Oktober 9, 2026
Gamabr ilustrasi


Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi : 28.02.2026

Rakyat sudah lelah hidup dalam ketidak pastian tidak ada ketenangan bahkan harus terus-menerus terlibat dalam percekcokan tiada henti macam-macam masalah di hulu karena masalah di hilir Pancasila di amputasi – UUD 45 diganti dengan UUD 2002.

Indonesia membutuhkan pemimpin berkarakter kuat, adil, visioner, dan tegas untuk menghadapi tantangan nasional serta global. Pemimpin yang dibutuhkan adalah sosok berintegritas tinggi, berani mengambil risiko, mengutamakan kepentingan nasional, dan mampu menegakkan hukum dengan adil, bukan sekadar retorika atau omon-omon.

Indonesian membutuhkan :

Kepala negara yang mampu memadukan ketegasan dengan kebijaksanaan untuk menghindari ketakutan, memastikan stabilitas politik, dan mewujudkan kedaulatan.

Kepala negara yang negarawan jujur, berani berbuat benar, dan tangguh dalam menghadapi tekanan dan segala ancaman demi tegaknya NKRI, bukan justru menjual kursi negara.

Kepala negara yang tokus pada kerja nyata untuk rakyat, tidak terseret pada kepentingan kelompok apalagi hanyut terbawa arus kekuatan pemilik modal yang akan menghancurkan negara.

Kepala negara yang visioner dan adaptif mampu mencerdaskan kehidupan bangsanya mampu mensejahterakan rakyat dan membawa Indonesia kompetitif secara global dalam diplomasi politik, inovasi dibidang ilmu (teknologi, ekonomi, kemandirian dan kesetaraan tidak menjadi negara mengemis tergantung kepada bangsa lain).

Kepala negara yang mampu merangkul semua pihak karena Indonesia rawan terpecah belah karena hidup dalam keberagaman suku, ras, dan aliran budaya serta agama, lahirlah semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan tamengnya adalah Pancasila.

Kepala negara yang bisa menciptakan keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan diperlukan agar Indonesia bisa maju sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat. Bukan justru sebagai antek asing.

Keadaan saat ini perang menurut konsep Martir Wight tidak selalu diukur dengan kemenangan militer konvensional tetapi perang dalam pemikiran, sebagai perlawanan (perjuangan ideologis, politik, dan militer ) terhadap kekuatan yang akan binasakan NKRI).

Di Indonesia dalam kondisi genting dan sedang menghadapi “perang nirkontak atau non-contact warfare, yang menjadi tantangan strategis yang bisa memporak porandakan pertahanan, keamanan dan kedaulatan nasional, para pejabat negara di semua level malah mudah di ajak kompromi untuk menjual kedaulatan negara.

Sadarlah… para pendiri bangsa (Founding father) sudah memberikan rambu-rambu dan peringatan dini bahwa Indonesia sangat rawan perpecahan bahkan penjajahan akan datang kembali lebih kejam dari era kolonial.

Dalam kondisi genting yang muncul justru pemimpin yang picik, kerdil, tidak memiliki keteguhan hati yang kuat merawat Bhinneka Tunggal Ika dan menjaga Pancasila bahkan terus terseret dalam arus besar ikut jualan kedaulatan negara.

Presiden Prabowo Subianto sampai saat itu belum menunjukkan Kepada Negara yang negarawan bahkan masih terlihat tidak jelas setiap mengambil kebijakan untuk menyelamatkan negara.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca