Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Ketika kebohongan diucapkan dari singgasana, ia tak lagi sekadar kata ia menjadi arah, menjadi bayang yang merayap ke mana-mana. Dan rakyat? Diam.

Bukan karena tak tahu, bukan karena tak melihat, melainkan karena takut atau mungkin karena terlalu lelah untuk melawan.

Kebohongan tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh subur di tanah yang sunyi, di antara mulut-mulut yang memilih tertutup, di antara hati yang berkata : “biarlah.”

Padahal diam bukanlah netral, ia adalah pilihan yang perlahan memberi ruang bagi yang salah untuk menjadi biasa.

Kebohongan yang dibiarkan akan berubah menjadi kebenaran yang dipaksakan.

Diulang, diperkuat, hingga akhirnya diterima tanpa tanya.

Dan di titik itu, yang hilang bukan hanya kejujuran, tetapi keberanian. Namun sejarah tidak pernah lupa. Ia mencatat bukan hanya siapa yang berkata dusta, tetapi juga siapa yang memilih diam ketika kebenaran sedang dipertaruhkan.

Maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang berbohong, melainkan siapa yang berani bersuara.

Karena dalam dunia yang bising oleh kepentingan, suara jujur sering kali kecil namun justru di sanalah harapan tinggal.

Dan jika suatu hari kebohongan itu runtuh, ia tidak jatuh karena sendirinya, melainkan karena ada yang akhirnya memilih untuk tidak lagi diam.

06.56/16 April 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca