Oktober 10, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Entah sedang dibawa ke mana negeri ini, anggaran mengalir seperti air bah deras, luas, namun tak selalu jelas kemana akhirnya bermuara. Di atas kertas, semuanya tampak rapi. Triliunan rupiah dibingkai dalam rencana, disusun dalam angka-angka yang meyakinkan. Namun di jalanan, rasa itu berbeda.

Ada motor listrik yang disubsidi, sekitar jutaan rupiah per unit namun harganya masih terasa jauh bagi banyak tangan yang menggenggam penghasilan pas-pasan. Ia berdiri sebagai simbol masa depan, namun belum sepenuhnya menjadi milik hari ini.

Ada pula cerita tentang kendaraan, tentang koperasi, tentang pengadaan yang terdengar besar, namun tak semua mengerti untuk siapa dan seberapa perlu. Ketika rakyat diminta berhemat, negara justru terlihat leluasa membelanjakan. Ketika kebutuhan dasar masih diperjuangkan, yang hadir justru program yang terasa jauh dari realita. Apakah ini salah? Belum tentu. Bisa jadi ini investasi, bisa jadi ini strategi jangka panjang.

Namun masalahnya bukan hanya pada niat, melainkan pada rasa keadilan yang hilang di tengah jalan. Karena kebijakan yang baik bukan hanya benar dalam hitungan, tetapi juga terasa adil dalam kehidupan. Jika uang negara mengalir namun rakyat tidak merasakan, maka yang muncul bukan kepercayaan, melainkan pertanyaan. Dan pertanyaan itu sederhana: apakah ini untuk kita semua atau hanya untuk sebagian yang memahami arah?

Negara tidak kekurangan rencana, yang sering hilang adalah keterhubungan antara keputusan di atas dan kenyataan di bawah. Maka sebelum angka kembali ditambah, sebelum proyek kembali diumumkan, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya kebijakan, tetapi cara mendengar. Karena uang negara bukan sekadar alat belanja, ia adalah amanah. Dan ketika amanah itu terasa jauh dari rakyat, yang lahir bukan pembangunan, melainkan kegelisahan yang perlahan tumbuh menjadi ketidakpercayaan.

17.56/13 April 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca