Oktober 10, 2026

GURU KAYA ITU PAMIT UNTUK MENJADI GENERAL OF THE ARMY DAN GURU BANGSA

Oleh: Utomo Dwiharsanto, Kader Muhammadiyah Grabag dan Redaktur Medsos PCM Grabag

Merinding ketika Penulis, membaca kata-kata perpisahan seorang Guru SD kepada para muridnya untuk pamit berjuang membela bangsa dan negaranya.

Kala itu, di suatu hari, tahun 1944, seorang Guru disertai rekannya, mengunjungi Sekolah Rakyat didamping Kepala Sekolah dan para Wali Kelas. Setiap kelas dimasukinya. Guru tersebut kemana-mana selalu berpeci hitam, berkemeja putih dan bercelana panjang berwarna krem.
Dalam satu kelas Guru tersebut mendekati meja paling depan, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas, kemudian uluk salam dan memperkenalkan diri dan berkata:

“Saya Soedirman, dan ini Pak Isdiman.”
“Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nippon……”

Beliau menghela napas, melihat semua murid tertegun. Dengan penuh seksama dan ingin tahu mereka mendengarkan apa yang disampaikan Guru tersebut.

Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, “Saya minta pangestu semoga berhasil. Anak-anak yang sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara.”
Sontak, seluruh murid yang berada dalam kelas serentak menjawab, “Nggih, Pak!” (“Iya, Pak”).
Guru tersebut mengakhiri kunjungannya dengan menyalami para murid sambil meninggalkan ruangan. Isdiman, temannya selalu mengikuti di belakangnya, seakan mengawal dan mendampingi jadwal sang Guru hari itu.

Perkenalan, pamitan dan pesan singkat itulah yang beliau lakukan di sejumlah sekolah di Kepatihan, Cilacap, juga di HIS Moehammadijah (Hollandsch Inlandsche School) tempatnya mengajar. Bahkan di sekolah tersebut, Beliau juga seorang Kepala Sekolah.

Pak Guru Dirman selain mengajar juga menjadi anggota Syu Sangikai (semacam dewan perwakilan), kemudian anggota Jawa Hokokai Karesidenan Banyumas.

Setelah berpamitan pada para murid, maka Beliau beserta rekan yang mengikutinya selama jadwal pamitan ke sekolah tersebut mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor, dan kemudian ditempatkan sebagai Daidancho (komandan Batalyon) Daidan III di Kroya, Banyumas.

Kelak, setahun kemudian, sang Guru tersebut berpangkat Kolonel memimpin Divisi V Banyumas dan rekannya berpangkat Overste (Letnan Kolonel), memimpin Resimen TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Purwokerto.

Guru tersebut memang bernama Raden Soedirman dan sang rekan yang selalu mendampingi bernama Isdiman Suryokusumo. Overste Isdiman, gugur kala memimpin pertempuran ‘Palagan’ Ambarawa, 16 November 1945.

Kemudian pada Konferensi TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR, sambil masih merangkap jabatan Komandan Divisi V Banyumas. Kelak Soedirman menjadi Panglima Besar TNI pada 27 Juni 1947 dan dianugerahi pangkat Jenderal Besar (jenderal dengan bintang 5 di pundak) pada 30 September 1997 oleh Pemerintah. Jenderal Besar Bintang Lima adalah General of Army untuk Amerika Serikat atau Field Marshal di Inggris.

Soedirman seorang Guru?

Memang! Soedirman memang asli seorang guru.
Seperti ditulis di atas, Soedirman adalah Guru dan Kepala Sekolah HIS Moehammadijah (SD Muhammadiyah, jika sekarang) di Cilacap. Walau tidak punya ijasah Guru, Soedirman yang juga sering dipanggil teman-temannya dengan panggilan akrab “Kajine” (karena terkenal alim diantara kawan-kawannya dan dihormati massyarakat karena ketaatanya dalam ibadah), namun beliau tetap dipercaya oleh tokoh dan pimpinan Muhammadiyah Cilacap, R. Mohammad Kholil serta lembaga pendidikan Muhammadiyah setempat untuk mengajar di HIS tersebut. Meskipun tidak punya ijasah, tetapi beliau memang pernah sekolah khusus guru sebelumnya, yaitu HIK (Hollandsche Indische Kweekschool) Moehammadijah di Surakarta Hadiningrat (sekarang dikenal dengan Kota Solo), Jawa Tengah. Namun ia tak menamatkan sekolahnya di sana, dikarenakan terbentur masalah biaya pendidikan.

Raden Soedirman dilahirkan di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916 dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem. Lahir di Purbalingga namun ketika masih kecil, keluarganya pindah ke Cilacap. Ia kemudian diadopsi oleh pamannya, Raden Cokrosunaryo yang seorang priyayi dan Camat. Setelah cukup umur Soedirman kecil disekolahkan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Cilacap. Di masa Hindia Belanda, HIS adalah sekolah setingkat SD (Sekolah Dasar) sekarang dengan lama pendidikan 7 (tujuh) tahun.

Di HIS Cilacap ini Soedirman kecil tumbuh menjadi seorang siswa yang rajin dan pandai. Kemudian, setelah lulus dari HIS, pada tahun 1934 Soedirman melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Parama Wiworotomo milik Taman Siswa. MULO adalah sekolah setingkat SMP jaman sekarang. Selepas lulus dari MULO Cilacap, Soedirman muda kemudian melanjutkan sekolah untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menjadi seorang Guru di HIK Surakarta. Oleh karena keterbatasan dana, di tahun 1936 Soedirman terpaksa harus putus sekolah dan kembali ke Cilacap, dan mengabdikan dirinya sebagai seorang Guru di HIS Moehammadijah Tjilatjap (ejaan dulu sebelum sekarang menjadi Muhammadiyah).

Menyadari belum memiliki ijasah dan ‘brevent’ seorang Guru, untuk menutupi kekurangannya, Soedirman muda tak kurang akal. Ia melakukan pendekatan dan ‘mengikuti les privat’ pada para gurunya di MULO Parama Wiworotomo dulu. Selain itu, Soedirman juga banyak belajar tentang pengetahuan keguruan dari para pimpinan Muhammadiyah Cilacap dan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah.

Pendek kata, apapun dilakukannya untuk selalu mendapatkan ilmu keguruan pada siapapun di Cilacap. Hasil dari usahanya itulah maka Soedirman muda, kala itu berusia 20 (dua puluh tahun) dapat diangkat menjadi Guru HIS Moehammadijah Cilacap dan selanjutnya menjadi meniti karir menjadi Kepala Sekolah.

Selain menjadi Guru, Soedirman muda adalah Kader Muhammadiyah tulen. Menjadi Kader Muhammadiyah dijalaninya semenjak beliau masih di tingkat SMP/MULO Cilacap. Ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti aktivitas organisasi Pemuda Muhammadiyah dan Padvinders Muhammadiyah atau Kepanduan (sekarang Pramuka) Hizbul Wathan (HW). Karena semangat berorganisasi dan kepemimpinannya beliau pada tahun 1937 memimpin Pemuda Muhammadiyah di Banyumas, disamping sebagai pimpinan Hisbul Wathan di sana. Saat menjadi pimpinan HW beliau menyelenggarakan 3 (tiga) program pendidikan pokok yang dilaksanakan oleh kader-kader HW, yaitu pendidikan rohani, pendidikan jasmani (antara lain Sepakbola dan latihan Perang-perangan), dan program karya bakti untuk memupuk jiwa bela negara kader-kader HW dan Pemuda Muhammadiyah. Karena kontribusi beliau di HW inilah maka beliau saat ini dikukuhkan sebagai Bapak Pandu Hisbul Wathan oleh Kongres HW di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2023.

Selain sebagai aktivis organisasi, Soedirman juga adalah seorang atlit sepakbola kala itu. Posisinya adalah pada Back dan Striker pada kesebelasan HW dan Banteng Muda Cilacap, bahkan kadangkala jadi Kapten. Karena keaktifan beliau pula di organisasi sepakbola maka beliau juga menjadi Ketua Pesatuan Sepakbola Banjoemas (setingkat karesidenan Banyumas).

Sebagai seorang Guru, Soedirman adalah “Guru yang Kaya”. Guru Kaya bukan diartikan sebagai Guru yang mempunyai finsial dan kedudukan baik, namun lebih dapat diartikan sebagai guru yang kaya ilmu, wawasan, karakter dan berkepribadian terbaik. Kaya ilmu dan wawasan berarti memiliki pengetahuan mendalam, kaya karakter dan berkepribadian berarti memiliki sifat positif dan mampu menanamkannya pada siswa termasuk di dalamnya memberikan contoh semangat belajar pada para siswanya.

Apakah Soedirman sebagai Guru (yang) Kaya, juga kaya atau mandiri dalam finansial?

Jawabannya adalah “Tidak”. Ia hidup dari menumpang di mertuanya, ayah dari ibu Alfiah istrinya. Saat menjadi seorang guru di HIS Moehammadijah Cilacap Soedirman merupakan sosok yang sederhana. Bahkan gajinya saat itu pun hanya sebesar 3f )Gulden) perbulan. Sebuah gaji yang tidak besar. Namun walaupun mendapatkan gaji yang sedemikian Soedirman tetap mengajar dengan ikhlas dan gembira. Gaji yang kecil bukanlah alasan bagi beliau untuk bekerja semaunya. Bagi beliau gaji kecil bukanlah sebuah masalah. Jika Soedirman ingin gaji yang besar sebenarnya bukanlah hal yang sulit untuk beliau dapatkan di tempat lain, terlebih beliau saat itu memiliki jabatan penting di Muhammadiyah maupun organisasi penting lainnya Cilacap.

Dari kegigihan dan keikhlasannya akhirnya beliau diangkat menjadi Kepala Sekolah HIS Moehammadijah dengan gaji 12,5f (Gulden) sebulan. Jelasnya bagi Soedirman pekerjaan sebagai pengajar (guru) didasarkan atas keikhlasan dan kesadaran serta rasa tanggungjawab akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak usia belia, sebagai modal perjuangan bangsa selanjutnya.

Sebagai seorang Guru, Soedirman, menurut murid-muridnya, cara mengajar Pak Guru Soedirman tidak monoton. Ia kadang membumbui aktivitas mengajarnya dengan canda. Kerap kali pelajaran yang ia sampaikan diselingi dengan pesan agama dan nasionalisme. Kerap pula dalam pengajarannya, selipan kisah-kisah pewayangan dan cerita-cerita tradisional disampaikan, sehingga waktu pembelajaran bagi para siswanya menjadi hidup, tidak monoton dan mudah dimengerti. Mungkin karena gaya mengajarnya inilah, disamping kinerja dan kegigihan belajar dan mengajar, disamping beliau juga banyak disukai oleh rekan-rekan guru di sekolah dan juga ini meningkatkan kepercayaan pimpinan Muhammadiyah Cilacap maka lambat laun beliau dipercaya menjadi Kepala Sekolah.

Menjabat sebagai kepala sekolah, Soedirman sering pula mengerjakan banyak hal. Selain menuntaskan tugas-tugas administrasi sekolah, ia juga kerap menyelesaikan konflik yang terjadi di antara guru-guru di sekolah, mengatasi keterbatasan fasilitas sekolah dan sebagainya. Antara lain yang dilakukan adalah aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah maupun untuk pembangunan lainnya.

Sebagai Pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan Hisbul Wathan di Banyumas, Soedirman juga ‘seorang guru’ bagi para kader organisasinya. Ia banyak memiliki gagasan, memberikan teladan, contoh dalam perbuatan, tindakan dan ucapannya serta membuat berbagai kegiatan dan kurikulum pengembangan kader-kader juniornya.

Bagi Soedirman, berorganisasi dan menjadi guru adalah pengabdian, bukan tempat mencari penghidupan. Baginya, bukankah yang besar itu adalah organisasinya. Besarnya dan mekarnya organisasi bukan berarti harus besar dan mewahnya si pemimpin. Barangkali, semangat ber-Muhammadiyah dan slogan Kyai Ahmad Dahlan turut menjadi pedoman hidupnya, yaitu “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”.

Kelak, setelah Soedirman menjadi Panglima Besar, memimpin Tentara Nasional Indonesia (TNI) Republik Indonesia, beliau tidak hanya menjadi pimpinan tertinggi tentara, namun beliau juga dianggap sebagai “Guru Tentara” bagi anak buahnya dan bahkan menjadi idola tentara Indonesia di masa kini. Petuah nasehat, slogan dan juga tindakan, keteguhan hati, sikap perilaku dan tindakannya dijadikan ‘patron bagi’ Tentara Indonesia sampai saat ini. Ia sampai kini menjadi salah satu Legenda Tentara Indonesia.

Kesetiakawanan esprit de corps yang dia ajarkan begitu membekas di dada anak buahnya ketika memimpin Gerilya di hutan-hutan dan pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ajaran Soedirman meliputi patriotisme, nasionalisme, semangat juang pantang menyerah, kesederhanaan, disiplin militer, serta “kemanunggalan” tentara dengan rakyat sampai saat ini masih dipakai dan diterapkan pada berbagai bidang kemiliteran. Ajaran Soedirman, selain hal-hal tersebut, juga menyangkut spiritualitas keagamaan. Ajarannya tentag spiritualitas agama yaitu menjaga kesucian diri (wudhu), salat berjamaah, keikhlasan, dan salat malam sebagai “jimat” perjuangan, serta cinta tanah air sebagai bagian dari keimanan (hubbul wathan minal iman).

Dari tulisan di atas, Penulis menyimpulkan, bahwa sosok Soedirman, adalah bukan hanya seorang Guru biasa, namun beliau adalah seorang Guru Kaya, yang dapat dijadikan panutan bagi bangsa ini, jadi Guru Bangsa. Ajarannya, ucapannya, perilaku dan tindakannya, keteguhan hati dan semangat, serta contoh keteladannya layak dijadikan pedoman hidup bagi bangsa Indonesia.

Selamat Hari Guru, Selamat menjadi Guru Kaya.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca