Oktober 10, 2026

SANG PENYEMBUH ATAS IZIN ALLAH

Oleh: M. Syarif Hidayatullah, S.Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۖ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah) bagimu, jika kamu orang yang beriman.'” (QS. Ali ‘Imran: 49)

Setelah mukjizat berbicara dalam buaian yang menggemparkan kaumnya, Nabi Isa ‘alaihissalam tumbuh dalam naungan ilmu dan kenabian. Kini, di usia dewasa, beliau diutus khusus kepada Bani Israil—kaum yang tengah dilanda kemerosotan spiritual dan penyimpangan ajaran Tauhid. Di tengah kaum yang keras kepala dan materialistis ini, Allah menganugerahkan serangkaian mukjizat indrawi yang tak terbantahkan. Mukjizat-mukjizat ini bukan sekadar tontonan magis, melainkan “ayat” atau tanda kebesaran Ilahi yang disesuaikan dengan kecenderungan kaumnya yang rasional dan membutuhkan bukti nyata.

Secara berurutan, inilah mukjizat-mukjizat agung yang diberikan kepada Nabi Isa, masing-masing mengandung hikmah dan pelajaran mendalam:

١. “أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ”

“Sesungguhnya aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah.”

Mukjizat pertama ini adalah sebuah demonstrasi kreatifitas ilahiyah. Nabi Isa mengambil tanah liat, membentuknya dengan tangannya menjadi replika burung yang sempurna, lalu meniupnya. Seketika itu pula, tanah liat itu berubah menjadi burung hidup yang beterbangan dengan izin Allah.

Ulama tafsir seperti Al-Baghawi menjelaskan bahwa mukjizat ini adalah jawaban atas skeptisisme kaumnya tentang penciptaan manusia dari tanah. Jika mereka meragukan penciptaan Adam, maka Nabi Isa menunjukkan proses miniatur penciptaan di depan mata mereka. Setiap kepakan sayap burung itu adalah seruan: “Lihatlah, kehidupan berasal dari tanah dengan Kehendak-Nya. Tidakkah kalian mengambil pelajaran?”

٢. “وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ”

“Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.”

Dua penyakit yang dianggap tak tersembuhkan pada masa itu disembuhkan oleh Nabi Isa. Al-Akmah adalah kebutaan sejak lahir, di mana mata tidak pernah melihat cahaya sama sekali. Al-Abrash adalah kusta, penyakit yang tidak hanya merusak fisik tetapi juga mengucilkan penderitanya secara sosial. Dengan izin Allah, sentuhan atau doa Nabi Isa mampu memulihkan penglihatan dan menyucikan kulit. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menekankan bahwa ini adalah isyarat tentang kekuasaan Allah menyembuhkan “kebutaan hati” dan “penyakit dosa” yang menghitamkan jiwa. Jika Ia sanggup memulihkan mata yang tak pernah melihat, bukankah Ia lebih sanggup memberi “cahaya” kepada hati yang gelap?

٣. “وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ”

“Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.”

Inilah puncak mukjizat medis. Menghidupkan orang mati adalah domain kekuasaan Allah semata, dan Dia menganugerahkannya kepada Nabi Isa sebagai bukti terbesar kenabiannya. Dalam riwayat-riwayat, disebutkan beberapa orang yang dihidupkan kembali, seperti seorang anak laki-laki yang telah meninggal dan dibawa oleh ibunya untuk “disaksikan” kematiannya oleh Nabi Isa, lalu dihidupkan kembali. Mukjizat ini adalah tamparan keras bagi materialisme Bani Israil. Mereka yang hanya percaya pada yang kasat mata dipaksa untuk mengakui bahwa ada Kekuatan di atas segalanya yang menguasai hidup dan mati. Kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah keadaan yang bisa dibalikkan dengan Kalimat-Nya, “Kun!”

٤. “وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ“

“Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.”

Mukjizat terakhir ini unik dan bersifat psikologis. Nabi Isa mampu memberitahu hal-hal privat yang hanya diketahui oleh masing-masing individu: apa yang mereka makan siang tadi, atau harta apa yang mereka sembunyikan di rumah.

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa mukjizat ini langsung menyentuh relung hati dan pikiran setiap orang. Ia membongkar topeng kemunafikan dan kepura-puraan. Jika Nabi Isa tahu rahasia lahiriah mereka, bukankah ia—dengan wahyu dari Allah—juga tahu rahasia batin dan niat-niat tersembunyi mereka? Mukjizat ini adalah pengingat akan ilmu Allah yang Maha Meliputi, yang mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.

Dari perspektif sosiologis, rangkaian mukjizat ini adalah sebuah “argumentasi lengkap” untuk masyarakat Bani Israil yang rasional namun keras hati. Mukjizat burung dari tanah menjawab pertanyaan metafisik tentang asal-usul kehidupan. Mukjizat penyembuhan memenuhi kebutuhan praktis dan humanis. Mukjizat menghidupkan orang mati menegaskan kekuasaan tertinggi atas takdir. Sementara mukjizat mengetahui yang gaib menyentuh sisi psikologis dan moral setiap individu. Semuanya diakhiri dengan frasa kunci, “بِإِذْنِ اللَّهِ” (dengan seizin Allah), yang terus-menerus mengingatkan bahwa sang Nabi hanyalah perantara, sementara kekuatan sejati mutlak milik Allah semata.

Di era sains dan teknologi ini, kita sering terjebak dalam “mukjizat” logika semata. Kita hanya percaya pada apa yang bisa diuji di laboratorium dan dihitung oleh statistik. Kisah Nabi Isa mengajarkan kita bahwa ada dimensi kekuasaan Allah yang melampaui hukum alam yang kita pahami. Mukjizatnya adalah pelajaran kerendahan hati bagi akal manusia. Betapa sering kita, seperti Bani Israil, meminta “bukti” yang spektakuler, namun ketika bukti itu datang, kita justru menolaknya karena ego dan kedegilan kita.

Mukjizat terbesar sebenarnya bukanlah burung dari tanah atau orang mati yang hidup, melainkan hati yang mau beriman dan tunduk ketika kebenaran telah tampak dengan jelas.
Wallahu a’lam bish-shawwab…


Bersambung…
Ikuti kisah penuh hikmah selanjutnya dalam: Kisah Isa Al-Masih (Bagian #3): HIDANGAN DARI LANGIT DAN UJIAN IMAN


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca