Oktober 10, 2026


Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 18/03/2026

Presiden Prabowo Subianto harus instrospeksi atas kekeliruan dan kesalahan dalam mengambil kebijakan negara dan banyaknya gangguan penghianat negara yang akan meruntuhkan kedaulatan negara.

Sama sekali bukan aib tetapi kemuliaan ketika dalam mengendalikan negara tetap bersama kekuatan rakyat Indonesia. Dan mau belajar dengan fakta ketegaran dan kekuatan ketika sebuah negara dalam guncangan  tetap bersama kekuatan rakyat.

Sekedar ilustrasi Presiden telah keliru memahami hubungan sejarah peran Amerika terkait dengan fakta sejarah kemerdekaan Indonesia :

“Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia merupakan teman sejati Amerika Serikat, meskipun secara politik menganut tradisi kebijakan luar negeri non-blok. Ia menyebutkan hubungan kedua negara memiliki akar sejarah panjang yang tidak bisa dilupakan.”

“Hal itu disampaikan Prabowo saat memberi sambutan di Gala Iftar Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026) waktu setempat”

Presiden Prabowo Subianto tidak meralat kekeliruan pernyataanya tentang _”Pernyataan bahwa rakyat Indonesia menempati peringkat tertinggi dalam tingkat kebahagiaan dunia didasari pada hasil survei tertentu, namun klaim tersebut telah dibantah dan diluruskan oleh berbagai pihak karena adanya kesalahan interpretasi atau salah baca data. 

*Disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah acara Perayaan Natal Nasional pada Januari 2026, mengaku terharu oleh hasil survei Global Flourishing Study (GFS) yang dilakukan oleh Harvard University, Baylor University, dan Gallup.

Presiden Prabowo juga jelas keliru apapun alasannya keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP)—Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Donald Trump—menjadi topik perdebatan panas dan dianggap blunder diplomatik oleh sebagian kalangan pada awal 2026.

Presiden Prabowo blunder dalam _”Perjanjian Dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada Februari 2026 telah menuai kritik keras dan kekhawatiran dari berbagai kalangan ekonom, akademisi, dan masyarakat sipil. Banyak pihak menilai perjanjian ini berpotensi merugikan kepentingan nasional bahkan membahayakan kedaulatan negara.

Kisis politik dan ekonomi sebagai dampak guncangan perang Iran dengan Amerika dan Israel tidak bisa dianggap enteng, dengan segala akibatnya.

Tidak salah belajar dari fakta : “Keberanian Traore yang tidak takut pada negara-negara barat bahkan
mengusir Prancis dan mengakhiri kerja sama militer merupakan kebijakan anti-kolonialisme Barat.

Akibat dari kebijakannya,  Traore menghadapi 19 kali upaya pembunuhan dan selamat bahkan upaya kudeta oleh  Jenderal Michael Langley, kepala militer AS di Afrika, dilibas dengan cepat karena  dukungan rakyat tegak lurus memayungi perjuangan dan kebijakan Traore.

Iran tetap menunjukkan ketegaran dan solidaritas internal di tengah tekanan eksternal dan krisis regional pada awal 2026. Pemerintah Iran mengklaim mendapatkan dukungan luas dari rakyatnya, yang ditunjukkan dukungan penuh  melawan Amerika dan Israel.

Dalam kondisi demikian Presiden Prabowo Subianto, jangan merasa bisa sendiri mengabaikan saran dan kritik rakyatnya  ketikan negara sudah menyimpang jauh dari kiblat bangsa akibat Pancasila telah dimarjinalkan dan UUD 45 telah diganti dengan UUD 2002.

Anti kritik sinyal rezim akan menjelma menjadi otoriter, jangan banyak mengancam rakyat tetapi berjalan dan berjuanglah bersama rakyatnya sebagai kekuatan yang sesungguhnya untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

-Atma


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca