Oktober 9, 2026
Ilustrasi tulisan Erros Djarot; Indonesia Adalah (Untuk) Kaesang & Gibran???. (Muid/ GBN.top)

Erros Djarot : Catatan saya ini tentunya disertai harapan dan ajakan kepada para pemimpin di negeri ini untuk segera sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Kenyataan semakin maraknya korupsi dan manipulasi di wilayah pengelolaan uang negara, kekayaan negara, dan penyelenggaraan negara secara menyeluruh. Diperkeruh dengan kualitas sosial-ekonomi yang mulai berdampak pada kian terbebaninya rakyat oleh biaya hidup yang kian berat. Sementara di sisi lain, para pemimpin partai dan politisi, hanya sibuk dan asyik ribet dan ribut sendiri dengan urusan perebutan posisi dan kekuasaan seputar Pemilu-Pilpres 2024. Seperti tak ambil pusing terhadap kualitas kehidupan rakyat yang tengah berjuang hidup sebagai survivor, sekadar hanya untuk dapat hidup layak, bahkan hidup pas-pasan.
 
Apalagi lagi ketika fenomena budaya politik kekuasaan yang dijejalkan ke mata dan pikiran rakyat adalah adegan seputar kesibukan para pemimpin memperkokoh bangunan politik dinasti di negeri ini. Fenomena paling nyata adalah peristiwa Kaesang yang secara super kilat, ekspres, sehari langsung Ketua Umum Partai PSI. Juga didorongnya mantu dan anak Presiden yang terang-terangan ditampilkan sebagai kepala daerah, Wali Kota Medan dan Wali Kota Solo. Ditambah lagi dengan manuver menjadikan Gibran sebagai Cawapres Prabowo. Kesemuaan ini menjadi bumbu tak sedap yang membuat perut rakyat mulai merasa mual menahan bau ramuan politik yang memusingkan kepala.
 
Dihadapkan pada realita yang mengkhawatirkan ini, dengan berat hati saya harus sampaikan sejumlah kecemasan massal yang saya sempat tangkap di hampir setiap lorong kehidupan keluarga wong cilik. Mengingat belakangan ini, harga beras sebagai makanan pokok rakyat mulai merayap naik ke atas, secara perlahan tapi pasti. Suatu kondisi yang sangat potensial menghadirkan ‘sesuatu’ yang tidak kita harapkan bersama.  
Dikutip dari GBN.Top
Erros Djarot, budayawan.

semutibrahim.com | Kak Naz – Menarik kesimpulan dari apa yang dituturkan oleh Opung Panda Nababan, maka semakin terkuak tabir gelap apa yang menjadi motif dari manuver politik Jokowi. Ini menjadi sangat menarik untuk menghubungkan benang merah dari pergerakan bidak papan catur politik Jokowi.

Misteri Gibran

Misteri Misteri mengapa Gibran Raka ada di PDI-P dan dengan menunggangi “Kuda MK” merangsek mendobrak palang rintang konstitusi menuju RI-2. Lalu pada saat bersamaan ada Kaesang Pangarep yang juga menerobos ke puncak miniatur PDI-P KW-2.

Perseteruan anatara Jokowi dan Surya Paloh, yang menurut Opung Panda sebagai dua tokoh sentral yang sulit melepaskan dendamnya masing-masing itu telah menggambarkan dengan jelas peta pikiran dan strategi Jokowi.

Sebagai tokoh yang kedigjayaannya ada pada “Tongkat Kepresidenan”, Jokowi tahu betul, ia mempunyai “Expire Date”, atas kepemilikan Tongkat Sakti Kepresidenan miliknya. Selesai dua periode, Jokowi akan menjadi manusia biasa tanpa kekebalan dan tanpa kesaktian Tongkat Sakti Kepresidenan yang selama ini digenggamnya. Tanggal kedaluarsa kekuasaan terus mengusik dan mengganggu disetiap tidur malamnya.

Kecemasan akan datangnya dendam lawan-lawan politik yang selama ini pernah digerusnya tanpa ampun terus merenggut selera makan dan selera bercengkerama Jokowi dengan cucu-cucunya yang lucu.

Belajar Dari Kegagalan Muldoko

Jokowi akhirnya harus mengambil langkah besar yang dapat dibilang sangat spektakuler jika ia tak ingin hidupnya terombang-ambing terus dalam kecemasan akan datangnya dendam lawan politik. Salah satu langkahnya yakni; MEMILIKI PARTAI POLITIK. Hanya dengan cara itu dan merupakan harga mati sebelum Jabatan Presidennya jatuh tempo, bagaimana pun cara dan seberapa mahal pun harganya.

Jadi, jika Gibran sukses menggapai kursi RI-2, maka itu artinya Gibran memiliki kesempatan besar mengambil alih roda kemudi Kapal Besar PDI-P dengan bantuan Prabowo sebagai RI-1. Tentu saja, dengan belajar dari buku catatan “Kegagalan Muldoko Membegal Partai Demokrat” segalanya akan lebih mudah ketika di implementasikan di PDI-P.

Kesepakatan pun dapat terbaca dengan amat terang, yakni Prabowo harus sukses melampaui dua periode (Prabowo Presiden dua periode), maka barter politiknya dilanjutkan dengan estafet suksesi Gibran menjadi RI-1 pasca Prabowo lengser.

Bagaimana Dengan Kaesang?

Diawali kesuksesan Gibran di RI-2, maka dapat di pastikan miniatur PDI-P KW-2 dapat di katrol naik kelas menjadi partai politik KW-1, tentu saja dengan platform politik yang 100 % mewakili kepentingan Oligarkhi “The Golden Dargon”, yang jumlahnya bisa saj tidak 9 lagi, melainkan sudah 999. Ini bukan asal “ngecap” atau isapan jempol, orang boleh saja bilang tak mungkin orang di luar trah Sukarno bisa menguasai PDI-P, namun sejarah bercerita tentang banyak fakta yang bertolak belakang.

Buktinya, seorang Tukang Kayu telah dicatat dalam sejarah berhasil membangun Dinasti Kekuasaan diatas Negara besar berpopulasi 270 juta penduduk serta mampu membuat tunduk kepala seluruh elite PDI-P, padahal bukan dari “Trah Soekarno”.

Lalu, apa sulitnya membangun dinasti yang sama dalam skala Partai Politik? Apalagi dengan dukungan finansial tanpa batas dari oligarkhi plus jaminan penuh dari pemilik Silk Road, Mr. Xi Jinping, tidak ada yang berat, semuanya menjadi serba ringan.

Berangkat dari kekuatan magis dendam mpolitiknya, bukan mustahil Kekuatan Sihir politik Jokowi mampu mengubah sejarah perpolitikan nasional pasca Pilpres 2024 mendatang.

Prabowo – Gibran memang belum tentu menang, jika kalah, maka pupuslah harapan Jokowi, namun jika menang, maka menara besar “Imperium Jokowi” akan berdiri menjulang tinggi mencakar langit. WOW

Kita lihat saja nanti….!!!

CMIIW


Tidak lengkap rasanya membaca ulasan arah politik Jokowi dan PDI-P tanpa membaca tulisan Kak Naz dalam tajuk Jokowi, “The Most Powerful King”

Baca juga ulasan bernasnya Koningh Der Bougies dalam tajuk “MEMANGGIL PULANG RUH PANCASILA”


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca