Oktober 10, 2026
Foto: dr. Kinan (SIM-istimewa)

Hemodialisis atau biasa disebut dengan istilah “cuci darah” merupakan salah satu prosedur medis untuk menyaring darah dari racun, limbah metabolisme, dan kelebihan cairan dengan menggunakan mesin khusus yang disebut dialyzer. Tindakan cuci darah dilakukan ketika ginjal mengalami kerusakan atau gagal berfungsi. Prosedur ini menggantikan fungsi ginjal yang terganggu, biasanya pada pasien gagal ginjal kronis atau akut.

Cuci darah (hemodialisis) tidak selalu harus dilakukan seumur hidup. Pada kasus gagal ginjal akut, cuci darah bisa dilakukan sekali saja atau sementara waktu sampai fungsi ginjal membaik kembali. Sebaliknya, untuk gagal ginjal kronis, cuci darah biasanya wajib dilakukan rutin seumur hidup.

Cuci darah (hemodialisis) sangat penting dilakukan sedini mungkin ketika ginjal tidak lagi mampu menyaring limbah, racun, dan cairan berlebih (stadium 5) untuk mencegah komplikasi fatal seperti gagal jantung, sesak napas, hingga kematian.

Mencuci darah lebih awal membantu menjaga kualitas hidup dan keseimbangan mineral

Mengapa cuci darah sangat krusial dari tahap awal gagal ginjal? Berikut penjelasan dr. Kinan:

Cuci darah sebagai filter racun utama

Ginjal yang rusak menyebabkan penumpukan zat sisa metabolisme yang beracun dalam tubuh. Cuci darah menggantikan fungsi ini untuk membersihkan darah.

Cuci darah dapat mencegah komplikasi serius

Pada penderita gagal ginjal akut maupun kronis tanpa cuci darah dapat mengakibatkan penumpukan cairan dan elektrolit sehingga dapat mengakibatkan sesak napas berat, bengkak ekstrem, dan kelebihan kalium yang memicu jantung berhenti bekerja.

Cuci darah menstabilkan kondisi tubuh

Prosedur cuci darah ini membantu mengatur tekanan darah dan keseimbangan elektrolit (kalsium, kalium, natrium) yang terganggu akibat  ginjal gagal bekerja.

Cuci darah meningkatkan harapan hidup

Khususnya pada penderita kronis, meskipun cuci darah bersifat jangka panjang (2-3 kali seminggu), memungkinkan pasien dengan gagal ginjal kronik untuk tetap beraktivitas dan menjaga kualitas hidup.

Kapan Cuci Darah Harus Memulai?

Dokter biasanya merekomendasikan cuci darah ketika estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) sudah di bawah 10–15% dari kapasitas normal, atau saat pasien mulai mengalami gejala uremia seperti mual, muntah, sesak napas, dan bengkak yang tidak bisa diatasi dengan obat-obatan.

Catatan: Pada kasus gagal ginjal akut, cuci darah bisa bersifat sementara, sedangkan pada gagal ginjal kronis stadium akhir, ini menjadi terapi rutin.

Disarikan dari penjelasan dr. Kinan

Editor : Akas Syafira


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca