
Aku ditugaskan oleh Bosku, namanya Ba Jingan. Aku kurang paham ia berasal atau keturunan dari mana, marganya apa, aku tidak tahu.
Aku ditugaskan oleh Ba Jingan untuk mengeksplorasi Pulau Malibu. Katanya Pulau itu terkenal dengan keindahan alamnya, namun baru segelintir orang yang mengetahuinya. Aku dikasih bekal yang lebih dari cukup. Pokoknya tinggal keluar tenaga ekstra saja, karena jalan menuju ke Malibu sangatlah sulit, belum beraspal, banyak hutan, hanya ada jalan setapak saja.
Mendengar bahwa Pulau itu merupakan Pulau yang indah, akupun membawa peralatan guna mengambil gambar. Aku mulai ekspedisi dengan ditemani oleh seorang teman bernama Ba Seng. Ia merupakan orang kepercayaan Ba Jingan, satu marga, sepertinya.
“Seng, menurutmu kita nanti akan menemui harimau atau iblis atau Miyabi?” tanyaku.
“Wah, enggak ngerti Gan.” Jawabnya.
Ba Seng ini orangnya tekun, giat bekerja, teliti. Pantas saja ia menjadi orang kepercayaan Ba Jingan.
Akhirnya kami memulai perjalanan menuju Pulau Malibu.
Pertama-tama kami naik pesawat menuju Ibu Kota Provinsi Celibu. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pulau Malibu dengan menggunakan perahu motor. Kami menyewanya dari nelayan sekitar untuk keperluan selama satu bulan bereksplorasi.
Singkat cerita, sampailah kami di Pulau Malibu. Di sana pantainya bersih, pasirnya putih, banyak pohon nyiur melambai yang membuat nyaman suasana. Kami pun menaiki jalan setapak guna mencapai destinasi yang pertama, yaitu Distrik Malibu Malatus.
Jalannya susah, trek yang cukup ekstrem, dan ketika gelap sudah mulai merayap, sama sekali tidak ada penerangan.
Berhubung hari mulai gelap, kami akhirnya mendirikan tenda untuk bermalam, membuat api untuk menghangatkan badan, membuat makanan untuk mengisi perut, dan menyeduh kopi untuk menemani malam ini.
Setelah selesai makan, aku pun menyulut sebatang rokok. Bullllll, nikmatnya.
“Seng, kamu tidak ingin merokok? Enak loh, dikasih oleh Ba Jingan 10 pack.” Kataku.
“Ah tidak terima kasih. Saya tidak suka menghisap rokok.” Katanya.
“Lalu kamu sukanya menghisap apa, Seng?” tanyaku. “Ah, pasti kamu sukanya menghisap benjolan dadanya Miyabi, ya?” lanjutku.
“Kamu ini bicara apa, saya masih setia mempertahankan keperjakaanku.” Jawabnya.
“Halah Seng…. Seng, dikasih kenikmatan oleh Miyabi kok ndak mau itu kepiye tho? Kamu pasti homo.” Kataku.
“Sudahlah, aku mau tidur saja.” Kata Ba Seng.
Padahal niatku hanya guyon, untuk mencairkan suasana. Daripada digodain sama penghuni hutan, mending aku godain Ba Seng saja agar suasana cair.
Malam itu banyak bintang, rembulannya bersinar terang, aku jadi teringat dengan lirik lagu dangdut. Akhirnya aku dangdutan saja untuk mengusir sepi. Bosan juga dangdutan sendirian, lalu aku memanjat tebing yang ada di belakang tenda.
Aku melihat di keremangan malam, hamparan laut yang indah, bintang yang bertaburan banyak sekali. Sungguh pemandangan yang sempurna.
Malam kian larut, akhirnya aku masuk ke tenda untuk tidur. Namun udara dingin seakan membuka mataku, seketika aku terbayang dengan kekasih di kota, “ah, pasti nikmat sekali dingin-dingin seperti ini berduaan dengan pacar. Bisa memeluknya, merasakan desahannya, syukur-syukur bisa ena-ena. Tapi apa daya di sebelahku hanya ada Ba Seng. Tidak mungkin juga aku mencabulinya. Aku masih normal. Astaga, cabul macam apa yang merasuki pikiranku ini.” Akhirnya aku tertidur.
Keesokan harinya kami kembali melanjutkan perjalanan ke Distrik Malibu Malatus. Setiap keindahan alam yang ada di sana, selalu aku abadikan lewat kamera yang aku bawa. Sesampainya di Distrik Malibu Malatus, kami bertemu dengan penduduk lokal. Kami tidak paham dengan bahasa mereka, “awuu wuu, aiu aiwu wu.” Entah apa yang mereka bicarakan, kami tidak paham.
Akhirnya kami di bawa ke Kepala Suku, untungnya Kepala Suku bisa berbahasa, bahasa Bodolinesia. Kami menyampaikan maksud kedatangan kami, kami menceritakan bahwa tujuan kami hanya untuk bereksplorasi, melepas penat rutinitas kantor dengan berpetualang di Pulau Malibu.
Kepala Sukunya baik, penduduknya baik dan ramah. Lalu kami diajak oleh seorang pemuda ke sebuah tempat, yaitu air terjun yang katanya sangat indah.
Benar saja, air terjunnya sangat indah, tinggi, banyak bebatuan besar di bawahnya, airnya sangat jernih. Aku sampai ciblon (mandi) di sungai itu. Aduh, seger sekali. Ditambah dengan adanya bukit-bukit, hamparan hijau di seberang sungai, sungguh indah sekali. Setelah puas ciblon, kami dijamu oleh penduduk lokal. Kami diajak untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan untuk kami. Ada babi panggang, kelinci panggang, rusa panggang. Ada juga buah-buahan. Lalu ada air minum, sepertinya itu sejenis anggur. Wah, langsung saja saya menikmati sensasinya.
Setelah berpamitan dengan penduduk lokal, foto bersama, kami meminta izin untuk melanjutkan perjalanan.
Malibu Malatus, Malibu Dualatus, Malibu Namperak, dan Malibu Malibuan sudah tuntas kami eksplorasi.
Keindahan alamnya sungguh mempesona, pemandangan yang tersaji begitu sempurna. Akhirnya kami pun berlayar kembali, dan terbang menuju Brewes City, Ibu Kota Negara Bodolinesia. Saya dan Ba Seng ke apartemen untuk menyiapkan laporan perjalanan, menyusun data-data, melampirkan foto-foto yang nantinya akan kami presentasikan.
Tibalah kami untuk mempresentasikannya.
“Seng, kamu saja yang ngomong, saya nervous.” Suruhku.
“jangan, kamu saja. Aku cadel, nanti Ba Jingan tidak puas dengan presentasi kita. Lagian kamu menyusun kalimat banyak menggunakan huruf “R”, kan aku jadi kesusahan.” Jawabnya.
Dengan terpaksa aku yang menjadi speaker dalam presentasi kami. Aku pun memaparkan apa yang kami lihat dan rasakan. Mulai dari indahnya pemandangan hingga keramahan penduduk lokal. Kuperlihatkan foto-foto hasil jepretanku.
Setelah selesai presentasi, para direksi mengajukan pertanyaan.
Ce Leng: menurut saudara, daerah manakah yang paling banyak keindahan alamnya?
Aku menjawab: Kecamatan Malibu Malatus, di sana ada air terjun yang sangat tinggi, airnya sangat jernih, banyak bukit-bukit hijau.
Kir ‘ik: Bagaimana keadaan penduduk lokal? Apakah mereka masih saja primitif atau sudah lebih modern?
Ku jawab: penduduk lokal masih primitif, tapi ada beberapa yang bisa berbahasa Bodolinesia.
Bha Bi: sikap penduduknya bagaimana?
Kujawab: Ramah, pak. Ramah sekali.
Setelah sesi tanya jawab berakhir, aku dipersilahkan untuk duduk kembali. Ba Jingan dan para direksi saling bertukar pikiran, berdiskusi. Lalu Ba Jingan berdiri di atas mimbar. Ia menyampaikan bahwa perusahaan yang berada di bawah kendalinya akan membuka spot wisata di Pulau Malibu dengan menargetkan Distrik Malibu Malatus.
Kemudian di antara mereka terjadi perselisihan bagaimana menanggapi penduduk lokal.
Ba Jingan mengatakan bahwa semua itu bisa diatur, ia akan mengirim timnya untuk bernegosiasi.
Ba Jingan melihat ladang uang di Pulau Malibu. Ia optimis bahwa investasi yang ia gelontorkan akan kembali dengan cepat, dan berkali-kali lipat keuntungan yang didapat.
Ba Jingan menyakinkan para direksinya agar percaya dengan keputusan yang diambil olehnya.
Betapa kagetnya Ba Jingan mendengar laporan dari timnya bahwa Kepala Suku tidak mengijinkan Ba Jingan untuk membuka spot wisata di Pulau Malibu. Bahkan Kepala Suku mengancam, jika proyek dari Ba Jingan masih tetap dilaksanakan, penduduk Pulau Malibu siap untuk perang dengan Ba Jingan.
Betapa marahnya Ba Jingan mendengar ancaman itu. Ba Jingan tidak kehilangan akal, ia mengirim Bang Sat beserta timnya ke Pulau Malibu.
Bang Sat ditugaskan oleh Ba Jingan untuk membakar hutan yang ada di sana, bahkan membakar rumah-rumah penduduk lokal.
Akhirnya kebakaran hutan pun terjadi. Kabar kebakaran hutan itu sampai ke telinga pemerintah. Ba Jingan tanpa dosa menghampiri pemerintah, berkata bahwa Ba Jingan mampu memulihkan keadaan Pulau Malibu, asalkan Ba Jingan diijinkan untuk membuka spot wisata di sana. Ba Jingan juga berkata bahwa wisatawan yang berkunjung, akan menghasilkan income untuk negara dan untuk daerah, sehingga suntikan dana itu bisa diputar oleh pemerintah untuk keperluan lain.
Akhirnya pemerintah setuju dengan rencana Ba Jingan. Pemerintah pusat melalui pemerintah daerah memberi instruksi agar membersihkan lokasi kebakaran hutan. Para birokrat itu juga tidak segan-segan untuk mengusir penduduk lokal.
Saat itu, banyak nyawa yang melayang. Penduduk lokal yang bersikeras mempertahankan tanahnya, dimusnahkan. Sedangkan mereka yang tidak sanggup melawan pemerintah, disediakan tempat tinggal yang layak, pekerjaan yang layak, sehingga mereka bisa melanjutkan hidup mereka dengan ‘merdeka’.
Ya, ‘merdeka’ bagi mereka adalah yang membiarkan tanahnya dirampas, saudaranya dibunuh.
Apalah arti ‘merdeka’ bagi mereka yang tidak punya kuasa untuk melawan.
Malangnya Malibu.
Esai ini ditulis oleh : Hara Nirankara
Editor: SL
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.