
Ibu, adalah sumber dan poros kehidupan, yang ditangannyalah kebahagiaan manusia dipertaruhkan.
Artikel ini penulis posting bertepatan dengan HARI IBU, satu hari dari ratusan bahkan ribuan hari yang telah kita lalui dalam kehidupan. Hari yang di abadikan & di peringati setiap tahun namun kita seringkali melupakan esensi kemuliaan seorang Ibu, seolah penghargaan kepada seorang ibu hanya ceremonial belaka. 22 Desember 1928 dimana hari itu adalah hari pertama konggres perempuan Indonesia pertama yang kemudian di tetapkan sebagai Hari Ibu.
Sesungguhnya setiap hari adalah milik Ibu, Ibu telah membersamai kita sejak kita masih berupa segumpal darah, Ibu mengandung kita selama sembilan bulan kemudian dilahirkanmya kita dengan bertaruh nyawa. kita di besarkan dalam asuhan Ibu dengan penuh cinta dan kasih sayang sehingga kita bertumbuh menjadi “kita” yang sekarang.
Namun acap kali kita tidak menyadari betapa momentum kebersamaan dengan ibu adalah anugerah. sementara banyak diluar sana banyak jiwa-jiwa yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ibu. Sebagian dari mereka tak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya secara langsung. Beruntung bagi yang masih menemukan “Ibu” wanita mulia ini disampingnya.
Sebagai Muslim, menghormati Ibu adalah mutlak wajib. Tidak ada hari Ibu, karena setiap hari adalah bakti untuk Ibu. Imam al-Thabarani dalam kitab “Al-Mu’jam ak-Kabir” (Ensiklopedi hadits) menyebutkan; bahwa telah disahihkan oleh Imam Al-Hakim, disepakati oleh Imam al-Dzahabi dan diakui oleh Imam al-Mundziri sebuah hadits dari Muawiyah bin Jahimah : “dia menemui Nabi dan menyampaikan keinginannya ikut perang. Nabi bertanya : “apakah kamu masih punya ibu?” Ia menjawab : ”Ya, masih”. Nabi mengatakan: “temani dan berbaktilah kepadanya. Karena syurga ada di bawah kakinya.”
Syeikh Muhammad al-Ghazali menuliskan syair tentang seorang Ibu dalam kata-kata yang indah : “Seorang ibu adalah semilir angin sejuk yang menghembuskan nafas kedamaian dan kasih sayang ke seluruh ruang kehidupan. Dan ia sangat berpengaruh dalam pembentukan manusia yang baik”. (Muhammad Syeikh al-Ghazali, As-Sunnah an-Nabawiyyah Baina ahl al-Fiqh wa ahl al-Hadits, terbitan Dar as-Syuruq, Beirut, 1988, hlm.125.
Nabi Muhammad SAW ketika ditanya seorang sahabatnya mengatakan: “Siapakah orang yang paling utama mendapat perlakuan yang baik? Nabi menjawab: “Ibumu”. Sesudah itu? Nabi mengatakan: ”Ibumu”, lalu setelah itu? Nabi sekali lagi menegaskan: ”Ibumu”. Kemudian? Nabi mengatakan: “ayahmu”. (Shahih Bukhari dan Muslim). Nabi yang mulia, mengulang-ulang kata “ibumu” sampai tiga kali. Boleh jadi saat beliau mengucapkannya dengan nada naik perlahan dari nada rendah ke nada sedang lalu meninggi. Sesudah itu kata “kemudian ayahmu” diucapkan dalam nada datar. Jika demikian, maka Nabi sungguh-sungguh ingin agar audien yang diajak bicara benar-benar menghormati ibu.
Pernyataan Nabi di atas, merupakan penjelasan atas firman diturunkan Allah SWT : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang terus semakin lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman, [31]:14). Pada ayat yang lainnya Allah SWT berfirman : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf, [46]:15).
Naguib Mahfouz, pemenang Nobel Sastra, berkebangsaan Mesir, menulis syair yang indah untuk sosok Ibu : “Jangan biarkan masa bayimu melupakan. Betapa melelahkannya pekerjaan ibumu setiap hari demi kesenanganmu. Ia mengandungmu di dalam rahimnya selama sembilan bulan, mendekapmu erat-erat… memberimu makan dengan air susunya. Janganlah membuatnya marah karena Tuhan mendengar keluhannya dan menjawab permohonannya”.
Ibu adalah sumber yang di tangannya terletak masa depan peradaban manusia, maka tergantung kita bagaimana memperlakukannya. Jika kita memandangnya sebagai manusia yang paling terhormat di muka bumi ini dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya, dengan penghormatan yang penuh kepadanya, maka masa depan kemanusiaan yang sejahtera akan segera lahir. Sebaliknya jika kita menganggapnya rendah, hanya karena dia seorang perempuan, lalu memperlakukannya dengan ucapan atau tindakan yang menyakitkan hatinya, melakukan tindakan kekerasan terhadapnya, baik verbal maupun non verbal maka dunia kemanusiaan akan hancur berantakan.
Ibu adalah manusia yang sering lupa mendoakan dirinya. Energi doa-doanya dihabiskan untuk anak-anaknya. Terimakasih Ibu
Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan bawalah kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.