Oktober 10, 2026
Ilustrasi “Saling Bidik”

Sebagai orang yang berada dipinggiran luar pagar coklat, saya hanya ingin sedikit mengulas tentang fenomena yang terjadi beberapa tahun yg lalu, tepatnya ketika pada 22 Januari 2019 Komjen Arief Sulistyanto dimutasi dari Kabareskrim Polri menjadi Kalemdiklat Polri.

Hanya 5 bulan 1 minggu saja Komjen Arief Sulistyanto menempati jabatan Kabareskrim, padahal posisi Kabareskrim merupakan salah satu level yang diperhitungkan untuk mencapai Jabatan Kapolri.

Sebagai bukan ordal Trunojoyo, tidak etis bicara terlalu jauh tentang apa yang terjadi dibalik mutasi Jabatan Kabareskrim yang begitu cepat menggeser Komjen Arief Sulistyanto, jadi cukup kutip dari media saja alasan-alasan normatif klise yang berkaitan dengan mutasi tersebut. Toh memang hal seperti itu umumnya selalu dibantah oleh institusinya sendiri.

Namun satu hal saja yang dapat diyakini publik, bahwa mutasi jabatan strategis dalam tempo 5 bulan 1 minggu itu pasti bukan tanpa sebab yang melatarbelakanginya.

Tak mungkin pergeseran suatu jabatan paling bergengsi terjadi begitu cepat tanpa adanya konstelasi tarik menarik diantara faksi-faksi yang ada disana, mereka yang berada di dalam lingkaran pasti tahu semua itu.

Bahkan mengutip Menkopolhukam, Mahfud MD sendiri membenarkan bahwa di institusi Polri terdapat banyak faksi yang memiliki kekuasaan dan kepentingan sendiri-sendiri.

Artinya, dari fenomena yang terjadi, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa manusia boleh berencana, namun Tuhan punya warna sendiri dalam menentukan jalannya suatu proses dalam kehidupan.

Rencana boleh disusun, strategi boleh dirancang, siasat boleh diatur, namun proses dan hasil akhir belum tentu sesuai dengan perhitungan yang dibuat. Ada kekuasaan Tuhan disana.

Dalam kompetisi memperebutkan jabatan yang dipengaruhi dominasi kekuatan politik, bahkan terhadap rekan sejawat satu letting sekalipun, idiom “kanibalisme dan jeruk makan jeruk” lumrah terjadi.

Jadi bagi para peserta kompetisi jabatan politik, jangan pernah merasa jumawa, sombong dan arogan karena merasa akan aman dan sukses dengan muslihat serta kecurangan yang dirancang secanggih dan semutakhir apa pun. Itu berlaku pada semua jabatan politik, termasuk Panglima TNI hingga Presiden dan Wakil Presiden, karena Perang Bintang itu nyata adanya, dan diatas semua Bintang-Bintang itu ada Sang Pemilik Bintang yang paling berhak menentukan akhir takdirnya.

Penulis : Nazlira Al-Habsy


Baca juga “SHOLAT, PRIVAT YANG MENGGETARKAN JAGAT”

Baca juga “Ibu Kota Negara Baru, Ruang Sesak Oligarki dan Pemutihan Dosa”


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca