Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh: Haremen

Robert De Niro pernah berdiri di sebuah panggung, bukan sebagai aktor pemenang Oscar, melainkan sebagai warga dunia yang muak. Dengan nada tegas ia menyerukan satu pesan sederhana namun mengguncang : jangan dukung Donald Trump. Seruan itu bukan lahir dari kebencian terhadap Amerika, melainkan dari kepedulian pada martabat kemanusiaan dan masa depan dunia.

De Niro mewakili suara yang lebih luas—suara publik global yang menyadari bahwa ada batas antara kekuasaan dan keserakahan. Ada garis tipis antara intervensi politik dan penjajahan. Ketika garis itu dilanggar, sejarah tidak pernah lupa. Ia selalu mencatatnya dengan tinta darah.

Jika alasan Amerika Serikat menyerang Venezuela adalah untuk menjatuhkan Presiden Nicolas Maduro* dunia mungkin masih bisa berdebat. Argumen politik, pelanggaran demokrasi, atau krisis internal masih dapat diperdebatkan dalam kerangka hubungan internasional. Dunia bisa mengkritik, menimbang, bahkan mencoba memahami.

Namun persoalannya berubah secara fundamental ketika tujuan itu bergeser menjadi penguasaan minyak, pengendalian negara, dan pengaturan masa depan bangsa lain dari balik meja Gedung Putih. Pada titik itu, tindakan tersebut bukan lagi diplomasi. Ia adalah penjajahan dengan seragam modern. Dan penjajahan, di mana pun di muka bumi ini, selalu ditolak oleh nurani umat manusia.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, berdiri di hadapan kamera dunia dan dengan enteng menyatakan bahwa Washington akan “menjalankan” Venezuela hingga proses transisi politik dianggap aman dan terkendali. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan paling mendasar dalam demokrasi: siapa yang memberi mandat?Rakyat Venezuela tidak pernah memilih Washington. Minyak, sebesar apa pun nilainya, tidak pernah memberi hak untuk memerintah suatu bangsa.

Beberapa jam sebelum pernyataan itu disampaikan, langit Caracas telah diguncang dentuman. Peluru dan rudal berbicara lebih dulu, jauh sebelum demokrasi sempat bernapas. Amerika Serikat mengklaim telah menangkap Presiden Nicolas Maduro. Dalam konferensi pers pada hari Sabtu, Trump menegaskan bahwa Amerika tidak berniat menyerahkan kekuasaan kepada figur tertentu dalam waktu dekat.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun maknanya menakutkan. Sebab itu bukan suara penolong, melainkan suara penguasa.Peristiwa ini bukan lagi semata tentang Maduro. Ini tentang masa depan sebuah negeri kaya minyak yang kini berada di ujung tanduk, terjepit di antara kepentingan global dan kerakusan imperialisme lama yang hanya berganti wajah, tetapi tidak pernah mengganti watak.

Dunia sebenarnya telah lama berjanji : tidak lagi. Tidak lagi kolonialisme. Tidak lagi negara kuat menginjak yang lemah atas nama stabilitas, keamanan, atau demokrasi.

Jika Amerika melupakan janji itu, maka suara-suara seperti Robert De Niro akan terus bergema. Suara seniman, suara warga, suara rakyat dunia yang mengingatkan bahwa Amerika bukan pemilik dunia. Minyak bukan alasan untuk menaklukkan bangsa. Dan Trump bukan wakil nurani kemanusiaan.

Sejarah selalu adil pada akhirnya. Ia mencatat siapa yang benar-benar membebaskan, dan siapa yang menjajah dengan dalih keamanan. Dan pada hari penghakiman sejarah itu, tidak ada konferensi pers, tidak ada pidato politik, yang mampu menghapus jejak penjajahan.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca