
Al-Hadits
Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.” (HR at-Tirmizi).
SEMUT IBRAHIM | Jakarta – Miftah Habiburrahman atau yang lebih dikenal dengan panggilan “Gus Miftah”, merupakan salah satu loyalis Prabowo di pilpres 2024 yang baru berlalu. Miftah juga pemilik Pondok Pesantren Ora Aji, Jawa Tengah.
Usai menghadiri undangan di rumah Prabowo, kepada awak media Miftah sempat menyampaikan alasannya dipanggil.
Miftah menegaskan bahwa ia tidak disuruh untuk menjabat sebagai menteri atau wakil menteri. Ia mengatakan Prabowo memberikan arahan kepadanya untuk bidang moderasi serta toleransi.
“Bapak perintahkan untuk lebih banyak fokus di bidang moderasi, toleransi, dan semacamnya,” kata Miftah di depan rumah Prabowo, Selasa (15/10/2024).
Kehadiran dan keterangan Miftah yang akan di percaya Prabowo untuk menangani bidang toleransi dan moderasi tersebut sontak mengundang tanggapan negatif karena publik secara jelas melihat aksi Miftah menggojlog atau menggoyang-goyang kepala istrinya atau menoyor (istilah Betawi-red) kepala istrinya di sebuah acara HARLAH Pondok Pesantren Ora Aji yang di asuhnya.
Pada waktu itu beliau bersama sang istri, para tamu undangan dan santri sedang menikmati penampilan Deny Caknan. Entah mengapa, tiba-tiba beliau menyentuh kepala istrinya, bukan sentuhan biasa sebagaimana seorang suami, tapi ini toyoran yang bertubi-tubi, sampai sang istri hampir jatuh dan kerudungnya agak berantakan. Meskipun kemudian Miftah mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan.
Pembaca bisa melihat videonya yang bertebaran, lihatlah berkali-kali, apakah itu sebuah candaan? Candaan yang tidak seperti candaan pada umumnya.
Kepada Semut Ibrahim, Lia Fidyarini, pengamat sosial, perempuan yang juga seorang istri, kepala rumahtangga memberikan tanggapannya.
Miftah seperti sedang loss control, atau mungkin memang watak aslinya seperti itu. Sang istri yang demi menjaga nama baik suami, setuju saja tidak membantah di bilang itu candaan.
Tapi pasti jauh di dalam hatinya merasa risih di perlakukan sedemikian rendahnya oleh suaminya sendiri, dan itu di depan orang banyak.
Apa gak malu dan hancur perasaannya? Seorang suami yang harusnya memperlakukannya seperti seorang Ratu, menghargainya di depan orang malah mempermalukannya.
Mana ada ratu di toyor kepalanya dan di toyor mahkotanya di atas singgasana?
Parahnya orang yang sama telah di panggil oleh Bapak Presiden terpilih untuk di berikan tugas di bidang keagamaan untuk mengurusi Toleransi dan Moderasi.
Apa gak terlalu berlebihan?
Selanjutnya Kak Lia mengingatkan tentang hadist Rasulullah yang berbunyi:
Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.” (HR at-Tirmizi).
Melihat rekam jejak perlakuan kepada sang istri, tentunya kita menjadi ragu apakah Miftah ini akan dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Karena tugas tersebut bukanlah tugas main-main atau candaan.
Mengurus toleransi dan moderasi dalam beragama adalah sesuatu yang sangat berat. Bukan hanya bertanggungjawab kepada negara dan Pak Prabowo selaku presiden. Tapi juga bertanggungjawab kepada Allah SWT.
Karena batasan-batasan toleransi dan moderasi itu sangatlah rancu. Toleransi beragama bisa saja kebablasan apabila seseorang tidak punya iman yang kuat.
Gak heran ada yang sholawatan di gereja atau menyanyikan lagu gereja di masjid. Hal yang jelas-jelas sudah lompat pagar, tapi ada saja yang melakukannya, bahkan menganggap sebagai toleransi lalu dibenarkan. Kan keblinger? Sepertinya Miftah ini gak beda dengan mereka.
Sedangkan mengenai moderasi. Entah apa yang di maksud pemerintah tentang Moderasi beragama,
Karena Allah berfirman : “Masuklah kalian ke dalam Islam secara penuh/secara totalitas (udkhulû fi as-silmi kâffah)” (QS. Al-Baqarah [2]:208)
Jadi, sebagai muslim, kita harus beragama secara totalitas. Bukan setengah-setengah dan bukan sedang-sedang saja (moderat). Yakni mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jadi moderasi di sini juga sangat rancu maknanya. Standar moderasi bagi “Gus Miftah” yang perlu di pertanyakan. Karena akan menjadi tanda tanya besar, kembali lagi kepada rekam jejaknya mentoyor istri tadi.
Seandainya mentoyor istri di anggap biasa dan bahkan di anggap “moderasi”, maka semakin banyak suami-suami gak tau diri yang akan melakukan hal yang sama kepada istrinya. Kan jadi ambyar kalau begini.
Jadi Miftah memang bukan orang yang tepat untuk menduduki posisi ini.
Mungkin beliau punya pengetahuan agama yang luas, tapi belum tentu tinggi ilmu agama dan adabnya dengan keimanan yang kuat, sehingga layak menentukan standar, mana yang bisa di sebut moderasi dan mana yang bisa di sebut toleransi beragama di Republik ini.
Beginilah kalau jabatan di bagi-bagi berdasarkan jarak kedekatan dengan penguasa dan timbal baliknya.
Jadi, siap-siap saja dengan kejutan-kejutan kedepannya. Mungkin saja merayakan Lebaran di gereja atau merayakan natal di Masjid di anggap biasa.
Semoga Allah SWT terus menguatkan dan menjaga kita semua, menjaga Indonesia Raya, dan kita semua mampu kembali kepada-Nya dengan Husnul khatimah.
Aamiin…
Kontributor: Kak Lia Fidyarini (Lia Amalia)
Editor: Bams
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.