Oktober 10, 2026
Ilustrasi (Foto: Zaki Alfarabi)

Semut Ibrahim | Yerusalem – Seorang gadis berusia empat tahun dan dua orang pasangan suami istri muda terbunuh malam itu (7 Januari 2024) ketika pasukan pendudukan Israel menembaki mereka di pos pemeriksaan militer Beit Iksa, yang terletak di barat laut Yerusalem yang diduduki. Tentara Zionis berkilah dengan mengatakan mereka mencoba menabrakkan kendaraannya ke arah tentara.

Saksi mata mengatakan bahwa pasukan pendudukan Israel melepaskan tembakan ke arah dua kendaraan yang melewati pos pemeriksaan, mengakibatkan cederanya seorang pria Palestina yang sedang mengemudikan kendaraannya ditemani oleh istrinya. Selain itu, seorang gadis berusia empat tahun yang berada di mobil lain juga terluka.

Beberapa menit kemudian, sumber-sumber lokal mengonfirmasi kematian tragis gadis berusia empat tahun, Ruqaya Ahmed Odeh Jahaleen, dan pasangan suami istri muda, Mohammed Mzayyid Abu Eid dan istrinya, keduanya berasal dari kota tetangga Biddu.

Pasca tragedi tersebut, pasukan pendudukan Israel menutup seluruh pos pemeriksaan, mencegah masuk atau keluarnya warga ke dalam dan keluar desa. Selain itu, mereka menghalangi kendaraan ambulans Palestina untuk memindahkan korban ke rumah sakit. Insiden mematikan ini terjadi dalam konteks kebijakan tembak-menembak yang dilonggarkan di bawah pemerintahan Israel yang paling radikal dalam sejarah, dimana tentara dan pemukim ilegalnya merasa bebas untuk menembaki warga Palestina tanpa takut menghadapi konsekuensi hukum atau dimintai pertanggungjawaban.

Mereka (Israel dan pemukim ilegalnya) seolah-olah merasa betul-betul memiliki kebebasan membunuhi warga Palestina sebagai pemilik syah tanah Palestina dan tidak akan di adili karena kejahtannya tersebut. Mengapa zionis merasa demikian? Adalah karena Dunia (PBB) diam saja menyaksikan pembantaian masal terhadap warga Palestina.

Pewarta : Wafa

Editor : Bam’s


Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca