Oktober 10, 2026
gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Pelaporan terhadap Feri Amsari bukan sekadar perkara individu. Ia berpotensi menjadi preseden penting bahkan berisiko buruk bagi pemerintahan , terutama jika benar pelapor berasal dari relawan politik yang terasosiasi dengan kekuasaan.

Dalam negara demokrasi, kritik dari akademisi dan pengamat hukum bukan ancaman, melainkan bagian dari mekanisme kontrol, dikenal sebagai salah satu akademisi yang aktif mengkritisi kebijakan publik, khususnya dalam ranah hukum tata negara. Suara seperti ini justru menjadi penyeimbang agar kekuasaan tetap berada dalam koridor konstitusi.

Namun ketika kritik berujung pelaporan hukum, apalagi oleh pihak yang memiliki kedekatan politik dengan penguasa, muncul persepsi yang sulit dihindari : Apakah ini murni proses hukum?Atau sinyal pembungkaman kritik?

Data demokrasi global menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dan kritik publik merupakan indikator utama kualitas demokrasi. Laporan seperti dari Freedom House dan berbagai indeks demokrasi internasional secara konsisten menilai bahwa tekanan terhadap akademisi, aktivis, atau pengamat hukum dapat menurunkan skor demokrasi suatu negara. Kekuasaan sering kali terlihat kuat di luar, namun justru rapuh terhadap kritik.

Padahal pemerintahan yang percaya diri tidak alergi terhadap perbedaan pendapat. Justru sebaliknya, ia membuka ruang dialog, bahkan terhadap kritik yang paling tajam sekalipun.

Jika pelaporan seperti ini dibiarkan menjadi pola, dampaknya tidak kecil :

– Akademisi dan pengamat akan mulai membatasi diri

– Kritik publik menjadi takut dan teredam

– Ruang demokrasi menyempit secara perlahan

Dan yang paling berbahaya : self-censorship, ketika orang memilih diam bukan karena setuju, tetapi karena takut.

Bagi pemerintahan, ini adalah ujian awal. Bukan soal siapa yang benar atau salah secara hukum, tetapi soal pesan politik yang ditangkap publik.

Apakah pemerintah akan :

– Membiarkan kritik sebagai bagian dari demokrasi? atau

– Terlihat defensif terhadap suara berbeda?

Kesimpulannya, pelaporan terhadap Feri Amsari bisa menjadi lebih dari sekadar kasus hukum. Ia adalah simbol tentang arah kebebasan berpendapat di masa depan, karena pada akhirnya, kekuasaan yang kuat bukan yang mampu membungkam, melainkan yang mampu mendengar bahkan ketika suara itu tidak nyaman.

14.26/ 19 April 2026


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca