
Disampaikan Oleh : Suherman
81 tahun kemerdekaan
Delapan puluh satu tahun yang lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan dengan keyakinan bahwa negeri ini kelak akan menjadi rumah yang adil dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.
Hari ini, bendera Merah Putih kembali berkibar gagah di seluruh penjuru negeri.
Langit dihiasi kembang api.
Pidato-pidato kebangsaan kembali menggema.
Lagu perjuangan kembali dinyanyikan dengan penuh haru.
Namun ada pertanyaan yang tidak boleh hilang di tengah kemeriahan itu :
Sudahkah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat?
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga berarti terbebas dari kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakpastian hidup.
Apa arti pesta kemerdekaan jika masih ada keluarga yang cemas memikirkan biaya sekolah anaknya?
Apa arti gegap gempita perayaan jika masih ada rakyat yang bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk memastikan dapurnya tetap berasap?
Apa arti kemajuan jika hasilnya belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka yang berada di lapisan paling bawah?
Kemerdekaan sejati tidak diukur dari tingginya tiang bendera.
Tidak pula dari megahnya panggung perayaan.
Kemerdekaan sejati diukur dari seberapa bermartabat kehidupan rakyatnya.
Dari seberapa mudah mereka memperoleh pendidikan.
Dari seberapa layak layanan kesehatan yang mereka dapatkan.
Dari seberapa besar kesempatan yang tersedia untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Karena pada akhirnya, tujuan sebuah negara bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh warganya.
Kepada para pemimpin negeri ini, penghormatan terbesar kepada para pendiri bangsa bukanlah melalui rangkaian seremoni yang megah.
Penghormatan terbesar adalah menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
Adalah memastikan bahwa setiap rupiah uang negara digunakan dengan amanah.
Adalah memberantas korupsi tanpa pandang bulu.
Adalah membuka kesempatan yang adil bagi setiap anak bangsa untuk berkembang.
Dan adalah mengangkat mereka yang masih tertinggal agar dapat hidup lebih layak dan bermartabat.
Karena sejarah tidak akan mengingat panjangnya pidato.
Sejarah akan mengingat hasil yang dirasakan rakyat.
Maka jadikan peringatan 81 tahun kemerdekaan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk bercermin dan berbenah.
Agar kesejahteraan tidak lagi menjadi janji yang terus diulang.
Agar keadilan tidak hanya menjadi tulisan dalam konstitusi.
Agar kemerdekaan benar-benar hadir di meja makan rakyat, di sekolah anak-anak mereka, dan di masa depan yang mereka impikan.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
04.49/17 Agustus 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.