
Fear Mongering
“Adalah tindakan yang disengaja untuk menanamkan rasa takut pada oranglain”. (Bams). Lantas apa hubungkaitnya dengan keadaan kita saat ini?, apa korelasinya dengan paslon Capres dan Cawapres di tahun politik ini. Dimana Indonesia akan menggelar pesta demokrasi dalam Pemilu serentak tidak lama lagi.
Kampanye menjual ketakutan (fear mongering atau scaremongering) adalah sebuah kampanye berpadu dengan propaganda plus menyebar rumor atau desas-desus yang menakutkan, cara-cara penggunaan rasa takut didasari dan atau bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan tindakan publik terhadap suatu tujuan atau keputusan akhir tertentu. Misalnya: “Kalau si manis menang pilpres maka Indonesia bisa menjadi seperti suriah”, atau “wajar saja pak samsyul menang, survey selama ini juga mengatakan demikian”. dll.
Objek yang ditakuti atau subjek kadang-kadang memang harus berlebihan, dan penjualan pola rasa takut biasanya salah satu dibuat dari pengulangan yang masif, terus-menerus sehingga memperkuat efek dimaksudkan taktik ini, kadang-kadang dalam bentuk labirin atau lingkaran menyeramkan seperti lingkaran setan. (Bams Heri Wibowo – Redaksi)
Baca juga “Pesan Natal Dari Palestina”
Dani – Pemerhati Sosial Politik Yogyakarta mengulasnya dalam opini yang bisa kita cermati bersama disini. Cekidot
FEAR MONGERING
Tulisan ini adalah pendapat pribadi saya, tentang kondisi yang akan terjadi jika Prabowo S dan Gibran RR terpilih sebagai presiden dan wakil presiden RI. Tulisan ini dibuat untuk membuat kita semua berpikir ulang untuk memilih mereka berdua. Tulisan ini sebagai counter argument untuk semua gimmick gemoy, sukacita, riang gembira dan move on.
Berkaca pada pengalaman debat capres dan debat cawapres, terlepas apapun yang Prabowo dan Gibran sampaikan, terlepas dari argumen dan kontra argumen yang mereka berdua sampaikan, saya melihat ada kecenderungan uncontrolled emotional outburst. Yang tua tampak arogan dengan menunjuk-nunjuk lawan bicara. Yang muda tampak provokatif dengan menjadi ‘pemandu sorak’ di kedua debat. Dan ini adalah wajah dari orang-orang yang mungkin -jika mereka menang- akan menjadi pucuk pimpinan di Republik Indonesia (jika Anda tidak segera berpikir ulang).
Lalu apa yang membuat kita harus berpikir ulang?
Bukankah sejak ada amandemen, kekuasaan presiden sudah direduksi dan diseimbangkan dengan menguatnya kekuasaan legislatif dan yudikatif?
Jangan lupa, besaran gaji anggota DPR dan gaji hakim, ditentukan melalui Peraturan Pemerintah. Jangan lupa, besaran tunjangan anggota DPR dan hakim ditentukan oleh Keputusan Presiden.
Jangan lupa, sebagian (besar) anggota DPR adalah orang-orang yang ‘belum selesai dengan hidupnya’. Mereka masih mencari penghasilan. Penghasilan yang (jika jujur dan tidak mencari proyekan) ditentukan besarannya oleh pemerintah cq. presiden (dan wapres jika presiden berhalangan tetap). Dengan bargaining position seperti itu, apakah legislatif dan yudikatif bisa fair dalam menilai dan/atau mengawasi tindak tanduk pemerintah? Tidak.
Ini bisa menjadi lebih parah, jika koalisi pengusung presiden mendominasi legislatif. Ketua umum partai jadi presiden, ketua umum partai jadi menteri. So, lupakan saja fungsi check and balance dari legislatif. Anggap saja kewenangan pemerintah dengan persetujuan DPR yang diatur di dalam UUD sama dengan kewenangan pemerintah saja. Karena DPR pasti setuju.
Ketiadaan fungsi check and balance dari legislatif, ditambah dengan kecenderungan uncontrolled emotional outburst dari presiden (yang jika berhalangan tetap digantikan wapres), mestinya membuat kita berpikir ulang untuk mencoblos Prabowo dan Gibran dalam Pilpres tahun berapapun.
Pikir ulang sebelum memilih Prabowo. Dia punya hutang masa lalu yang belum diselesaikan. Sebagai salah satu ketua umum dari partai yang dominan di DPR, dia bisa mengusulkan untuk membentuk peradilan HAM untuk memeriksa dan memutus semua ‘gosip 5 tahunan’ yang melekat pada dirinya.
Pikir ulang sebelum memilih Gibran. Dia bukan anak muda terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Dia ada di kertas suara karena dia adalah anak presiden. Anak presiden yang konon kabarnya berprestasi, bukan anak muda yang berprestasi dan kebetulan anak presiden.
Pikir ulang sebelum memilih mereka berdua. Mereka adalah pasangan yang menikmati keputusan yang diambil dalam kondisi ada pelanggaran etik.
Formulanya dapat disimpulkan sebagai berikut: Jika mereka berdua terpilih, Indonesia akan dipimpin oleh sepasang manusia dengan kecenderungan uncontrolled emotional outburst, penikmat niretika, ketiadaan check and balance legislatif (dan yudikatif). Bayangkan formula di atas sebelum Anda menentukan pilihan. Bayangkan formula di atas saat Anda mulai terbuai dengan move on, gemoy, hilirisasi, dsb.
Baca juga “BRONIES SEBAR 5000 BANNER AMIN DI JABODETABEK”
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
2 thoughts on “FEAR MONGERING”