Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalis PWI Pusat, Executive Director HIAWATHA Institute

Sejak manusia pertama diturunkan ke bumi, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa hidup adalah ruang netral tanpa konflik. Hidup adalah arena ujian. Dan bagi seorang Muslim, ujian itu hadir dalam bentuk dua jenis musuh : yang terlihat dan yang tidak terlihat.

1. Musuh yang Terlihat : Kebatilan yang Terorganisasi

Musuh yang terlihat bukan sekadar individu, tetapi sistem, ideologi, dan kepentingan yang berseberangan dengan nilai tauhid dan keadilan. Dalam istilah agama, ia sering disebut sebagai kekuatan kekafiran dan kemunafikan—bukan semata identitas personal, melainkan sikap hidup yang menolak kebenaran, memanipulasi moral, dan menjadikan kepentingan dunia sebagai tujuan tertinggi. Kekuatan ini bekerja secara rapi dan terstruktur. Ia menguasai :

  • Ilmu pengetahuan dan teknologi, yang seharusnya membebaskan manusia, tetapi sering diarahkan untuk kontrol dan dominasi.
  • Ekonomi, perbankan, dan keuangan, yang menjadikan utang sebagai alat penundukan dan ketergantungan.
  • Kekuasaan pemerintahan, tempat hukum dibuat bukan untuk keadilan, melainkan untuk melanggengkan kekuasaan.
  • Militer dan kepolisian, yang idealnya melindungi rakyat, namun kerap dijadikan alat represi.
  • Lembaga peradilan, yang kehilangan ruh keadilan ketika tunduk pada kepentingan.
  • Sumber daya alam, yang dieksploitasi tanpa mempedulikan amanah dan generasi mendatang.
  • Pendidikan dan kurikulum, yang menghilangkan ruh moral dan spiritual, menggantinya dengan pragmatisme kering.
  • Budaya dan sosial-politik, yang secara perlahan menjauhkan manusia dari fitrah.

Ironisnya, ketika umat Islam menjadi mayoritas, bukan nilai-nilai Islam yang ditegakkan, melainkan tatanan hidupnya justru dirusak dari dalam—mulai dari rumah tangga, pola pendidikan anak, hingga tata kelola negara.

Mayoritas jumlah tidak pernah otomatis berarti mayoritas kesadaran.

2. Musuh yang Tidak Terlihat, Iblis dan Bisikan yang Halus

Musuh kedua jauh lebih berbahaya karena ia tidak kasat mata, iblis dan setan. Ia tidak datang dengan senjata, tetapi dengan bisikan. Ia tidak memaksa, tetapi membujuk. Ia tidak menyuruh berbuat jahat secara frontal, tetapi membungkus kebatilan dengan logika, dalih modernitas, dan narasi “kenormalan”.

Setan bekerja dari dalam diri, menjadikan Muslim lalai, bukan selalu kafir.

Membuat umat sibuk berdebat, tetapi lupa berbenah

Mengubah agama menjadi simbol, bukan sistem hidup. Meninabobokan dengan ritual, namun mematikan keberanian melawan ketidakadilan.

Jika musuh yang terlihat merusak struktur eksternal, maka musuh yang tidak terlihat meruntuhkan fondasi internal, iman, kesadaran, dan keberanian moral.

Pertarungan yang sesungguhnya kesalahan terbesar umat Islam hari ini adalah mengira musuh utama selalu berada di luar. Padahal sejarah menunjukkan, setiap keruntuhan peradaban Islam selalu diawali oleh kerusakan internal, lalu disempurnakan oleh tekanan eksternal.

Islam tidak mengajarkan paranoia, tetapi kewaspadaan. Tidak mengajarkan kebencian, tetapi keteguhan prinsip. Tidak mengajarkan kekerasan, tetapi perlawanan moral dan intelektual.

Selama umat Islam tidak menguasai ilmu dengan nilai, tidak membangun ekonomi dengan keadilan, tidak mendidik generasi dengan akidah dan akhlak, tidak menempatkan kekuasaan sebagai amanah maka musuh yang terlihat maupun yang tidak terlihat, akan terus menang tanpa perlu mengangkat senjata.

Penutup

Setiap Muslim memang lahir dengan dua musuh. Namun Islam juga memberi dua senjata utama, iman yang sadar dan akal yang merdeka. Tanpa keduanya, umat hanya akan menjadi penonton sejarah, mayoritas secara jumlah, tetapi minoritas secara pengaruh. Dan di situlah tragedi terbesar umat Islam hari ini.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca