Oktober 9, 2026
King Faisal bin Abdul Aziz – istimewa

“Apakah kalian melihat pohon-pohon ini (pohon kurma)?! Sungguh ayah dan nenek moyang kita ratusan tahun mampu bertahan hidup hanya dengan memakan buahnya. Kita pun demikian, kita siap kembali tinggal di kemah-kemah seperti mereka. Kita tidak butuh (uang dari penjualan) minyak, kalau hanya digunakan musuh kita untuk memerangi (saudara-saudara) kita.”

Penggalan pidato Raja Faishal bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi, ketika melihat Amerika berpihak kepada Israel yang mencaplok tanah Palestina. Beliau menyatakan siap hidup miskin, tinggal di kemah-kemah seperti seorang badui dan siap hanya memakan kurma saja sebagaimana leluhurnya dahulu sebagai konsekuensi mengembargo ekspor minyak ke Amerika.

Semut Ibrahim | Raja Faishal bin Abdul Aziz Al-Saud memutuskan untuk melakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda dan Jepang. Negara-negara yang diembargo ini adalah negara-negara yang mendukung Zionis Israel pada perang Yom Kippur tahun 1973. Keputusan ini pun diikuti oleh negara-negara produsen minyak lainnya karena pada saat itu, Raja Faisal juga adalah ketua Organization of Arab Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Embargo Minyak

Pada tahun 1973, Amerika menekan negara-negara Arab, khususnya Mesir, dalam Perang Yom Kipur. Negara adidaya tersebut mengancam akan menyerang Mesir apabila Mesir meneruskan agresinya ke Israel. Mendengar kabar tersebut Raja Faishal pun marah dan menyatakan perang ekonomi kepada Amerika Serikat dengan cara mengembargo ekspor minyak mereka ke negara adidaya tersebut. Kebijakan ini benar-benar menciutkan nyali Amerika beserta negara-negara Pakta Perlawanan Atlantik Utara (NATO) yang mendukungnya.

Presiden Amerika saat itu, Richard Nixon sampai turun tangan langsung untuk meredakan kemarahan Raja Faishal. Ia datang ke Arab Saudi untuk berdialog dengan Raja Faishal membahas embargo yang dilakukan Saudi. Namun Nixon harus pulang dengan terhina dan rasa rendah diri setelah mendengar ucapan Raja Faishal, “Tidak akan ada perdamaian sebelum Israel mengembalikan tanah-tanah Arab yang dirampas pada tahun 1967!”

AS – NATO Termehek-mehek

Tak ayal, embargo ini mengakibatkan krisis energi dan krisis ekonomi di negara-negara yang mengalami pembatasan pasokan minyak. Di Amerika Serikat, harga minyak naik tiga kali lipatnya dan stoknya pun sangat sedikit. Sektor industri dan manufaktur terganggu. Sektor-sektor lainnya pun demikian juga. Hal tersebut tentunya berimbas pada kenaikan komoditas lainnya. Krisis ekonomi pun melanda. Barat pun menghiba termehek-mehek.

“Kalianlah yang tak bisa hidup tanpa minyak. Asal kalian tahu, kami berasal dari gurun pasir. Dan nenek moyang kami hidup dengan kurma dan susu. Dengan mudahnya kami bisa hidup seperti itu lagi,” kata Raja Faishal kepada Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS.

Amerika Serikat kemudian mengadakan perundingan untuk pelepasan militer Israel. Dan, Maret 1974 embargo minyak pun dicabut.

Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud dengan ‘senyum’-nya yang khas saat menerima Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger.

Keberanian Faishal bin Abdul Aziz Al Saud bukan saat itu saja. Saat ia masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, tahun 1947 di Sidang Umum PBB, beliau menyampaikan secara terbuka dukungannya terhadap Palestina dan tidak mengakui Zionis Israel:

“Namun kini, bangsa Arab mengharapkan penarikan agresi kelompok minoritas politik, yakni Zionis. Kelompok tersebut adalah sebuah kelompok yang tidak mewakili orang-orang Yahudi di dunia. Kelompok tersebut adalah kelompok politis, bukan agamis. Sebuah kelompok yang cara dan metodenya tak berbeda sama sekali dari Nazi.”

Tiga tahun setelah ia naik tahta menggantikan Raja Saud bin Abdul Aziz menjadi Raja Kerajaan Arab Saudi, pada tahun 1967 Raja Faishal mengirimkan 20.000 orang pasukannya ke Palestina untuk membantu perjuangan kemerdekaan Palestina pada Perang Enam Hari.

Sikapnya yang tetap konsisten membela Palestina bahkan jauh sebelum menjadi Raja menjadikannya dijuluki sebagai Advokat Internasional untuk Hak Palestina.

Sang Pembela Palestina Mangkat

Qaddarullah, pada tanggal 25 Maret 1975 beliau wafat dibunuh keponakannya sendiri: Pangeran Faishal bin Musaid bin Abdul Aziz Al Saud yang baru saja kembali dari ‘studi’-nya di Amerika Serikat. Ia ditembak di kepalanya pada sebuah acara kerajaan di mana beliau menyambut para keponakannya yang datang ke istana.

Wafatnya Sang Pembela Palestina ini pun banyak mengubah kebijakan luar negeri banyak negara-negara di jazirah Arab hingga sekarang.

Sampai jumpa satu saat nanti duhai pejuang. Lahul Fatihah…

Artikel ini dikutip dari tulisan Azzam Mujahid Izzulhaq dan sumber lain untuk melengkapi.

Editorial : Bam’s


Melengkapi literasi tentang timur tengah, pembaca bisa mengupas Konfrensi Tingkat Tinggi negara-negara Arab di Sudan yang melahirkan kesepakatan yang di kenal dengan Resolusi Tiga Tidak, pembaca dapat menemukan artikel tersebut dalam tajuk “Babak Akhir Resolusi Khartoum”

Ingin menikmati diksi yang tersaji dalam Sajak, pembaca dapat menemukan kumpulan sajak atau puisi di sini


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

1 thought on “Faisal bin Abdul ‘Aziz Al-Saud, Sang Raja Pembela Palestina”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca