Oktober 9, 2026

semutibrahim.com – Bajingan Tolol. Diksi yang di ucapkan Rocky Gerung dalam orasinya di hadapan massa buruh tersebar dan menjadi viral setelah di share oleh warga net melalui berbagai platform. Tak urung respon negatif muncul dari berbagai pihak dan komunitas.

Ungkapan kata Bajingan Tolol yang di ucapkan Rocky Gerung sebagai kritik terhadap kebijakan Presiden Jokowi menjadi perbincangan hangat tidak hanya di dunia maya, di pangkalan ojek, warung-warung kopi pun emak-emak.

Ilustrasi gambar oleh Nazlira

Rocky VS Dayak

Nazlira Fardha Alhabsyi. Selebtwit yang juga seorang pengamat sosial alumni Universitas Al Azhar Jakarta menuliskan tentang fenomena pergeseran subyek dari diksi Bajingan Tolol yang di tulisnya dengan gaya ejaan lama “BADJINGAN TOLOL”

Berikut cuitan Kak Naz (-red) yang Semut Ibrahim publish di kolom opini. Bagaimana seorang pengamat sosial melihat, membaca dan mengkritisi kegaduhan “Bajingan Tolol” yang justru menggelinding atau di gelindingkan dengan subyek yang berbeda, yakni Suku Dayak sebagai subjek dari kegaduhan yang terjadi.

Politik Identitas

Berkaitan dengan ramainya gembar-gembor kemarahan Suku Dayak dan ancaman terhadap Rocky Gerung, sebahagian pendukung Jokowi yang bermazhab Ganjaris mencoba mengelak dari tudingan sebagai otak pelaku politik identitas yang berpotensi mengadu domba dan memecah belah persatuan bangsa.

Akibat politik identitas ini, tak sedikit orang yang pada akhirnya benar-benar terjebak dalam muslihat adu domba, terpancing dan menempatkan Suku Dayak sebagai subjek pertikaian Penghinaan versus Kritik “BADJINGAN TOLOL”. Orang terprovokasi dengan saling menebar hujatan dan makian antar Suku.

Para pelaku politik identitas ini boleh saja menampik tudingan bahwa mereka adalah pendukung Jokowi ex officio Ganjaris, tapi logika kepentingan politiknya berbicara begitu. Jadi cover suku Dayak, suku Papua atau suku apapun yang digunakan, orang langsung paham logika politiknya.

Raja Honoris Causa

Modus politik identitas menggunakan isue kesukuan ini bukan barang baru, dari jaman si Pitung dulu pun, Belanda paling getol menggunakan modus semacam ini, kepentingannya jelas, mengobarkan siasat adu domba agar posisi bangsa Indonesia selalu terpecah belah dan lemah.

Ada juga yang berkelit bahwa kemarahan suku Dayak berkaitan dengan pernyataan RG karena Jokowi telah dinobatkan sebagai Raja Suku Dayak.

Ini cara kelitan bocah yang paling norak, karena suku Jawa saja yang darahnya mengalir dan sumsumnya sudah melekat ditulang Jokowi sejak lahir, tidak semuanya menjadi pendukung Jokowi, bahkan tak sedikit yang beroposisi dengan Jokowi, apalagi Suku Dayak yang secara simbolis budaya, baru kemarin setelah Jokowi jadi Presiden memberikan gelar “Raja Honoris Causa”.

Penyematan dan penobatan gelar Raja Suku atau Marga SUku kepada orang diluar suku tersebut adalah simbol budaya. Namun simbol budaya tersebut oleh penguasa seringkali dijadikan alat permainan politik untuk di gunakan atau di jadikan representasi penerimaan mutlak sauatu Suku terhadap Sang Penguasa.

Ketika kemudian simbol budaya ini di tunggangi untuk kepentingan politik dan membentur-benturkan marwah kesukuan, efeknya memang sangat berbahaya sekali. Di negara-negara Afrika dan India, politik adu domba seperti ini telah sering memicu pertikaian antar suku menjadi perang saudara yang akhirnya menyebabkan pertumpahan darah dan ratusan ruibu nyawa melayang.

Konsesnus Bangsa

Bangsa Indonesia telah memiliki konsensus untuk hidup berdampingan, hidup ber-Bhineka Tunggal Ika. Menghadapi persoalan politik dan demokrasi kebangsaan seharusnya tetap dalam bingkai NKRI, bukan bingkai antar suku dan kelompok.

Preseiden itu jabatan politik hasil konsensus seluruh rakyat Indonesia. Ia di pilih oleh rakyat setiap 5 tahun sekali dan berganti paling lama 10 tahun sekali. Persoalan apapun yang terjadi dengan Presiden adalah persoalan kebangsaan, bukan Suku, Agama maupun Ras.

Bangsa Indonesia hendaklah berhati-hati, tidak boleh termakan hasutan politik identitas seperti ini. Tak perduli atas nama kepentingan politik, kontestasi Pilpres, Pilgub atau apapun juga. Politik indentitas adalah kejahatan adu domba yang tidak boleh di biarkan terjadi dan diberi ruang sedikitpun di alam demokrasi Indonesia.

Tunggangan Politik

Seharusnya Pak Jokowi marah besar kepada Ganjar jika para Ganjaris (pendukungnya) menggunakan Suku Dayak untuk mengekspresikan “KEBENCIAN” terhadap kritik Rocky Gerung. Ini menjadi kontra produktif dengan semangat Jokowi kepada seluruh pendukung Ganjar yang juga pendukungnya agar menjauhi isue SARA.

Suku Dayak pun pastilah sangat marah dan kecewa karena etnis Dayak diseret-seret dalam persoalan polemik kritik politik vs penghinaan diksi “BADJINGAN TOLOL”. Semua elemen masyarakat ikut merasakan kerisauan akibat perilaku menunggangi Etnis dan Suku ini. Maka, jika hal ini dibiarkan, dikemudian hari etnis dan suku lainnya juga rawan dijadikan tunggangan politik yang ujungnya akan memicu adu domba  yang berpotensi memecah belah bangsa. Ini sangat berbahaya!!.

Salam cerdas dan akal sehat!


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca