Surakarta, SemutIbrahim – Nuswantara, sebuah kalimat yang terkesan simple namun bila ditelaah mempunyai makna teramat dalam. Sebuah gugusan kepulauan dimana hidup dan berkembangnya peradaban manusia.

Nuswantara berasal dari bahasa Dwipa, terdiri dari 2 kata, yaitu Nusa berarti pulau dan Swantara berarti kekuatan. Jadi dalam sudut pandang bahasa Dwipa Nuswantara bermakna pulau yang mempunyai kekuatan.
Kekuatannya tidak hanya terletak pada kondisi alam fisiknya saja, tetapi juga pada alam metafisiknya
Sri Maharaja Kertanegara memperkenalkan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, dalam bahasa Sansekerta, kata “Dwipa” memiliki arti sama dengan kata “Nusa” berarti pulau dan kata “Antara” memiliki arti yang sama dengan kata “antara”. dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, secara umum kata tersebut berarti “pulau-pulau perantara”. Arti frasa “pulau perantara” sama dengan makna kata “Nusantara”.
Sejarah mengungkapkan, rangkaian gugusan pulau-pulau itu dari sejak dahulu telah dikenal dengan sebutan Nusantara dan ada pula menyebutnya Nuswantara. Istilah Nusantara pernah dipopulerkan oleh Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit tahun 1336 M, dengan sumpah PALAPA, terdapat di kitab Pararaton dan sesudah peristiwa penaklukan Sedeng dan Kata berbunyi : “Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Kata Nuswantara dalam bahasa Dwipa ini lebih bermakna kepada sejarah evolusi bumi yang dimulai sejak jaman benua Pangea, ketika bumi masih merupakan satu daratan. Manusia – Bumi – Alam Semesta merupakan satu kesatuan yang saling terhubung.
Manusia dalam peradabannya mengalami banyak perkembangan dari berbagai aspek kehidupan. Dimulai dengan cara termudah dalam berburu serta mengolah makanan hingga menghasilkan cipta rasa atau kebudayaan. Dengan membentuk masyarakat yang berkelompok untuk mempertahankan hidup, hingga terbentuklah susunan masyarakat yang melahirkan adat dan seni budaya maupun.
Hal inipun dicermati oleh Panembahan Hardjonegara atau juga dikenal dengan Go Tik Swan. Dengan kesadaran penuh menjaga dan melestarikan adat budaya Nuswantara. Bukan hanya itu, pelaku serta pemerhati budaya ini pun mengembangkan Keris hingga Batik sampai tarian jawa.
Go Tik Swan juga dikenal sebagai ahli tarian jawa, ahli keris, dan pemerhati benda-benda purbakala. Terdapat 47 arca dengan perlahan namun pasti dikumpulkan berbagai Arca dari abad ke 8 hingga abad ke 14. Dengan menempatkannya pada rumah yang dibangun di tahun 1950.
Rumah ini pun menjadi saksi bisu dalam perkembangan batik Tionghoa yang dikembangkan oleh Panembahan Hardjonegara. Panembahan Hardjonegara merupakan seseorang yang mempunyai peran besar dalam kebudayaan di kota Solo, khususnya perkembangan batik di Indonesia sebagai pencipta Batik Solo Jogja yang menggabungkan teknik Batik Sogan dan Batik Pesisiran atas permintaan Presiden Soekarno, Hardjonagara meninggalkan warisan berharga dalam sejarah batik Indonesia.
Motif batik karya Go Tik Swan memiliki nilai cita rasa yang tinggi, perpaduan antara motif, pewarnaan dan teknik batik klasik Kraton yang cenderung sogan dengan pola, teknik dan pewarnaan gaya Pesisiran yang multicolour, dikenal dengan prinsip “Nunggak Semi”.
Go Tik Swan atau lebih dikenal sebagai Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hardjonagara adalah seorang budayawan dan sastrawan terkemuka Indonesia yang menetap di Surakarta. Lahir pada 11 Mei 1931, ia adalah putra sulung dari keluarga Tionghoa priyayi di Solo.
Pertemuan awalnya dengan Presiden pertama RI, Soekarno, terjadi saat acara dies natalis UI, di mana ia menari Gambir Anom gaya Surakarta di Istana Negara. Kedekatannya dengan Soekarno membuat presiden tersebut turut merancang Ndalem Hardjonegaran.
Penerus Ndalem Hardjonegaran, Kanjeng Raden Riyo Aryo (KRRA) Hardjosoewarno, menjelaskan bahwa rumah ini didirikan pada tahun 1950 ketika Go Tik Swan masih berkuliah di Universitas Indonesia. Awalnya, orang tuanya memasukkannya ke Fakultas Ekonomi, namun minatnya yang besar pada seni tari, gamelan, dan wayang kulit membuatnya beralih ke Fakultas Sastra Jawa.
“Rumah ini, arsiteknya Bung Karno. Karena dekat sekali Bung Karno dengan Pak Hardjonegara,” ungkap Hardjosoewarno (3/3/2025)
Lahirnya motif Batik Indonesia juga berkat perintah Soekarno untuk menyatukan motif batik dari berbagai daerah di Indonesia. Go Tik Swan mengadakan pameran Batik Indonesia pertama kali pada tahun 1956, yang dihadiri oleh Soekarno dan sejumlah kepala negara, termasuk Raja Kamboja dan Kaisar Jepang.
“Semua batik yang dipamerkan itu juga dihadiahkan ke teman-temannya Bung Karno, menyebar hingga museum-museum di luar negeri menyimpan batik karya-karya beliau,” tuturnya.

Ada pula di lingkungan Ndalem Hardjonegaran sebuah pendopo agung yang berusia -+ 300 tahun. Pendopo tersebut dibuat era Pangeran Puger sekitar tahun 1700 Masehi.
Sunan Pakubuwana I atau Pangeran Puger terlahir dengan nama Raden Mas Darajat, ia adalah putra Amangkurat I dan cucu dari Sultan Agung yang lahir di Plered, Yogyakarta, pada 1648. Ayahnya merupakan Raja Mataram keempat, Pangeran Puger terlahir dari permaisuri kedua, Ratu Wetan. Ratu Wetan berasal dari keluarga Kajoran, keturunan Pajang. Susuhunan Mataram ketujuh yang memerintah antara tahun 1704 – 1719.
Terdapat keunikan bila melihat bilah kayu dari pendopo tersebut, tiang atau pilar dari pendopo mempunyai bentuk dan besar yang sama. Baik kayu penopang didalam maupun diluar.
Menyatunya abdi dan raja merupakan aktualisasi dari gerak menyatu (memusat) dan menyebar. Artinya, dalam gerak memusat, yang imanen menuju pusat, yang transenden. Inilah jalan ke atas, manunggaling kawulo dengan Gusti-nya.
“Ini juga bermakna manunggalnya (menyatunya) antara kawula (abdi) dengan gusti (Raja/Wakil Tuhan di bumi).” Ujar Hardjosoewarno.

Makna spiritual, historis, dan artistik yang signifikan
Sebagai seniman, kolektor, dan pelestari budaya yang sepanjang hidupnya telah berdedikasi untuk mengumpulkan dan melestarikan benda-benda bersejarah, termasuk berbagai keris, lukisan, dan arca mempunyai tanggung jawab agar dapat melestarikan adat dan seni budaya Nuswantara.
Koleksi artefak yang dimiliki berjumlah 47 arca bersejarah dari keluarga Panembahan Hardjonagoro (Go Tik Swan). Arca yang mencerminkan warisan budaya nuswantara mencakup sejumlah mahakarya langka, seperti sepasang Arca Garudea, Arca Resi Agastya, dua Arca Durga, satu Arca Buddha berukuran besar, serta Arca Bima yang memiliki tinggi lebih dari dua meter.
Pada tanggal 23 Januari 2025 arca bersejarah dari keluarga Panembahan Hardjonagara (Go Tik Swan) dihibahkan kepada negara dalam acara serah terima yang berlangsung di Ndalem Hardjonegaran, Jl. Yos Sudarso No. 176 Surakarta. Puluhan arca yang diserahkan kali ini merupakan koleksi yang dikumpulkan oleh K.R.T. Hardjonagoro sejak 1950 hingga 1980.
Pada tahun 1985, ia telah menghibahkan sebagian koleksinya kepada negara sebagai bentuk kecintaannya terhadap tradisi dan sejarah bangsa Indonesia.
Acara serah terima ini berlangsung khidmat dengan nuansa adat Jawa, diawali dengan wilujengan, dan simbolis penyerahan Arca Nandi dari ahli waris, K.R.R.A Hardjosoewarno kepada Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan.

Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk memuliakan koleksi ini melalui pameran permanen yang dilengkapi narasi edukatif di Gedung Kementerian Kebudayaan, setelah terlebih dahulu dibawa ke Museum Nasional Indonesia untuk dilakukan kajian bagi kepentingan pelestarian budaya dan pendidikan.
“Kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga pondasi untuk membangun masa depan bangsa,”
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.