Oktober 10, 2026
Ilustrasi: Haq dan Bathil tidak akan pernah bisa bersatu

Muqaddimah

Kisah Semut Ibrahim memberi kita banyak pelajaran, yakni jika kebaikan atau kebenaran dan ketidakbaikan atau kebathilan sudah di depan mata kita, maka kita tidak lagi berbicara tentang kemenangan, kesuksesan, atau keberhasilan.

Kita hanya di hadapkan kepada pilihan dimana keberpihakan kita itu kita letakkan, apakah berpihak kepada kebaikan atau ketidakbaikan. Soal hasil, menang atau kalah adalah urusan dan hak Allah semata, kewajiban kita hanya berjuang dengan upaya yang maksimal. Sekecil-kecilnya kemampuan, tetap bernilai besar selama kita Istiqomah berpihak kepada hal-hal baik. Karena bobot nilai ada pada perjuangan atau upaya yang kita lakukan, bukan pas hasil.

Semut Ibrahim Dot Com

Lahirnya media online dengan Nama Semut Ibrahim Dot Com – “Media Informasi, Opini dan Seni” berawal ketika mimin mencari nama domain yang mimin rasa cocok dan memiliki nilai filsafat sebagai sebuah harokah atau gerakan dengan fungsi menerbitkan informasi yang benar sesuai fakta-fakta kebenaran, menangkap opini publik dan mengulasnya, menerbitkan artikel dalam tajuk kolom dan karya seni (sastra).

Dalam pencarian tersebut mimin tertarik dengan nama yang melegenda, yakni SEMUT IBRAHIM, mimin langsung meluncur ke penyedia hosting dan mencoba mendaftarkan SEMUT IBRAHIM DOT COM. Alhamdulillah nama tersebut belum ada yang menggunakan.

Mimin terus mencari informasi tentang nama SEMUT IBRAHIM tersebut, khususnya kepada teman-teman di twitter, ada mutualan mimin yakni Mas Dars Alexandra dengan akunnya “SEGo Liwet³”. Mimin kontak Mas Dars via DM dan berlanjut ke WhatShapp, komunikasi pun berjalan dengan baik dan intens. Bahkan mimin kemudian mengikuti space-nya Mas Dars. Pada space berikutnya mimin di undang untuk hadir dalam acara “Tasmiyahan” atau syukuran atas lahirnya Media Semut Ibrahim bertepatan dengan MILAD KE-4 BARISAN SEMUT IBRAHIM.

Barisan Semut Ibrahim

Barisan Semut Ibrahim adalah nama sebuah komunitas gerakan di media sosial, jatuh bangunnya Barisan Semut Ibrahim telah Mas Dars ceritakan semua kepada Mimin, bahkan Barisan Semut Ibrahim pernah berjalan dalam kesunyian.

Namun kebenaran adalah kebenaran, ia adalah magnet yang akan menarik setiap jiwa yang menanamkan kebenaran tetap bertumbuh dalam dirinya.

Demi Allah, mimin sebagai manusia yang tak berdaya, kecil dan memiliki banyak kekurangan merasa tersanjung. Sambutan sahabat Barisan Semut Ibrahim sangat luar biasa, jauh melampaui ekspektasi yang mimin pikirkan.

Allahu Akbar.

Semoga Allah SWT selalu menjaga dan menguhkan mimin, menjaga dan meneguhkan kita semua. Aamiin.

Kisah Semut Ibrahim  

Ada sebuah kisah menarik ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam hendak dibakar oleh raja Namrud laknatullah.

Disaat Nabi Ibrahim AS hendak dibakar dengan api yang besar dihadapan raja Namrud laknatullah dan kaumnya, ada seekor semut yang menyaksikan peristiwa tersebut, semut tersebut bersedih seraya berfikir apa yang bisa dia perbuat supaya bisa menyelamatkan Nabi Ibrahim, ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa menolong Nabi Ibrahim namun ia tidak mau hanya berdiam diri melihat kekasih Allah akan di bakar hidup-hidup dihadapannya, karena ia yakin Allah akan mempertanyakan hal tersebut di hari kiamat kelak. “Apakah yang kamu lakukan ketika kekasih Allah dibakar?”.

Gagak Yang Apatis

Akhirnya si semut menemukan ide, ia membuat sebuah kantong air untuk dijadikan sebagai wadah air dengan harapan ia akan membawa kantong penuh air dan bisa memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Iapun pergi ke sungai untuk mengambil air dengan kantong yang sudah dibuatnya. Dalam perjalanannya sambil menggendong sekantong penuh air dia bertemu dengan burung gagak dan terjadilah percakapan singkat.

Gagak : “Wooy…!, mau ke mana kau semut?”

Semut : “Aku akan ke kerajaan raja Namrud.”

Gagak : “Apa yang kau bawa, sampai kau nampak kelelahan seperti itu?”

Semut : “Aku membawa kantong berisi penuh air.”

Gagak : “Untuk apa air itu?”

Semut : “Apakah kau tak tahu, raja Namrud laknatullah akan membakar kekasih Allah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam?”

Gagak : “Tak, aku belum mendengar berita tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan air yang kau bawa itu?”

Semut : “Aku ingin memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.”

Gagak : “AWOKWOK…, semut bodoh, apakah kau yakin bisa memadamkan api besar yang di buat raja Namrud dengan air yang kau bawa itu?” (sambil tertawa sinis)

Semut : “Aku tahu, aku tak bisa memadamkan api besar tersebut, tapi aku punya alasan dengan apa yang aku lakukan saat ini.”

Gagak : “Apa alasanmu itu?”

Semut : “Pertama. Aku memastikan dimana aku berpihak, aku bukan makhluk yang tak mempunyai keperdulian hingga membiarkan keburukan terjadi begitu saja bahkan dihadapanku. Aku harus melakukan sesuatu untuk menegakkan kebenaran semampu dan sekuat tenagaku. Kedua. Agar aku mempunyai alasan yang benar ketika kelak di tanya oleh Rabb-ku. Aku mengetahui kekasih Allah kendak dibakar, maka aku melakukan sesuatu untuk menolongnya meski itu tidak mungkin namun Allah tahu aku telah melakukan sekuat kemampuanku.”

Gagakpun terus tertawa sambil melanjutkan perjalanannya, demikian dengan gigih si semut bersusah-payah mengangkat kantong yang berisi penuh air untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan tekat kuat dan tulus berbalutkan keimanan.

Cicak, (BuzzeRp)

Disisi lain ternyata ada seekor cicak yang dengan susah payah meniup-niup kobaran api yang sudah menyala besar, dia berharap dengan tiupannya api akan menjadi lebih besar namun sejatinya tiupannya tidak akan mempengaruhi gejolak api tersebut. Namun gerakan cicak bisa mempengaruhi orang-orang yang tidak berpendirian sehingga mudah terhasut dan merasa was-was, bahkan berkeyakinan bahwa Nabi Ibrahim AS pasti hangus terbakar oleh apinya namrud laknatullah.

Ada kontradiksi yang dilakukan semut dengan berdiri dipihak Nabi Ibrahim AS, sedangkan si cicak berdiri dipihak raja Namrud laknatullah. Masing-masing menunjukkan keberpihakannya dengan terang benderang. Tidak seperti burung gagak yang masa bodo, tidak perduli dan cenderung sibuk dengan dirinya sendiri, ia akan bergegas merapat dekati siapa pihak yang menang dan berkuasa.

Pelajaran Berharga

Dari kisah diatas ada beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran. Dengarkan suara hati dan bertindaklah, meski terkadang apa yang kita lakukan tidak dipandang, tidak berpengaruh bahkan dianggap tidak berguna namun dengan kita berbuat, maka akan memperjelas dimana posisi kita berada. Seperti Semut Ibrahim yang semangat mengangkat kantong air meski dia tahu bahwa ia tidak akan mampu memadamkan api, hanya Allah jualah yang mampu memadamkan api tersebut ataua bahkan menjadikan nyala api menjadi dingin.

Bencilah keburukan, kemungkaran yang terjadi dan kita mengetahuinya, sebisa mungkin untuk mencegahnya. Seperti semut Ibrahim yang tidak rela kekasih Allah akan dibakar, ia membenci kemungkaran dan kezaliman Namrud dan dia ingin memadamkannya.

Jangan hiraukan orang-orang yang mencoba menghalangi untuk melakukan kebaikan, karena akan ada saja orang yang meghalangi kita untuk malakukan kebaikan, yakinilah kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita sendiri. Seperti semut Ibrahim meski ditertawakan burung gagak dia tetap keukeuh melakukan apa yang sudah menjadi keyakinannya.

Yakinilah bahwa Allah menjadi saksi setiap apa yang kita lakukan didunia ini. Besar atau kecil, secara terang-terangan ataupun tersembunyi Allah yang Maha Tahu dan pasti akan membalasnya. Seperti semut Ibrahim yang meyakini bahwa Allah menyaksikannya diposisi mana ia berada ketika melihat kemungkaran terjadi dihadapannya. Iapun bertindak mengharap keridhaan Allah SWT.

Usah Seperti Gagak, pun Cicak

Janganlah seperti si burung gagak yang mengolok-olok dan menertawakan suatu kerja keras yang dilakukan oleh seekor semut dalam menegakkan kebaikan. Makhluk seperti itu akan menyesal di hari kemudian.

Jangan pula seperti cicak yang melakukan hal sia-sia namun menimbulkan penyesalan yang tidak terkira. Tiupannya pada api Namrud tidaklah berpengaruh sama sekali namun dia mengambil posisi ditempat yang salah yakni tempat terhina dihari kemudian karena ia berpiihak kepada keburukan.

Mohon maaf atas segala khilaf, mohon di tambahkan atas segala kekurangan.

Salam Ukhuwah dan Jabat Erat. –  Barisan Semut Ibrahim.

Dikisahkan oleh : Dars Alexandra, Inisiator Barisan Semut Ibrahim, seorang yang “mikul dhuwur – mendhem jero” berdomisili di Kalimantan selatan. Mas Dars ini aseli putra pribumi yang bermarga Puja Kasela (Putra Jawa ke Kalimatan Selatan)

Editorial : Sang Langit, semut “kecil” penyuka apapun yang manis namun tanpa pemanis buatan, penikmat diksi, penulis pinggiran yang memang nyempil di pinggiran. Domisili di Jakarta Barat.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

3 thoughts on “Hikayat Semut Ibrahim”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca