
Disampaikan Oleh Sutoyo Abad, 19/06/2026
Mengenang sajak karya W.S. Rendra “Sajak Pertemuan Mahasiswa” paling ikonis terjadi pada 1 Desember 1977 di depan mahasiswa Universitas Indonesia berakar dari gerakan protes keras mahasiswa terhadap rezim Orde Baru yang antikritik, maraknya praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan penolakan keras terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden.
Keprihatinan mahasiswa saat itu memicu aktivis seperti Rendra dan mahasiswa menggunakan mimbar bebas dan pementasan teater sebagai ruang penyampaian aspirasi. Rendra menantang para mahasiswa untuk bangkit, meninggalkan sikap apatis, dan tidak menjadi “robot” yang tunduk pada kekuasaan.
Bait tersebut berisi kritik sosial terhadap kesenjangan dan mempertanyakan keberpihakan kaum intelektual, serta menuntut agar ilmu yang dipelajari digunakan sebagai alat pembebasan, bukan penindasan bagi rakyat kecil.
Mahasiswa se Indonesia ahirnya bangkit melawan bersama kekuatan rakyat lainnya akhirnya terjadilah yang kita kenang sampai saat ini sebagai “Gerakan Reformasi”.
Puisi ini secara mendalam menyoroti realitas ketimpangan antara pihak yang berkuasa/pemilik modal dengan rakyat yang tertindas (seperti petani yang kehilangan tanah).
Keadaan saat ini lebih parah dari keadaan pada saat itu. Sajak ini masih memiliki energi dan nyawa, terjadinya kembali Reformasi jilid II bahkan bisa lebih dahsyat terjadinya Revolusi Total, apalagi rezim tetap tidak menyadari keadaan saat ini lebihnya parah dari awal lahirnya Reformasi tahun 1998.
Melalui sajaknya, Rendra menantang mahasiswa untuk selalu kritis, berani bersuara, dan secara tegas membela kaum yang lemah, tertindas dan pinggirkan.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.