Oktober 9, 2026
Prof. Dr. Ir. Sutami dalam perangko

Ir. Sutami:

“Jabatan adalah pengorbanan, dan kemegahan yang dibangun untuk bangsa tidak boleh dibeli dengan penderitaan rakyatnya”.

Tokoh ini adalah otak di balik pembangunan Gedung DPR/MPR, Jembatan Semanggi, Waduk Jatiluhur, hingga Bandara Ngurah Rai Bali.

Namanya Ir. Sutami. Beliau adalah Menteri Pekerjaan Umum (PU) dan Tenaga Listrik di era Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto. Menteri Pekerjaan Umum (PU) terlama di Indonesia (menjabat selama 12 tahun sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto).

Dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, Sutami bukanlah menteri yang berasal dari partai. Dia merupakan seorang insinyur yang kemudian menjabat dalam bidang yang dikuasainya.

Kabinet berganti mulai dari Kabinet Dwikora I, II, Kabinet Ampera, hingga Kabinet Pembangunan, Sutami tetap menjabat sebagai menteri yang sama. Bahkan, ketika presidennya berbeda.

Meski memegang anggaran mega proyek negara, Ir. Sutami menolak mengambil uang yang bukan haknya. Rumah pribadinya sangat sederhana. Ketika Lebaran tiba, para tamu yang datang untuk bersilaturahmi terkejut melihat atap rumah sang menteri bocor di mana-mana.

Fakta ini disaksikan langsung oleh para kolega dan tamu yang berkunjung ke rumah pribadinya di Jalan Kramat Raya, Jakarta. 

Langit-langit rumahnya dipenuhi noda bekas rembesan air. Ketika hujan deras turun, keluarga menteri ini harus sibuk meletakkan ember dan kaleng biskuit di lantai untuk menampung air hujan yang bocor dari atap genteng.

Ir. Sutami tidak punya anggaran pribadi untuk memperbaiki atap rumahnya sendiri

Bagi Ir. Sutami, fasilitas negara hanya boleh digunakan untuk kepentingan dinas, bukan untuk memperkaya diri atau mempercantik aset pribadi.

Karena Kejujurannya yang sangat parah. Ir. Sutami tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya, dan ini Beliau lakukan hingga ia purna tugas. Ketika tidak lagi menjabat, Beliau mengembalikan seluruh fasilitas negara tanpa sisa.

Di akhir hayatnya, Ir. Sutami ditimpa penyakit lever yang parah. Beliau sempat menolak  berobat ke rumah sakit karena tidak mampu membayar tagihan biaya medis. Untungnya pemerintah yang menyadari kondisi memprihatinkan sang arsitek bangsa ini langsung turun tangan untuk menanggung seluruh biaya perawatannya di Rumah Sakit Gatot Soebroto.

Ir. Sutami wafat pada tahun 1980. Beliau pergi tanpa meninggalkan warisan harta yang melimpah untuk istri dan anaknya, tanah atau perusahaan yang mapan. Namun, beliau meninggalkan sebuah standar moral tertinggi yang mutlak bagi seorang pemimpin, bahwa:

“Jabatan adalah pengorbanan, dan kemegahan yang dibangun untuk bangsa tidak boleh dibeli dengan penderitaan rakyatnya”.

We all remember you as a person of integrity.

Editor: Akas Syafira


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca