
Disampaikan oleh : M Rizal Fadillah
Sah-sah saja itu merujuk pada aturan yang memperkenankan. UUD 1945 memberi ruang bagi proses penggulingan tersebut. Ada mekanisme DPR, MK, dan terakhir MPR. Bahwa agar DPR, MK, dan MPR berkehendak melakukan penggulingan tersebut memerlukan tekanan masif berupa gerakan rakyat, maka itupun sah-sah saja. Demonstras kecil atau besar-besaran dilindungi oleh konstitusi dan peraturan perundang undangan lainnya. People power itu lazim.
Saat awal keterpilihan “by design” pasangan Prabowo-Gibran, maka sorotan tajam tertuju pada Gibran putera Jokowi ini. Berbagai kelemahan diungkit dari mulai permainan MK, KPU, karakter kekanak-kanakan, narkoba, hingga rekayasa kerja Presiden. Persyaratan untuk penggulingan sudah terpenuhi. Prabowo diharapkan mendukung penggantian Wapresnya tersebut. Dosa keterpilihan curang Prabowo sementara dimaafkan.
Akan tetapi sayang Prabowo justru melindungi Gibran, mungkin sebagai bentuk pengabdian dan balas jasa kepada Jokowi. Bagi Prabowo Jokowi itu masih hidup dan mewujud sebagai dewa pembimbing yang selalu menghalusinasi. Disinilah cacat Prabowo mulai terlihat. Ia tidak bisa mandiri, plintat-plintut, dan berwatak pengecut. Omong gede tapi kerja mini, ambivalen dan terlalu banyak basa-basi.
Janji kampanye soal segala gratis tinggal rekaman, lapangan kerja menyisakan lapangan tanpa kerja, MBG lebih makan hati dan jadi sarang korupsi, BoP menghianati independensi, ART menyembelih leher ibu pertiwi, KMP memenuhi koper dan perut sendiri, impor mobil unjuk ketololan diri, Prabowo menjadi Presiden yang gemar piknik ke luar negeri, memboroskan uang negara dengan hasil tidak berarti, bahkan menuai kontroversi.
Prabowo menjadi sorotan atas ketidakbecusan memimpin. Menjadi layak untuk digulingkan. Suara itu semakin menguat. Konstitusi membuka jalan dari pintu terbaru yakni perbuatan tercela, Soal perayaan ulang tahun spesial Seskab Teddy Indra Wijaya di Paris bersama Prabowo dan staf lain. Harga hotel yang sangat mahal hingga ratusan juta per malam. Tontonan pemimpin gila di tengah rakyat yang susah dan menderita.
Prabowo dan Teddy telah lama menjadi gunjingan. Cubitan Luhut Binsar pada pipi Teddy memberi sinyal. Konon hubungan Prabowo dengan Luhut kini agak merenggang. Potong kue kemewahan Prabowo pada ultah Teddy di Four Seasons Hotel George V Paris patut dikritisi dan diinvestigasi. Ini kualifikasi perbuatan tercela menurut narasi konstitusi. Hubungan Prabowo Teddy jangan sampai menjadi seperti Louis XVI dan Marie Antoinette penyebab terjadinya revolusi. Yang berujung hukuman mati atas kedua sejoli.
Suara makzulkan atau gulingkan Prabowo Gibran terus menggema. Rakyat sudah muak memiliki pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Rakyat hanya sebutan untuk menaikkan reputasi palsu. Kini seruan rakyat menuju gerakan rakyat semesta reformasi jilid II adalah “Tangkap dan Adili Jokowi. Makzulkan Prabowo-Gibran”.
Kemarahan rakyat Perancis yang menghukum mati Louis XVI dan Maria Antoinette di bawah Guillotine harus menjadi pelajaran penting akibat dari tingginya kesenjangan hidup antara pejabat Istana dan rakyat jelata. Ada saatnya rakyat memang benar-benar berkuasa.
Pemerhati Politik dan KebangsaanBandung, 18 April 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.