Oktober 10, 2026
Gambat ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 15/06/2026.

“Jangan terlalu yakin bahwa musuh tidak akan datang, lebih baik bersiap siap menyambutnya” (Sun-tzu).

Tiyo Ardianto dkk memperoleh moment yang baik, semakin banyak lawan. Perlu di ingat lawan akan memberi standar untuk menilai diri sendiri, baik secara pribadi maupun sosial. Lawan yang tangguh akan membangkitkan yang terbaik pada dirinya. Semakin besar lawan akan semakin besar upah nilainya, sekalipun seandainya harus kalah.

Diserang adalah tanda bahwa dirinya cukup penting untuk menjadi sasaran dan momen penting untuk membuktikan diri meningkatkan taruhannya dan membangkitkan semangat.

Kekuasaan yang terdesak akan selalu bereaksi agresif, lebih licik dan kejam mengerahkan semua kekuatannya.

Hanya mesti hati hati dan waspada saat bersamaan sering menawarkan perdamaian dan kompromi, sebagai strategi penyesatan, seolah – olah akan memberi banyak ruang, padahal hasrat mereka tak terbatas pada dasarnya mereka akan melucuti. Sangat rawan kalau perdamaian disertai amunisi angpau.

Dalam kondisi seperti ini Tiyo dan kawan-kawan mahasiswa lainnya harus mengeraskan diri tidak ada peluang kompromi sebelum aspirasinya di respon dan diwujudkan untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Kekuasaan yang sudah merasa nyaman dan tidak mengira tiba tiba ada perlawanan dari mahasiswa, akan gagap menghadapinya, karena selama ini merasa paling benar, bisa seperti “burung pipit  bersarang dalam tenda, atau seperti ikan berenang dalam wajan, mereka tidak akan bertahan lama” (Chuko Liang).

Sejarah kekuasaan yang semakin tiran ketika rakyatnya mulai melawan dan semua telah dianggap menjadi musuh, mereka akan buta dan hilang kepekaannya terhadap kenyataan, mereka akan kehilangan keseimbangannya menjadi tidak berdaya dikuasai emosi di bayangi oleh ketakutannya.

Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, konflik akan berefek terapeutik (menyembuhkan). Satu satunya cara untuk menerobos rezim yang sudah menolak kritik adalah konfrontasi.

Bagi pengecut dan penjilat selalu berupaya mencari perdamaian itu pasti akan mendatangkan kehancuran. Daripada hanya mengeluhkan pada situasi yang buruk, maka kedzaliman, ketidakadilan, terlebih mempertaruhkan keselamatan negara jalan satu-satunya adalah dihadapi.

“jangan naif terhadap musuh tertentu tidak boleh ada kompromi tidak boleh ada jalah tengah”

“Pemikirannya politik dan naluri politik terbuka sendiri secara teori maupun praktis dalam kemampuan membedakan kawan dengan lawan. Poin – poin tinggi politik adalah sekaligus momen dimana musuh dalam kejelasan konkrit, dikenali sebagai musuh”. (Carl Schmitt)

#BangkitlahNuswantara


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca