Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 14.04.2026

Selama ini semua negara teluk menggantungkan pertahanan udara dan keamanan wilayah mereka pada payung militer AS. AS dan Israel (CIA dan Mosad) selama ini mampu menyihir semua negara teluk gelap mata melihat Iran (negara Syiah) sebagai ancaman eksistensial bagi stabilitas kawasan dan rezim Sunni mereka, menciptakan “aliansi de facto” dengan Israel untuk memusuhi Iran.

Terlihat saat serangan Iran April 2024 & Februari 2026, meski tidak semua mengumumkan normalisasi resmi, mereka berbagi intelijen, membuka ruang udara, dan berkoordinasi pertahanan udara dengan AS dan Israel.

Realitas di lapangan terutama Arab Saudi seolah olah mengecam serangan Israel ke Gaza dan menyatakan dukungan untuk Palestina agar tidak memicu kemarahan rakyat mereka. Secara privat dan strategis, mereka munafik membagikan data intelijen ke AS & Israel dalan serangan ke Iran Mengizinkan penggunaan ruang udara & pangkalan mereka untuk pertahanan Israel. Mengecam Iran lebih keras daripada mengecam Israel dalam pernyataan resmi bersama.

Selama ini negara Teluk Arabia adalah sekutu strategis utama AS, dan meskipun tidak semua mengakui Israel secara resmi, mereka telah membentuk aliansi keamanan de facto dengan “Zionis” demi menghadapi ancaman bersama dari Iran.

Pertanyaannya : Sedungu dan setolol ini di internal sesama negara Islam begitu lama menjadi mainan C ygIA Dan Mosad.

Munculnya kritik tajam Cina (Beijing) dan Rusia (Moskow) terhadap negara-negara Islam yang “Takut pada Tirani Barat”, secara terbuka menyindir kepemimpinan negara-negara Muslim (terutama Arab) dianggap lebih takut pada sanksi atau tekanan Amerika Serikat daripada membela prinsip kedaulatan dan sesama negara Muslim.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov secara spesifik menyindir bahwa sejumlah pemimpin Arab tampak “lebih takut Trump daripada Allah” (“more afraid of Trump than of God). Pernyataan pedas ini dilontarkan Lavrov pada akhir Maret 2026 di Moskow. Mereka menyoroti ironi bahwa negara-negara yang mengaku religius dan solid secara ideologi justru diam dan pasif, ketika negara Islam Iran harus perang sendirian melawan Amerika dan Israel. Siapa yang membela dan melindungi  Iran dengan kekuatan senjatanya.

Fakta lain bicara lebih nyata Cina dan Rusialah menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Iran dari sanksi atau resolusi negara Iblis yang selama ini dianggap sebagai dewa pelindung negara Islam Tindakan nyata (seperti veto PBB yang dilakukan Moskow dan Beijing pada 7 April 2026 untuk memblokir resolusi keamanan Selat Hormuz yang menyudutkan Iran) lebih penting daripada sekadar retorika keagamaan.

Poros kerja sama strategis antara Rusia, Cina, dan Iran, sekaligus mengekspos perpecahan antara negara yang Islam yang menjadi jongosnya AS dan Israel. Dengan kekuatan senjata Iran, Cina dan Rusia lebih penting dari sekedar retorika khotbah moralnya dengan jubah jubah gombalnya.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca