SEMUT IBRAHIM | JASMERAH – Cigrok adalah sebuah desa yang terletak di sebelah selatan Takeran, Madiun, Jawa Timur. Cigrok menjadi saksi bisu kekejaman PKI.
Di desa Cigrok, terdapat sumur tua yang di gunakan PKI untuk mengubur hidup-hidup atau mati para kyai dan santri, tepatnya dibelakang rumah To Teruno (bukan pengikut PKI), justru To Teruno lah yang melaporkan peristiwa keji di sumur tua belakang rumahnya oleh PKI tersebut kepada kepala desanya.
Tetangga To Teruno seorang santri bernama Muslim juga menyaksikan kekejian PKI malam dini hari itu.

Cigrok hanyalah satu tempat dari 24 desa lokasi pembantaian para kyai dan para santri. Ya memang desa-desa ini adalah kampung santri.
Di sumur tua Cigrok, Kyai Imam Sofwan dari Kebonsari, termasuk diantara korban keganasan kawanan PKI di bawah komando Muso pada tahun 1948. Kyai ini dipukuli lalu dimasukkan ke dalam sumur itu. Demikian kisah yang saya baca dan sudah menjadi cerita umum masyarakat di sekitar Cigrok.
Meski sudah dihajar dan dihujani aneka benda-benda keras dari atas sumur, Kyai Imam Sofwan belum mati. Dalam situasi kritis itu, refleks sang kyai hanya satu: memasrahkan diri kepada Sang Khalik. Lalu ia melantunkan suara azan.
Muslim, seorang warga (tetangga To Teruno) yang tinggal tidak jauh dari sumur itu, mendengar suara azan sang kyai.
Malam dini hari itu, memang mencekam. Terdengar suara gaduh para pasukan FDR/PKI yang membentak-bentak para tawanan. Ia hanya bisa mengintip dari bilik rumahnya.
Muslim sepertinya mengenali suara azan dari salah satu sumur itu. Semakin dilamatkan telinganya, ia semakin yakin pemilik suara azan itu adalah Kyai Imam Sofwan dari pesantren Kebonsari.
Karena sudah kelelahan, Kyai Imam Sofwan, akhirnya meninggal bersama tumpukan mayat-mayat lain yang penuh anyir darah.
Tidak jauh dari sumur itu, kedua putra Kyai Imam Sofwan, yaitu Kyai Zubair dan Kyai Bawani, juga menjadi korban pembantaian di sebuah sumur di Desa Kepuh Rejo. Achmad Idris, yang ketika itu sudah ditawan tentara FDR/PKI, menyaksikan penjagalan biadab tersebut dari kejauhan.
Meski sayup-sayup, dia (Muslim-red) sangat mengenal suara azan KH Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu. Sebab, ia sering mendengarkan pengajian-pengajian kyai tersebut.
Idris menyaksikan dengan mata kepalanya. Dengan tangan terikat mereka dihadapkan ke sumur. Para tawanan itu satu persatu dihantam dengan pentungan. Mereka menjerit lalu roboh ke dalam sumur. Tak semuanya langsung roboh dan tewas. Ada pula yang masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka menggapai-gapai, mencari pegangan.
Melihat mereka para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Hal yang sama sebagaimana dialami Kyai Imam Sofwan beserta kedua anaknya Kya Zubair dan Kyai Bawani yang masih hidup ketika dimasukkan ke dalam sumur.
Korban sumur Cigrok setidaknya berjumlah 22 orang. Di antara para korban itu, selain Kyai Imam Sofwan, adalah Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari PSM Takeran. Addaba’ adalah guru dari Mesir yang ditugaskan mengajar di Takeran. Imam Faham adalah adik Muhammad Suhud yang juga jadi korban keganasan PKI.
Imam Faham sendiri sebetulnya ikut mengiring Kyai Imam Mursyid Muttaqin, saat dibawa mobil PKI selepas Jumat, 17 September 1948. Namun, di tengah jalan, kyai dan pengawalnya rupanya dipisah. Imam Faham diturunkan di tengah jalan, dan akhirnya ditemukan dikubur di lubang pembantaian Cigrok.
Tak hanya para kyai dan santri yang menjadi korban. Camat Takeran Prijo Utomo juga dijagal di sumur Cigrok bersama Komandan Polisi Takeran, Martowidjojo beserta sejumlah anak buahnya.
Disarikan dari Catatan “Zona Perang” dan buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” halaman 70-73, cetakan ke 4. Khasanah Anab Afifi.
Editor: Bams Heri Wibowo @SL
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Kata Jokowi yang salah itu TNI PKI yang benar tidak bersalah makanya anak ketunan PKI diberi konpensasi bantuan oleh Jokowi dengan uang negara dulu semua yang anehnya semua pejabat tidak ada yang berani membantah dari pangab menhan danjen Kopasus menko Polhukam takutsama Jokowi saat itu