Oktober 9, 2026

— Sutoyo Abadi : 12.01.2026

Pada Kamis 08/01 (malam Jum’at) Kajian Politik Merah Putih, mengadakan diskusi berbau pengajian antar teman sendiri, poin yang muncul dari diskusi tersebut :

Mengaku diri sebagai orang beragama, sesekali kita bersandar sejenak mendekat dengan ayat-ayat Allah SWT, bahwa dalam Surat Al-Baqarah ayat 9 menjelaskan tentang orang-orang munafik yang mengira dapat menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal sejatinya mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Ayat tersebut tersambung dengan Surah Al-‘Alaq, yang berbunyi : “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15-16)”. Istilah Arab yang digunakan adalah nasiyah (ubun-ubun atau bagian depan kepala). 

Al-Qur’an tidak memberikan “keterangan medis”, tetapi mengandung petunjuk yang menurut penemuan ilmiah kontemporer, berkorelasi dengan fisiologi kebohongan manusia, terutama pada area otak bagian depan (dahi/ubun-ubun). 

Al-Qur’an secara spesifik menyebut nasiyah (ubun-ubun) sebagai area yang “mendustakan lagi durhaka” (kāżibatin khāṭi’ah). Hal ini dianggap oleh banyak ulama dan ilmuwan sebagai salah satu mukjizat ilmiah Al-Qur’an, karena pengetahuan terperinci tentang fungsi spesifik area otak ini tidak mungkin diketahui pada zaman pewahyuan Al-Qur’an 1.400 tahun lalu. 

Dari pandangan medis (sains) bahwa penelitian neurosains modern telah mengkonfirmasi bahwa korteks prefrontal (area di bagian depan otak, tepat di belakang dahi/ubun-ubun) memainkan peran penting dalam berbagai fungsi eksekutif, termasuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan yang paling relevan, penahanan kebohongan.

Ketika seseorang berbohong, area ini menunjukkan aktivitas yang meningkat. Fungsi motivasi dan agresi juga berpusat di area ini.

  • Berbohong secara terus-menerus memicu stres kronis atau berkepanjangan. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh dan melemahkan sistem kekebalan tubuh;
  • Dapat menyebabkan berbagai gangguan mental, termasuk kecemasan, rasa bersalah, dan depresi;
  • Akan mengalami tekanan jiwa karena tindakannya bertentangan dengan hati nuraninya. Beban psikologis ini konstan karena harus terus menerus mengingat kebohongan yang telah dibuat;
  • Akan menyebabkan kegelisahan dan ketidakmurnian niat, yang secara tidak langsung berdampak pada kesejahteraan spiritual dan mental seseorang;
  • Akan menciptakan ilusi yang rapuh dan ketidakstabilan internal.

Korelasi medis dengan ayat ayat-ayat Al-Quran firman sebagai pencipta makhluk (manusia) adalah hak mutlak kebenarannya.

Hanya manusia tidak memiliki hak vonis pada sesama manusia, karena itu hak mutlak sang pencipta. Kehidupan manusia akan tergantung dari kehendak-Nya, akan mendapatkan petunjuk-Nya atau tidak, akan ditandai atau ditunjukkan pada ahir kehidupannya.

Berbeda dengan hukuman didunia atas kebohongan yang telah merusak negara adalah hak manusia atas hukum yang berlaku pada manusia (negara) tersebut.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca