneka Snack miliknya.
Disamping puluhan SPBU, Abah Sutrimo juga memiliki beberapa SPBE di kawasan Tulungagung dan Kediri Raya.
Jika sahabat Semut Ibrahim sempat berkunjung ke masjid Al Fattah Muhammdiyah Tulungagung, jangan terkecoh dengan seorang marbot masjid yang tampil sangat sederhana, selalu menyapa jama’ah dan tamu yang berkunjung di masjid Muhammadiyah tersebut. Masjidnya megah, memiliki 3 lantai dengan lantai paling bawah sebagai basemen.
Jangan heran kalau melihat di basemen masjid sudah dilengkapi ambulan milik masjid dan sederet mobil mewah. Ada Jeep Rubicon, Alphard, Velfire dan Mercy terbaru yang digunakan untuk fasilitas para da’i yang mengisi berbagai kajian di masjid itu.
Masjid dilengkapi lift, tempat wudhu dan seluruh layanan standard hotel bintang 5. Silahkan searching Masjid Al Fattah Muhammadiyah Tulungagung, anda akan bisa melihat megahnya masjid milik Muhammadiyah di kota Tulungagung ini.
Ketika masjid Al Fattah diresmikan Jusuf Kalla, hadir dalam acara ini para pejabat dan petinggi lainnya, selain Gubernur Jawa Timur, Walikota Kediri Abu Bakar, S.E, Bupati Tulungagung Drs. Maryoto Birowo, Kepala Perangkat Daerah terkait serta Jajaran Forkopimda Kabupaten Tulungagung pun ikut hadir.
Sementara salah satu muwafiq Masjid Al-Fattah -Abah Trimo- juga hadir sebagai marbot masjid, sang pelayan jama’ah tanpa gaji.
Sejatinya Abah Trimo inilah orang kaya yang sebenar-benarnya kaya, hartanya kelak akan dibawa sampai ke alam barzakh, sedang di dunia ia hanya mengambil sedikit, secukup yang ia butuhkan agar ada tenaga untuk mengurus dan melayani jama’ah masjid.
Dituturkan oleh Kak Naz dan berbagai sumber
Editor : Bams
Baca juga :
- Sejarah Bait Al-Maqdis #1
- Sejarah Bait Al-Maqdis #2: Akar Krisis Palestina
- Babak Akhir Resolusi Khartoum
- INDONESIA DALAM DEJAVU
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.