
Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 06/05/2026
Telah terjadi peristiwa tragis, DR. Basyir Naim dkk., utusan Palestina dari Malaysia ditolak masuk ke Indonesia. Yang ditolak mestinya agent Mossad yang bebas lalu lalang di Indonesia. Ini sangat jelas permainan Mossad Isreal dan Amerika. Cukup lama Indonesia khususnya Umat Islam menjadi mainan Mosad dan CIA, untuk membenci Syiah (Iran).
Isu Syiah sesat, Syiah kafir, atau Syiah musuh Islam juga skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad, sudah 40 tahun lebih narasi ini diputar.
Setiap mau berkonflik dengan Iran dan proksinya (seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon), isu ini kembali mencuat. Tujuannya untuk melemahkan Iran. Agar terisolasi dari dunia Islam.
Iran juga akan diputus dari dunia luar dengan berbagai embargo. Iran cukup menderita sebenarnya. Tapi hebatnya, bisa bertahan. Dalam banyak hal justru semakin berkembang.
Disaat Iran sekarang berperang secara terbuka dengan Israel dan Amerika, isu-isu semacam ini juga kembali disebar. “Ngapain dukung Syiah, mereka bukan Islam”. “Biarkan Iran dan Israel berperang, keduanya kafir”. “Iran dan Israel adalah bestie”. “Iran membunuh lebih banyak umat Islam ketimbang Israel”. Dan lain-lain.
Propaganda ini bertujuan melemahkan dukungan dunia Islam terhadap Iran. Di Indonesia sejumlah “agen” (ustad) rajin mengkampanyekan narasi ini. Bahkah sekarang ada Menteri (non muslim) ikutan cuap-cuap “membela Iran adalah membela syetan.”
Presiden Prabowo seperti tidak sadar atas kejadian adu domba ini. Mereka punya uang, senjata, juga media. Zionis mengontrol para politisi lewat kekuatan lobi. Juga menciptakan narasi dan fatwa-fatwa untuk disebarkan oleh para mubaligh jaringan mereka.
Media mereka berusaha mengelabui dunia dari Barat sampai ke Timur. “By way of deception you shall wage war” (Dengan cara tipu daya kamu akan melancarkan perang).
Untuk internal Islam, Iran selalu dilukiskan sebagai rafidhah atau bukan Islam. Padahal jamaah haji mereka selalu memenuhi Makkah dan Madinah. Di luar Islam, Iran dilabeli evil, rezim, otoriter, irrasional, mendiskreditkan perempuan, pembunuh, berbahaya, sedang mengembangkan nuklir, dan sebagainya. Proses demonisasi selalu muncul sebelum intervensi.
Indonesia belajarlah dari Iran, kokoh menjaga integritas negaranya sekalipun digempur bertahun-tahun oleh Amerika dan Zionis Israel.
Iran mengerti Indonesia mayoritas Umat Islam, tetapi minoritas Muslim, tidak memiliki keyakinan Tauhid yang kuat karena wabah Cinta Dunia dan Takut Mati (WAHN).
Lebih parah, Presiden dengan mayoritas Islam indikasi kuat sikap dan kebijakannya pro Amerika dan Israel, dan sangat sadis sampai berani menolak DR. Basyir Naim dkk., utusan Palestina yang akan silaturahmi dengan Umat Islam di Indonesia.
(Bersambung)
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.