Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : M. Basyir Zubair (Embas), Arkeolog & Penulis Populer-Akademik

Chattra itu masih berada di ruang rapat, bukan di puncak stupa karena realitas ilmiah belum memberi izin pada ambisi simbolik.

Sampai hari ini, April 2026, belum ada satu pun batu yang diangkat dari puncak stupa induk Candi Borobudur. Belum ada derek yang berdiri. Belum ada scaffolding yang berdiri di ketinggian 35 meter di atas permukaan tanah Kedu. Yang ada hanyalah serangkaian rapat, dokumen perencanaan, dan satu pergeseran istilah yang bagi kalangan arkeolog berbunyi seperti alarm : kata “Rekonstruksi” telah diganti dengan kata “Adaptasi.”

Pergantian satu kata itu bukan sekadar urusan tata bahasa. Ia adalah strategi. Dan strategi itulah yang perlu kita bedah dengan dingin, teliti, dan berbasis data.

I. Dari Mana Kita Berdiri : Fakta Status Terkini

Dokumen “Undangan Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Adaptasi” bertanggal 13 Januari 2026 yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Ditjen Bimas Buddha) menandai babak baru dalam saga panjang ini. Berdasarkan dokumen tersebut, proyek masih berada di tahap awal dari tujuh tahapan yang ditetapkan :

Tahap 1–2 : Penyusunan dokumen rencana kegiatan dan penyempurnaan studi kelayakan

Tahap 3: Komunikasi dan konsensus pemangku kepentingan (masih berjalan)

Tahap 4–5: Penunjukan tim kajian dampak cagar budaya (KDCB) dan uji publik (belum dilaksanakan)

Tahap 6: Konsultasi UNESCO/ICOMOS (belum dimulai)

Tahap 7: Pelaksanaan fisik (belum ada tanda-tanda)Artinya: secara arkeologis, ini masih wacana teknokratik. Bukan tindakan lapangan. Statusnya adalah rapat, bukan ekskavasi. Pernyataan bukan perubahan. Namun justru di situlah urgensi tulisan ini: bahaya sering datang bukan pada saat sekop menyentuh tanah, melainkan pada saat narasi mulai terbentuk dan tidak ada yang mengkritisinya.

II. Sejarah Yang Sering Dilupakan: Van Erp dan Pelajaran yang Diabaikan

Ada sebuah fakta arkeologis yang terus-menerus luput dari narasi pendukung Chattra, atau sengaja tidak disebut dengan lengkap:Theodoor van Erp, arkeolog Belanda yang memimpin pemugaran Borobudur 1907–1911, memang sempat merekonstruksi Chattra dari serpihan batu yang ditemukan di sekitar situs. Namun ia sendiri yang kemudian memerintahkan untuk menurunkan kembali instalasi tersebut.

Mengapa? Bukan karena tidak mampu secara teknis. Bukan karena kekurangan anggaran. Tapi karena Van Erp menyimpulkan bahwa persentase batu asli yang ditemukan terlalu minim untuk membenarkan rekonstruksi, dan bahwa bentuk yang ia buat bersifat spekulatif. Di era kolonial yang jauh lebih longgar dalam etika cagar budaya, seorang arkeolog Belanda itu masih memilih mundur dari klaim yang tidak cukup datanya.

Hari ini, pada tahun 2026, kita tidak memiliki data baru yang lebih kuat dari apa yang dimiliki Van Erp. Yang berubah bukan datanya. Yang berubah adalah terminologi hukumnya.

Jika sang arsitek pemugaran pertama saja tidak berani memasang Chattra karena data tidak cukup, mengapa kita yang hadir lebih dari satu abad kemudian merasa lebih yakin?

III. “Adaptasi” : Pintu Darurat atau Jalan Belakang?

Inilah inti dari seluruh perdebatan ini, dan inilah titik di mana seorang arkeolog harus berbicara paling keras.Ketika rencana pemasangan Chattra pada September 2024 dibatalkan, alasannya jelas dan kuat : BRIN menyimpulkan bahwa struktur puncak stupa induk memiliki kelemahan material yang signifikan

IAAI menolak secara kelembagaan karena pemasangan tidak memenuhi syarat “Rekonstruksi” berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

Data arkeologis tentang bentuk asli Chattra tidak mencukupi untuk membenarkan rekonstruksi

Merespons penolakan itu, pemerintah tidak mundur. Mereka berganti kata. “Rekonstruksi” menjadi “Adaptasi.”

Apa Sebenarnya “Adaptasi” dalam UU Cagar Budaya?Pasal 1 angka 30 UU No. 11 Tahun 2010 mendefinisikan adaptasi sebagai:“upaya pengembangan cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting.

”Perhatikan kata-katanya dengan seksama : “perubahan terbatas”. “Tidak mengakibatkan kemerosotan nilai penting.” “Tidak merusak.”

Pertanyaan arkeologis yang harus dijawab: Apakah memasang elemen baru setinggi beberapa meter di puncak stupa induk, elemen yang tidak ada datanya, bukan bahan aslinya, dan mengubah siluet global monumen dapat disebut “perubahan terbatas”?

Dalam logika arkeologi dan konservasi, jawabannya tidak. Ini bukan perubahan terbatas. Ini adalah intervensi besar yang dibungkus dengan istilah kecil.

Adaptasi yang sah adalah : memasang lift untuk akses difabel, menambah sistem drainase, atau memperluas area penerimaan pengunjung. Bukan : menciptakan elemen puncak yang belum pernah terbukti keberadaan fisiknya.

Memakai kata “adaptasi” untuk memasang Chattra tanpa data yang memadai bukan solusi hukum yang cerdas. Ini adalah manipulasi konseptual, menggunakan celah terminologi untuk menghindari persyaratan substansi.

IV. Lima Persoalan Ilmiah yang Belum Terjawab

Sebelum satu batu pun diangkat atau satu baut pun dipasang di puncak Borobudur, ada lima pertanyaan ilmiah mendasar yang belum mendapat jawaban memadai dari pihak penggagas :

1. Di Mana Data Arkeologis yang Memadai?Chattra yang ada di Museum Karmawibhangga adalah hasil rekonstruksi spekulatif Van Erp, bukan artefak asli. Fragmentasi batu yang ditemukan tidak cukup untuk merekonstruksi bentuk, proporsi, dan tinggi yang akurat. Pertanyaannya bukan “apakah Chattra pernah ada?”, mungkin saja ada. Pertanyaannya adalah: “Apakah kita tahu dengan cukup pasti bentuknya?” Jawabannya: tidak.

2. Bagaimana dengan Integritas Struktural Stupa Induk?Kajian teknis BRIN 2024 menyimpulkan bahwa struktur puncak stupa induk sudah mengalami pelemahan material akibat usia dan paparan lingkungan. Getaran mikro dari beban angin pada payung vertikal yang menjulang tinggi dapat merambat ke andesit tua di bawahnya. Ini bukan spekulasi; ini fisika. Pertanyaannya: apakah kajian teknis terbaru yang memastikan kondisi sudah berubah sudah dilakukan dan dipublikasikan?

3. Siluet Global yang BerubahOutstanding Universal Value (OUV) Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO mencakup, antara lain, integritasnya sebagai mahakarya arsitektur Buddhis abad ke-8. Siluet piramidal stupa tanpa puncak telah menjadi wajah Borobudur selama lebih dari satu abad.

Menambahkan elemen vertikal di puncaknya secara harfiah mengubah siluet global monumen ini. Dalam prinsip “living heritage” versi UNESCO sekalipun, perubahan pada “form & silhouette” situs warisan bukan hal yang diizinkan tanpa melalui proses Heritage Impact Assessment (HIA) yang sangat ketat.

4. Risiko Material : Korosi GalvanikJika menggunakan material logam (perunggu, titanium, atau komposit) sebagai solusi beban ringan, maka pertemuan fisik antara logam dan batu andesit di lingkungan tropis basah memunculkan risiko korosi galvanik, reaksi elektrokimia yang merembes ke pori-pori batu dan menyebabkan noda permanen yang tak dapat dibersihkan. Ini bukan argumen teoritis; ini adalah hasil observasi konservasi di berbagai situs dunia. Apakah kajian material yang komprehensif sudah selesai dan tersedia untuk publik?

5. “Reversibel”: Mudah Diucapkan, Sulit DibuktikanSalah satu argumen yang ditawarkan adalah prinsip reversibilitas: Chattra harus bisa dilepas tanpa meninggalkan bekas. Dalam dunia nyata, setiap sistem pengangkuran (anchoring) ke batu asli meninggalkan bekas, minimal lubang, minimal tekanan, minimal perubahan kimia permukaan. Tidak ada yang benar-benar “tanpa bekas” pada material berusia 1.200 tahun. Ini bukan pesimisme; ini arkeologi.

V. “Kebutuhan Spiritual”: Argumen yang Sah tapi Bukan yang TertinggiTulisan ini tidak anti agama. Sama sekali tidak. Aspirasi komunitas Buddhis Indonesia untuk menyempurnakan tempat ibadah mereka adalah aspirasi yang sah, mulia, dan dilindungi konstitusi. Tidak ada arkeolog yang berhak meremehkan kedalaman keyakinan seseorang.

Namun ada sebuah prinsip yang harus ditegakkan:Cagar budaya bukan hanya milik satu komunitas agama di satu masa. Ia adalah milik seluruh umat manusia di sepanjang masa.Borobudur adalah Situs Warisan Dunia bukan karena ia milik umat Buddha Indonesia hari ini, melainkan karena ia merupakan rekam jejak peradaban yang tak tergantikan bagi seluruh manusia. Justifikasi “kebutuhan spiritual umat kini”, meski sahih dalam konteksnya tidak dapat menjadi dasar tunggal untuk mengubah fisik situs warisan dunia.

Dan ada pertanyaan epistemik yang lebih dalam : Apakah kita yakin bahwa Chattra yang akan dipasang hari ini yang bentuknya spekulatif, materialnya modern, dan datanya parsial benar-benar merepresentasikan apa yang dimaksud oleh perancang Borobudur abad ke-8? Atau justru kita sedang memproyeksikan pemahaman spiritual hari ini ke atas sebuah monumen yang kita tidak sepenuhnya pahami?

Jika logika “kebutuhan spiritual umat” ini diberlakukan sebagai preseden, maka setiap situs dapat “disempurnakan” oleh komunitas agama mana pun berdasarkan interpretasi kontemporer mereka. Itu bukan pelestarian—itu adalah apropriasi.

VI. Kritik atas Narasi “Living Heritage”

Artikel pendukung pemasangan Chattra memanfaatkan konsep “living heritage” (warisan hidup) untuk membenarkan perubahan. Konsep ini memang nyata dan diakui UNESCO, tetapi sering disalahpahami.

Living heritage dalam kerangka UNESCO tidak berarti sebuah situs dapat dimodifikasi secara fisik sesuai kebutuhan kontemporer komunitas yang menggunakannya. Living heritage merujuk pada praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan yang terus hidup di dalam komunitas, bukan pada bangunan fisik yang diubah.

Bedanya sangat tegas : Living heritage yang sah: ritual Waisak di Borobudur, perayaan, meditasi, ziarahBukan living heritage: memodifikasi struktur fisik monument tanpa data arkeologis yang memadai

Memasang Chattra bukan praktik budaya yang hidup. Ia adalah intervensi struktur. Dua hal yang sangat berbeda.

VII. Apa yang Seharusnya Terjadi : Jalan yang Benar

Penolakan arkeologis terhadap pemasangan Chattra bukan penolakan terhadap komunitas Buddhis atau terhadap aspirasi spiritual. Ini adalah penolakan terhadap proses yang terburu-buru, terminologi yang manipulatif, dan data yang tidak mencukupi.

Jika ada kehendak tulus untuk menghormati baik warisan arkeologis maupun kebutuhan spiritual, maka jalannya jelas : Lakukan riset arkeologis komprehensif tentang fragmentasi Chattra yang ada, publikasikan hasilnya secara terbuka. Libatkan IAAI, BRIN, dan komunitas arkeolog internasional dalam dialog yang setara, bukan sekadar sebagai formalitas “konsultasi”.

Jalani Heritage Impact Assessment (HIA) yang sesungguhnya, bukan dokumen pembenar yang disiapkan setelah keputusan sudah dibuatKonsultasikan dengan UNESCO dan ICOMOS sebelum ada keputusan politik, bukan setelah.

Pertimbangkan alternatif non-struktural : replika di museum, visualisasi digital, zona ritual yang diperluas yang tidak menyentuh fisik monumen.

Borobudur bukan proyek pembangunan nasional yang boleh dikebut. Ia adalah tanggung jawab peradaban.VIII. Penutup: Antara Ambisi dan Tanggung JawabKita hidup di era di mana simbol memiliki daya gerak yang luar biasa. Sebuah puncak stupa yang kosong terasa seperti ketidaksempurnaan yang mengganggu. Sebuah “payung” di atasnya terasa seperti penyempurnaan yang sudah seharusnya.

Tapi arkeologi mengajarkan kita untuk curiga pada narasi “sudah seharusnya”. Karena sering kali, di balik keyakinan tentang apa yang “seharusnya” ada, tersembunyi asumsi yang tidak pernah diperiksa, data yang tidak pernah dicukupkan, dan keputusan yang tidak pernah dikonsultasikan.

Chattra di puncak Borobudur mungkin memang pernah ada. Mungkin. Kita tidak tahu pasti. Dan ketidakpastian itu bukan kelemahan intelektual, ia adalah kejujuran ilmiah. Kejujuran yang justru menjadi fondasi dari seluruh disiplin arkeologi.

Adaptasi boleh. Tetapi ketika penyesuaian melampaui data, ia berhenti menjadi pelestarian dan berubah menjadi penciptaan.

Dan menciptakan “sejarah baru” di atas situs warisan dunia, sekali pun dengan niat terbaik, sekali pun dengan teknologi paling canggih, sekali pun dengan dukungan politik paling kuat, adalah tanggung jawab yang tidak bisa kita bayar dengan uang, tidak bisa kita perbaiki dengan permintaan maaf, dan tidak bisa kita kembalikan kepada generasi yang akan datang setelah kita tiada.

Chattra masih berada di ruang rapat. Semoga ia tetap di sana, sampai ilmu pengetahuan bukan ambisi memberi izin.

Sumber & Rujukan Utama :

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Pasal 1 angka 30 tentang Adaptasi; Pasal tentang Rekonstruksi);

2. Kajian Teknis BRIN terhadap Stupa Induk Borobudur (2024), disimpulkan beban 1,4 ton berisiko tinggi3. Penolakan kelembagaan IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) terhadap rencana pemasangan Chattra (2024);

4. Dokumen “Undangan Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Adaptasi”, Ditjen Bimas Buddha, 13 Januari 20265. Theodoor van Erp, “Borobudur Archaeological Description” (1931), termasuk catatan pembatalan pemasangan Chattra oleh Van Erp sendiri6. UNESCO, “Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention” (edisi terbaru) tentang Outstanding Universal Value dan Heritage Impact Assessment7. ICOMOS, “The Nara Document on Authenticity” (1994) standar internasional tentang autentisitas dalam konservasi heritageYogyakarta 05 April 2026.

Sumber gambar https://yba.or.id/rencana-pemasangan-chattra-adaptasi-pada-stupa-induk-candi-borobudur-2026/

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca