Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh Bambang Oeban

Sebagai sutradara, pelaku budaya, betapa besar tantangan yang mesti aku hadapi, ketika aku mendapat tugas menggelar pertunjukan di Sulawesi Tengah pasca Tsunami 2018. Saatmana masyarakat sedang dalam kondisi trauma, karena kehilangan keluarga, terpisah dari anak isteri menjadi korban gempa bumi yang melahirkan musibah kemanusiaan secara mengerikan.

Tempo itu, aku hanya punya Nawaitullah untuk mengembalikan kepercayaan diri masyarakat Sulteng lewat Gelar Seni Budaya,
Seperti Rambo, tanpa pengawal, tanpa rombongan seniman dari Jakarta, senjataku hanya konsep, bagaimana bisa diterima oleh para pelaku seni, lewat syair-syair kebangsaanku, bisa menyatukan para penyair, para aktor-aktris teater, para penari, para musisi, para perupa, mahasiswa dan para pelajar.

Ternyata tidak mudah, tantangan cukup berat, begitu banyak ancaman yang datang bertubi-tubi, mau diusir, mau dibakar hidup-hidup, karena dianggap terlalu gegabah, ditengah-tengah duka menyakitkan, aku datang hendak menggelar pertunjukan.
Pro dan Kontra saling berebut, untuk aku tetap bertahan dan melaksanakan niat suciku … mengingat sebagian masyarakat menganggap bahwa pemicu Tsunami mengerikan disebabkan oleh pergelaran Seni Budaya Warisan leluhur berlokasi di tepian Pantai Talise, saat acara berlangsung, Tsunami mengerikan datang, ribuan orang hilang tertelan, termasuk pelaku seni budaya. Sehingga Kesenian tradisional mengalami larangan, bagaimana aku menyelesaikan masalah itu?

Dengan cara mendatangi para pelaku seni seperti kusebutkan di atas, aku rela bersusah payah membuang waktu mendatangi rumah mereka dengan cara face to face, heart to heart, pada akhirnya semua bisa disatukan, Pergelaran Seni Budaya dapat dilaksanakan, dari pagi sampai menjelang larut malam. Maka dengan pergelaran dinyatakan menjadi sejarah bagi Kebangkitan Seni Budaya Sulawesi Tengah.

Kalau saja aku tidak banyak memetik ilmu hakikat penyutradaraan dari Guru Besar Rendra, mungkin teramat sulit untuk menangani berbagai macam sifat manusia yang baru aku kenal untuk menyatu dalam konsep penutradaanku, apalagi yang aku hadapi adalah dari berbagai unsur kesenian dalam Payung Seni Budaya Nusantara.

Aku datang
bukan membawa senjata.
Bukan pula membawa pasukan.
Tanpa rombongan artis ibu kota.
Tanpa kendaraan mewah
beriring sirene.
Tanpa dikawal
berpakaian hitam.

Yang kubawa
hanyalah selembar niat,
amanah,
keyakinan,
jadi bekalku:
Nawaitullah.
Sebab ketika manusia
sudah kehilangan banyak hal,
kadang yang tersisa
hanya Tuhan.

───

Sulawesi Tengah
waktu itu sedang menangis.
Langit menyimpan debu luka.
Pantai masih tersimpan cerita.
Dan hati rakyatnya masih menyimpan duka.
Palu.
Sigi.
Donggala.
Nama-nama itu berubah
menjadi lembar sejarah kemanusiaan.
Gempa datang.
Tsunami datang.
Likuefaksi datang.
Maut datang beriringan.
Seolah alam sedang
mengingatkan manusia:
bahwa sebesar apa pun
peradaban, ia tetap
makhluk.

───

Anak kehilangan ayah.
Ibu kehilangan anak.
Suami kehilangan istri.
Sahabat kehilangan sahabat.
Guru kehilangan murid.
Murid kehilangan guru.
Dan banyak orang kehilangan dirinya sendiri.
Sebab trauma kerap tak tampak,
tidak berdarah, tapi membuat
jiwa terus menangis.

───

Aku menyaksikan
wajah-wajah itu.
Mereka tersenyum,
matanya berkabung.
Mereka bercanda.
Namun hatinya
terluka.
Mereka hidup.
Namun sebagian jiwanya
masih tertinggal di hari
ketika ombak raksasa
datang menyergap.

───

Lalu sebuah pertanyaan hadir.
Apakah seni masih diperlukan?
Ketika perut lapar?
Ketika rumah hancur?
Ketika keluarga hilang?
Ketika kehidupan
porak poranda?

───

Sebagian orang berkata:
“Tidak perlu.”
“Rakyat butuh sembako.”
“Rakyat butuh rumah.”
“Rakyat butuh uang.”
Benar.
Semua itu benar.
Namun manusia bukan cuma tubuh.
Manusia juga jiwa.
Dan jiwa yang terluka
juga membutuhkan obat.

───

Maka aku berpikir.
Jika makanan menguatkan badan,
maka seni dapat menguatkan harapan.
Jika rumah melindungi tubuh,
maka budaya dapat melindungi identitas.
Jika pembangunan membangun jalan, maka kebudayaan membangun manusia.

───

Rupanya
jalan tak mudah.
Bahkan sangat berat.
Karena ada yang berkata:
“Jangan gelar pertunjukan!”
Ada yang berkata:
“Itu melukai perasaan korban!”
Ada yang berkata:
“Itu tidak pantas!”
Ada pula yang berkata:
“Usir saja!”
Dan bahkan ada ancaman
yang lebih mengerikan.

───

Aku tidak marah.
Karena aku memahami mereka.
Orang yang terluka sering kali berbicara dengan luka.
Orang yang trauma sering kali berpikir dengan trauma.
Mereka bukan musuh.
Mereka hanya sedang
memikul duka berat.

───

Aku lalu
memilih jalan yang
diajarkan kehidupan.
Bukan berdebat.
Bukan memaksa.
Bukan menggurui.
Melainkan
mendatangi.

───

Satu rumah.
Dua rumah.
Tiga rumah.
Puluhan rumah.
Mungkin ratusan pertemuan.
Face to face.
Heart to heart.
Hati ke hati.
Jiwa ke jiwa.

───

Aku mesti
menemui para penyair.
para aktor-aktris teater,
para penari,
para pemusik,
para pelukis,
para mahasiswa,
para pelajar,
para tokoh agama.
para tokoh masyarakat.
Aku menemui mereka
satu per satu.

───

Karena persatuan
tidak lahir dari pengeras suara.
Persatuan lahir dari kesediaan mendengar.

───

Aku belajar satu hal.
Manusia ingin dihargai.
Manusia ingin didengarkan.
Manusia ingin dipahami.
Dan ketika itu diberikan,
tembok-tembok pun
mulai runtuh.

───

Yang tadinya menolak,
mulai bertanya.
Yang tadinya marah,
mulai berdialog.
Yang tadinya curiga,
mulai percaya.

───

Aku teringat
ajaran seorang guru.
Sang Burung Merak.
Sang Maestro Teater.
W.S. Rendra.
Beliau pernah mengajarkan,
bahwa memahami manusia
lebih sulit daripada
menulis naskah.
Karena setiap manusia
adalah panggung.
Dan setiap hati memiliki skenarionya sendiri.

───

Maka aku tidak sedang menyutradarai pertunjukan.
Aku sedang menyutradarai
sebuah harapan ke depan.

───

Yang kuhadapi
bukan lampu panggung.
Melainkan luka batin.
Yang kuhadapi bukan tata suara,
melainkan trauma kemanusiaan.
Yang kuhadapi bukan pemain teater,
melainkan manusia dengan beragam karakter.

───

Ada yang mudah diajak bicara.
Ada yang keras kepala.
Ada yang penuh kecurigaan.
Ada yang pesimis.
Ada yang marah.
Ada yang menangis.
Ada yang memilih diam.

───

Dan semuanya
harus dirangkul.
Karena budaya bukan
milik satu golongan.
Budaya adalah
rumah bersama.

───

Aku pun sering
tersenyum sendiri.
Kadang-kadang
manusia memang lucu.
Saat harga cabai naik,
kita menyalahkan cuaca.
Saat hujan turun,
kita menyalahkan pemerintah.
Saat listrik mati,
kita menyalahkan petugas.
Saat nasi gosong,
kadang-kadang panci pun
ikut disalahkan.

───

Begitulah manusia.
Mencari penyebab jauh lebih mudah
daripada mencari solusi.

───

Ketika
bencana datang,
ada pula yang mencari
kambing hitam.
Seni budaya dituduh.
Warisan leluhur dipersalahkan.
Tradisi dianggap sumber
musibah, mirisnya.

───

Padahal gempa
tidak membaca jadwal acara.
Tsunami tidak memilih panggung.
Bencana tidak bertanya siapa
yang sedang menari.

───

Alam memiliki hukumnya sendiri.
Dan manusia memiliki kewajiban sendiri, yaitu belajar.

───

Jika rumah roboh,
bangun rumah yang lebih kuat.
Jika sistem kurang baik,
perbaiki sistem.
Jika pendidikan kebencanaan kurang, tingkatkan pendidikan.

───

Karena
menyalahkan masa lalu
tidak akan membangun
masa depan.

───

Aku lalu berkata
kepada banyak sahabat:
“Jangan biarkan budaya ikut menjadi korban.”
Karena jika seni mati, maka
sebagian identitas bangsa
ikut sekarat, terkapar mati.

───

Indonesia
bukan hanya gedung,
jalan tol,
angka statistik,
Indonesia adalah
manusia,
nilai,
budaya,
jiwa.

───

Bangsa yang
kehilangan budaya
bak pohon kehilangan akar.
Mungkin masih berdiri.
Tetapi gampang
tumbang.

───

Karena itu,
seni budaya harus bangkit.
Bukan untuk bersenang-senang.
Bukan untuk berpesta.
Tetapi untuk menyembuhkan
bila jiwa terasa ada luka.

───

Aku melihat
para seniman mulai berkumpul.
Penyair membawa puisi.
Musisi membawa nada.
Penari membawa gerak.
Pelukis membawa warna.
Teater membawa cerita.

───

Mereka datang
bukan karena bayaran besar.
Mereka datang karena cinta.

───

Dan cinta
selalu memiliki kekuatan
yang tidak dapat dihitung
oleh kalkulator.

───

Hari
yang ditunggu tiba.
Pagi datang.
Matahari bersinar.
Orang-orang mulai
berdatangan.

───

Masih ada keraguan.
Masih ada kecemasan.
Masih ada pertanyaan.
Tetapi acara berjalan.

───

Dari pagi.
Siang.
Sore.
Malam.
Hingga larut.

───

Panggung itu
di plaza Masjid Kota Palu,
bukan sekadar panggung,
menjadi ruang perjumpaan,
ruang penyembuhan,
dan ruang persaudaraan.

───

Orang-orang
mulai tersenyum.
sebagian bernyanyi,
menangis haru,
saling berpelukan.

───

Saat itulah
aku menyadari.
Kadang manusia tidak membutuhkan jawaban.
Kadang manusia hanya membutuhkan alasan
untuk bangkit.

───

Di tengah acara itu,
aku seolah mendengar
suara Indonesia.
Bukan suara politik,
kekuasaan,
kepentingan,
namun suara
kebersamaan.

───

Suara yang berkata:
“Kita masih ada.”
“Kita masih bersaudara.”
“Kita masih bisa berdiri.”
“Kita masih bisa melangkah.”

───

Bukankah itu
inti kebangsaan?
Bukan sekadar
menghafal
Pancasila.
Namun
menghidupkan
nilainya.

───

Ketuhanan
bukan hanya diucapkan.
Tetapi diwujudkan melalui
kasih sayang.
Kemanusiaan bukan slogan.
Tetapi tindakan nyata.
Persatuan bukan tulisan.
Tetapi kerja bersama.
Musyawarah bukan cuma rapat.
Tetapi kesediaan mendengar.
Keadilan bukan hanya cita-cita.
Tetapi perjuangan setiap hari.

───

Di situlah
aku melihat Indonesia.
Bukan di gedung megah.
Melainkan di panggung
sederhana.
Di tengah rakyat
yang sedang
terluka.

───

Pendidikan juga
mengajarkan hal yang sama.
ilmu bukan sekadar
angka,
ijazah,
Bukan pula
sekadar gelar.

───

Ilmu sejati
adalah kemampuan
mengubah masalah
menjadi pelajaran.

───

Gempa
mengajarkan
kerendahan hati.
Tsunami mengajarkan kewaspadaan.
Kehilangan mengajarkan
kesabaran. Dan kebangkitan
mengajarkan keberanian.

───

Filsafat hidup
mengingatkan kita:
bahwa penderitaan
bukan tujuan.
Ia hanyalah guru.

───

Tidak ada manusia
yang meminta bencana.
Namun setiap manusia
dapat memilih bagaimana
menyikapi bencana.

───

Ada yang memilih menyerah.
Ada yang memilih marah.
Ada yang memilih menyalahkan.
Dan ada yang memilih bangkit.

───

Sejarah selalu ditulis
oleh mereka yang memilih
untuk berusaha bangkit.

───

Maka kebangkitan seni budaya
Sulawesi Tengah bukan sekadar peristiwa. Ia adalah simbol. Bahwa harapan masih hidup.

───

Hari ini, ketika aku mengenang perjalanan itu, aku tak mengingat ancaman,
cacian …
atau fitnah.

───

Yang kuingat adalah
wajah-wajah bahagia,
senyum para seniman,
pelukan persaudaraan.

───

Pada akhirnya,
kebencian selalu
memiliki batas.
Tetapi kebaikan
memiliki gema
terpanjang.

───

Untuk
para pemimpin,
dengarkan rakyat.
Untuk para seniman,
jangan lelah berkarya.
Untuk para guru,
jangan berhenti mendidik.
Untuk para pelajar,
jangan berhenti belajar.
Untuk para tokoh agama,
teruslah menebar kasih sayang.
Untuk seluruh anak bangsa,
jangan pernah kehilangan
harapan, sebab masa depan
adalah apa yang kita pijak.

───

Karena Indonesia
tidak dibangun oleh
satu orang,
satu golongan,
satu generasi,
Indonesia dibangun
oleh gotong royong
secara semesta.

───

Dan ketika gotong royong
bertemu ketulusan, maka
keajaiban kerapkali terjadi.

───

Aku hanyalah
seorang pelaku budaya.
Bukan pahlawan.
Bukan tokoh besar.
Bukan manusia
sempurna.

───

Namun aku percaya,
setiap orang memiliki
kesempatan menjadi
cahaya kecil.

───

Dan ketika
cahaya-cahaya kecil itu
berkumpul, gelap pun
akan kehilangan
kekuasaan.

───

Sulawesi Tengah
pernah menangis.
Namun ia juga bangkit.
Sulawesi Tengah pernah terluka.
Namun ia juga sembuh.
Sulawesi Tengah pernah berduka.
Namun ia juga dapat
tersenyum kembali.

───

Maka kepada
generasi mendatang,
catatlah ini baik-baik:
Bahwa di atas reruntuhan,
manusia masih bisa
membangun.
Bahwa di atas kesedihan,
manusia masih bisa berharap.
Bahwa di atas trauma,
manusia masih bisa berkarya.
Dan bahwa di atas segala perbedaan, manusia
masih bisa bersaudara.

───

Karena
sesungguhnya, kebangkitan terbesar bukanlah bangkitnya sebuah panggung.
Kebangkitan terbesar
adalah bangkitnya kepercayaan bahwa manusia, dengan iman,
ilmu, budaya, persaudaraan,
dan cinta tanah air, mampu
berdiri kembali setelah
badai paling dahsyat
sekalipun.
Sulteng Bangkit.
Indonesia Bangkit.
Kemanusiaan
Bangkit.

Dari Timur Bekasi
Sabtu, 13 Juni 2026
21.06


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca