Oktober 10, 2026

Otto Iskandar Dinata

Raden Otto Iskandar Dinata, si Jalak Harupat

Raden Otto Iskandar Dinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ayahnya, Haji Rachmat Adam adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nata Atmadja. Privilege dari keluarga bangsawan menjadikannya menempuh pendidikan terbaik.

Otto Iskandar Dinata, meskipun populer dan nyaring didengar, tapi jarang dikenal. Demikianlah gambaran dari sosok pahlawan nasional asal Muhammadiyah kelahiran Bandung.

Wajahnya tercetak pada lembar mata uang Rupiah pecahan 20 ribu, emisi tahun 2004 hingga 2021. Sedangkan namanya dipakai sebagai salah satu ruas jalan paling ramai dan terkenal di Jakarta dan Bandung, yaitu jalan Otista (Otto Iskandardinata).

Tapi siapa yang kenal perjuangannya untuk bangsa Indonesia? Jejak Otto tertinggal dalam sejarah perjalanan kemerdekaan, berdirinya PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), hingga berdirinya TNI (Tentara Nasional Indonesia). ~Bams

Jasad Otto Dilarung Setelah Kepalanya Di Penggal

Tanyakan kepada pasir dan air Pantai Mauk, Tangerang, yang menjadi saksi bisu atas aksi Ubel-Ubel Hitam. Deru ombaknya memberi pesan dan cerita tentang nasib tragis seorang Otto lskandar Dinata. Sebuah peristiwa yang nyaris hilang ditelan ombak.

Dikisahkan seorang nelayan kecil bernama Jamidi, bertinggal di tepi Pantai Ketapang, Mauk, Tangerang. Karena kepolosannya, dia tidak tau menahu apa pun kehidupan Jakarta pada masa perjuangan kemerdekaan 1945. Yang diketahuinya hanyalah laut yang maha luas. Ombaknya yang keras dan ikan yang harus kutangkap sebanyak-banyaknya untuk makan anak dan istriku.

Sore itu, di bulan Oktober 1945, saat berangkat menangkap ikan, ia (Jamidi) mendengar perbincangan di warung kopi. Orang-orang membicarakan bahwa Pemerintah RI di Tangerang yang dipimpin oleh Bupati Agus Padmanegara, dihancurkan oleh Usman.

Usman adalah komunis yang melancarkan gerakan bawah tanah di Tangerang. Usman dan komplotannya menolak Pemerintah RI. Mereka membentuk sebuah Laskar Ubel-Ubel Hitam. Melakukan aksi teror dengan membunuh, merampok harta penduduk Tangerang, dan sekitarnya seperti di Mauk, Kronjo, Kresek, dan Sepatan.

Jamidi si nelayan menjadi satu-satunya saksi hidup yang melihat kejadian pada tanggal 12 Desember 1945. Usman dan komplotannya membubarkan aparatur pemerintah tingkat desa sampai kabupaten. Puncaknya, mereka membunuh pejabat penting di Mauk.

Pagi itu, 20 Desember 1945, matahari belum begitu tinggi. Kira-kira masih pukul 08.30 WIB. Dari kejauhan di balik semak pantai, ia (Jamidi) melihat salah satu komplotan Usman bernama Mujitaba, memancung kepala seorang lelaki di tepi pantai Ketapang, Mauk, Tangerang. Jasadnya kemudian dilarung ke laut dan hilang.

“Sungguh aku tidak tahu siapa orang yang dipancung itu. Aku hanya menduga pastilah ia sangat dimusuhi komplotan Usman,” ujar Jamidi.

14 tahun kemudian, semua menjadi jelas. Mujitaba (komplotan laskar Ubel-Ubel Hitam) yang memancung kepala seseorang, yang bertepatan pada tanggal 20 September 1945. Itu adalah pejabat penting Pemerintah RI bernama, Otto lskandar Dinata.

Ternyata, Otto Iskandar Dinata adalah Menteri Pertahanan RI pertama. Otto juga merupakan salah satu pengurus Budi Utomo (awal berdiri, 20 Mei 1908) dan salah satu yang berjasa dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

14 tahun silam, setelah pemancungan tersebut. Keluarga Otto mengambil gundukan pasir dari pantai Ketapang, Mauk. Untuk dikubur di makam Pahlawan, Bandung. Perbuatan tersebut dilakukan karena jasad Otto tak ditemukan.

Menjelang akhir 1952, warga Bandung menyaksikan pemakaman kembali tokoh Pasundan Otto lskandar Dinata. Disebut pemakaman kembali karena jenazahnya sebetulnya tidak pernah ditemukan.

Sentot lskandar Dinata, salah satu putra Otto, tiba di Bandung dengan memanggul sebuah peti berisi pasir dan air laut sebagai simbul jenazah Otto. Pasir dan air laut itu dimasukkan ke dalam peti diiring doa seorang Penghulu Jaksa Tangerang. Dalam rombongan terdapat Menteri Perhubungan Djuanda, lr. Ukar Bratakusumah, Dr. Diungju serta Letnan Kolonel Sukanda.

Peti Jenazah berisi pasir dan air ini dimakamkan pada hari Minggu, 21 Desember 1952 di Taman Bahagia, daerah Lembang. Pemakaman dimulai pukul 10.00 pagi, dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Hingga kini, anak cucu Otto, para peziarah dari berbagai penjuru Indonesia, hanya bisa menziarahi pasir dan air Pantai Mauk yang menjadi saksi kebengisan gerombolan PKI UbeI-Ubel hitam.

Bagaimanapun, pasir dan air pantai Mauk, adalah satu-satunya saksi bisu yang hampir terlupakan. Hanya pasir dan air pantai itu yang bisa dihadirkan di makam Otto. Di pemakaman pahlawan Bandung pun, Otto hanyalah segenggam pasir dan air yang bisa menguap kapan saja. Semua gara-gara keganasan laskar Ubel-ubel Hitam buatan Usman.

Semoga kisah sejarah ini tidak terlupakan. Di mana pun dan kapan pun gerombolan PKI tetaplah membahayakan. Baik agama, bangsa, maupun negara. Maka dari itu waspadalah!. Wallahu Ta’ala ‘Alam.

Sumber : Buku, Ayat-Ayat Yang Di Sembelih, hal 29-31, cet II – Anab Afifi, Thowaf Zuharon


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca