Oktober 9, 2026

Cara Tuhan menginformasikan bagian dari semesta sering berbeda dengan cara sains walau mengungkap obyek yang sama.

Contoh, dalam penjelasan sains pada ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), tekanan udara mulai menurun dan oksigen makin menipis. Artinya makin jauh dari bumi kualitas oksigen makin menipis dan di level ketinggian tertentu oksigen sudah tidak ada dan disebut ruang hampa udara.

Artinya ketika bicara semesta maka penjelasan sains fokus dan spesifik bicara obyek semesta, atau penjelasannya bersifat eksplisit, tidak memakai misal bahasa metafora.

Kita baca surat al an’am 125 ;
“… Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit….”

Mengapa dada bisa sesak lagi sempit ketika mendaki langit atau ketinggian? Orang yang faham soal udara yang melapisi bumi dan kualitas oksigen di ketinggian tertentu akan faham makna yang tercantum dalam ayat tersebut.

Nah, dalam ayat yang tidak spesifik bicara obyek sains bisa terselip informasi tentang bagan alam yang merupakan obyek sains tapi itu pun bagi orang yang dapat menafsirkannya tentunya. Orang di masa silam yang belum tahu soal kualitas udara di ketinggian tentu tak akan faham makna ayat ini.

Apakah nabi Muhammad SAW tahu soal masalah ini (kualitas udara di ketinggian) sebelum ayat ini diturunkan?

Yang umum masyarakat Arab saat itu ketahui adalah beliau tidak belajar secara khusus sebagai persiapan sebelum Al-Qur’an diturunkan. Ini salah satu poin yang membuat orang mengimani bahwa kitab suci adalah wahyu Ilahi. Bayangkan kalau kitab suci diturunkan pada seorang pelajar yang telah belajar secara khusus sebelum menerima wahyu maka orang akan mencurigai apa yang kelak diwahyukan kepadanya.

Dengan demikian kitab suci memberi ruang tafsir bagi penafsiran manusia hingga penjelasannya tidak selalu serba bersifat ekplisit itu tiada lain karena kitab suci memberi RUANG BERPIKIR bagi manusia.Kitab suci tidak selalu berisi penjelasan penjelasan serba formal dan ekplisit seperti kamus atau ensiklopedia yang sifatnya tinggal telan dan hafal.

Kitab suci menyuruh manusia berpikir melalui disediakannya ruang penafsiran dan tidak menyuruh telan hafal telan hafal seperti orang membaca kamus atau ensiklopedia.

Contoh lain perihal ayat yang bicara asal-usul terciptanya alam semesta ;

” … bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya… (QS Al-Anbiya Ayat 30).

Bagaimana memaknai “bumi dan langit” dalam ayat tersebut, dan bagaimana cara terpisahnya. Maka orang di masa silam mungkin akan kesulitan menafsir makna ayat ini secara lebih jauh dan lebih jelas karena infrastruktur ilmu pengetahuan alam yang memadai belum tersedia saat itu.

Maka majunya ilmu pengetahuan tentang alam yang diperoleh manusia bisa membuat manusia bisa faham makna ayat tertentu yang di masa silam belum terkuak, walau beberapa orang yang sentimen menyindir dengan istilah “cocoklogi”. Tetapi faktanya, tugas mencocokkan suatu ayat dengan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan memang adalah tugas seorang penafsir.

Sedang substansi ayat tidak bersifat mencocokkan karena ayat lebih dahulu hadir sebelum ilmu pengetahuan alam atau sains jauh berkembang.

Jadi harus dibedakan antara ayat yang tidak mencocokkan karena telah lebih dahulu hadir sebelum sains berkembang dan tugas penafsir adalah mencocokkan dengan ilmu pengetahuan yang telah dia miliki.

Bisa disebut kitab suci yang diturunkan di masa silam jauh sebelum ilmu pengetahuan manusia berkembang telah memberi informasi bahan yang kelak bisa digali maknanya setelah ilmu pengetahuan manusia berkembang pesat. Maka isi dari ayat tertentu dari kitab suci bisa tidak difahami di saat kitab diturunkan tapi bisa diketahui saat ilmu pengetahuan manusia lebih komplit.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

~Pena Ikhwan~


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

4 thoughts on “Cara Tuhan Menerangkan Semesta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca