
Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 12/06/2026
Retorika khas Prabowo”anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” atau “biar anjing menggonggong, kafilah tetap akan terus”. Sejak masa kampanye hingga setelah jadi presiden, minimal 9 kali pada 2025. Terus diulang – ulang terahir diucapkan tanggal 10 Juni 2026, di Munas HIPMI Lampung.
Di Lampung menyatakan bahwa Indonesia sejak tahun 1990-an sedang menuju arah yang salah (atau “berada di jalan yang salah”). Hanya ingin menegaskan bahwa perjuangannya bukanlah untuk ambisi jabatan semata, melainkan tanggung jawab besar untuk memperbaiki arah bangsa yang menurutnya melenceng sejak periode tersebut.
Berbeda dengan pernyataan bahwa “Indonesia bubar 2030” pada tahun 2018, (sebelum menjadi presiden) penegasan penegasan politiknyanya bernuansa serangan politik berupa peringatan atau warning untuk pemerintah saat itu.
Setelah perubahan UUD 45 saran dari para negarawan agar negara segera kembali ke UUD 45 asli karena sejak itulah sesungguhnya negara benar benar salah jalan, justru di abaikan.
Bahkan semua kritik aktifis bahwa negara makin menjauh dari kiblat bangsa langsung disodok sebagai “antek asing” dan “pengkhianat negara” yang tidak suka Indonesia bangkit.
Wajar timbul dugaan “Apakah Presiden Prabowo terserang “Narsisme (kebutuhan untuk dikagumi dan disanjung oleh orang lain) atau Megalomania (perasaan sendiri bahwa dirinya paling tahu dan hebat)”. Fenomena aneh juga muncul terlalu sering melalu memuji muji dirinya sendiri bahwa dirinya pada jalan yang benar ketika rakyat sunyi senyap sepi pujian karena kehidupannya yang semakin silit, seraya bergumam ada yang tidak beres pada presiden.
Dalam teori Dunning-Kruger Effect, terjadinya bias kognitif pada kekuasan di mana penguasa yang memiliki pengetahuan atau keterampilan rendah di justru melebih-lebihkan kemampuannya secara ekstrem.
Dampaknya sesuai ” Fungctional Stupidity”, akan muncul kebiasaan penguasa mematikan kritik, saran nalar kritis dan memaksa rakyat mematuhi aturannya dengan bermacam-macam dalih dan ancaman.
Ketidak mampuan seorang penguasa merasa dirinya paling paling pintar, mudah meremehkan kritik dan saran rakyat dan berani memfonis bahwa kalian semua salah. Rakyat hanya di posisi sebagai objek bukan pemilik kekuasaan dan pemberi amanah.
Pakar komunikasi The Bullet Theory (Teori Peluru) atau Teori Jarum Hipodermik. Bahwa teori klasik ini memandang masyarakat sebagai sasaran empuk yang pasif. Begitu peluru ditembakkan atau jarum propaganda kebijakan rezim disuntikkan, publik dianggap akan langsung terhipnotis tanpa saya.
Pakar psikologi Raymond Bauer (1964) mematahkan kesombongan para pembuat pesan tersebut melalui The Obstinate Audience Theory—atau yang kita kenal sebagai Teori Khalayak Kepala Batu.
Bauer mengingatkan bahwa rakyat bukan robot pasif. Masyarakat bukanlah kertas kosong yang bisa dicoreti apa saja, melainkan sebuah entitas hidup bernama publik yang dinamis, saling berinteraksi, dan sarat dengan pengalaman kritis.
Ketika penguasa mencitrakan segalanya baik-baik saja melalui media, namun publik merasakan dapur mereka tetap kesulitan di dunia nyata, maka filter konseptual itu akan langsung menolak narasi tersebut. Di titik inilah khalayak menjadi “kepala batu”—mereka menolak disetir oleh ilusi.
Keadaan makin runyam, saat bersamaan birokrasi juga mengalami depresi. P Buakar manajemen Mats Alvesson dan André Spicer, functional stupidity menggambarkan bagaimana abdi negara yang cerdas secara intelektual tak berdaya untuk berpikir kritis dalam situasi tidak boleh melawan penguasa.
Birokrasi dan semua pembantu presiden pada posisi tertekan dari penguasan menuntut kepatuhan total. Berpikir kritis dianggap mengganggu harmoni. Tidak melaksanakan perintah, beresiko disingkirkan dari kekuasaan.
Semua abdi negara mutlak harus melakukan tugas dengan sempurna sesuai instruksi, tapi gagal melihat dampak jangka panjang yang tidak masuk akal dan rakyat akan jadi korbannya.
Dalam jangka pendek, ini membuat program pemerintah seperti yang kita miliki berjalan mulus karena tidak ada protes dan perdebatan. Namun dalam jangka panjang, hal ini bisa menjadi bencana jika kebijakan atau langkah yang diambil ternyata salah sejak awal.
Presiden mesti diingatkan dengan paradoksnya sendiri bahwa Indonesia sejak tahun 1990-an sedang menuju arah yang salah, salah kelola 2030 Indonesia bisa bubar. Apa yang telah dilakukan presiden selama ini, selain tata kelola negara yang terus menuju jurang kehancurannya.
“Saatnya pemerintah jangan angkuh merasa paling benar, dengar dan responlah kritik dan suara rakyat dengan arif bijaksana, karena kekuasaan hanyalah mandat dari rakyatnya”.
#BangkitlahNuswantara
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.