Oktober 10, 2026
Foto: Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Paciran Jawa Timur

PESANTREN MUHAMMADIYAH

Oleh : M. Saad Ibrahim (Ketua PP Muhammadiyah)

Belakangan semakin bermunculan pesantren-pesantren Muhammadiyah. Data tahun 2023 tercatat berjumlah 446 pesantren yang tersebar secara tidak merata di berbagai propinsi. Setelah lama hal tersebut terabaikan, belakangan Muhammadiyah membentuk lembaga pengembangan pesantren. Dengan harapan semakin berkembangnya pesantren milik organisasi ini, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Tentu arahnya harus tepat. Untuk konteks seperti inilah, upaya menemukan paradigma utama kepesantrenan Muhammadiyah menjadi niscaya. Tidak sekedar mendirikan dan mendirikan tentunya.

Mengacu pada uraian di atas, maka pesantren Muhammadiyah mempunyai visi menjadi pranata yang unggul menuntaskan penguasaan nushush, melalui pemahaman yang komprehensif berbasis pada ‘ulum Al-Qur’an dan Al-Hadits, kemudian memposisikan nushus sebagai basis teologis berbagai pengetahuan, dan mencerahkan pemahaman nushush itu sendiri dengan cahaya ilmu pengetahuan. Dengan demikian dua gerak ini dilakukan untuk menjadi landasan utama bagi terwujudnya kelahiran kembali peradaban Islam. Moga Allah melempangkan jalan ke arah tersebut, melalui, terutama Pesantren Muhammadiyah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah, Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta

Konsep tentang al-Imamah al-Islamiyah (kepemimpinan Islamiy), antara lain diajukan oleh Al-Mawardiy melalui karyanya al-Ahkam al-Sulthaniyyah, sebagai: Pemerintah adalah sesuatu yang dibuat untuk meneruskan misi kenabian dalam hal menjaga eksistensi agama, dan mengendalikan urusan dunia. Konsep tersebut untuk diterapkan di pesantren Muhammadiyah dengan pertimbangan menghindari munculnya kekuasaan absolut personal, maka diangkat seorang kiai yang memahami menjiwai nushush secara mendalam dan memiliki karakter sebagai leader.

Di samping itu juga diangkat seorang direktur yang memahami dan menjiwai manajemen pesantren. Kiai bertanggungjawab untuk segala hal yang terkait dengan pemahaman dan penjiwaan nushush, serta proyeksi non fisikal pesantren. Sedangkan direktur bertanggungjawab untuk segala urusan yang terkait dengan finansial, pembangunan, branding, marketing, jaringan, seluruh cost yang diperlukan untuk pesantren dengan segala kegiatan belajar-mengajar, dan proyeksi fisikal pesantren. Tetu ini semua harus tetap memperhatikan rambu-rambu nushush dan paradigma sains.

Sudah seharusnya diupayakan terwujudnya Pesantren Muhammadiyah Sistemik (PMS). Dimaksud dengan PMS adalah model tunggal pengelolaan Pesantren Muhammadiyah yang menjadi brand dan jaminan bahwa Pesantren Muhammadiyah Islami, maju, kredibel, dipercaya oleh masyarakat di mana pun, menghasilkan lulusan yang menguasai dan menjiwai nushush, memahami dan mengembangkan sains (dan teknologi) baik dalam konteks teologis maupun teleologis. Upaya menghasilkan rumusan PMS, harus menjadi perhatian utama pemangku Pesantren Muhammadiyah.

PMS meliputi: sistem peribadatan, sistem belajar-mengajar, sistem kepemimpinan, sistem pengelolaan keuangan, sistem pemodelan wujud fisik pesantren, sistem penerimaan santri, sistem kolaborasi, sistem pengelolaan lingkungan, sistem penerimaan tamu, sistem relasi santri, ustadz, direktur, kiai, satu sama lain, sistem legalisasi vertikal dan horizontal antara pesantren dan Muhammadiyah, sistem manajemen resiko di semua aspek. Hal-hal antara lain berikut bisa dijadikan bahan perumusan PMS: Unity untuk hal-hal yang pokok, dan diversity untuk yang bukan pokok, menjamin kualitas pengelolaan dan hasilnya, mudah dikenali, dan dipercaya oleh masyarakat, mengurangi bahkan menghindarkan ketergantungan personal, memanfaatkan seluruh potensi yang ada.

Tentu upaya merumuskan PMS ini seharusnya melibatkan banyak pihak, terutama pemangku pesantren dan stake holdemya.

Kontributor: Tim Kajianmuh
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca