Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi : 30/03/2026

L’ histoire se repete terasa benar adanya. Ya, sejarah berulang. Dan sejarah adalah guru terbaik kata Cicero, Kaisar Agung Romawi.

Indonesian telah terjerumus dalam politik kekuasaan liberal, praktek demokrasi dan moral menguap terasa makin kelam. Indonesian benar benar terperosok terlalu lama setelah UUD 45 asli dikudeta CIA dengan dukungan para profesor yang linglung menggulung negara tanpa pedoman dan kompas yang jelas.

Jika kita jujur menatap cermin, yang tampak ini bukan republik yang sedang tumbuh, melainkan kebun binatang kekuasaan, tempat para oportunis berseragam pejabat berakrobat dengan dalih demokrasi dan moralitas.

Ini adalah negara yang dikuasai oleh para medioker, di mana kebodohan dijadikan tiket masuk kekuasaan dan integritas dianggap pengkhianatan.

Artikel singkat dari Prof. Daniel M Rosyid pagi ini (30/03 ), sangat terasa sebuah kegelisahan tanpa ujung bahwa : UUD 10/8/2002 telah membuat bangsa ini kekenyangan demokrasi sebagai eskpor AS yang paling mematikan.

“Bukan rudal atau pesawat tempur dan kapal induk moralitas yang dihancurkan menjadi Bangsa yang tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Bangsa ini perlu mlungsungi dari maksiyat kebangsaaan ini dengan puasa demokrasi untuk kembali pada fithrah cita negara proklamasi sesuai UUD 18/8/1945.”

“Syahwat demokrasi  itu telah melahirkan korupsi dan fragmentasi sosial, ekonomi, dan politik secara sistemik yang jika dibiarkan akan menjadi neraka kebangsaan yang mengancam eksistensi NKRI.”

Negara ini menjadi teater demokrasi dan moral yang kacau. Para pejabat berpidato tentang integritas, sementara rekening mereka terus membengkak tanpa malu. Di parlemen, kebodohan disulap menjadi kepandaian lewat retorika kosong di televisi. Korupsi dikemas sebagai pengabdian di panggung publik, penindasan disebut ketertiban.

Ini bukan sekadar kesalahan dalam memilih pemimpin — ia adalah patologi kolektif, penyakit peradaban yang lahir dari kebiasaan mengorbankan kebenaran demi kenyamanan. Indonesia terlalu lama tersesat dalam simbol  ketika yang waras dianggap berbahaya, dan yang bejat dianggap biasa.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca