
Beberapa minggu terakhir, Indonesia tanpa sadar sedang kuliah ekonomi massal.
Dosennya bukan di Harvard atau Universitas Indonesia bukan juga dari Universitas Gajam Mada. Tapi, Purbaya Yudhi Sadewa, si Menteri Keuangan yang bergaya koboi, dan Dedi Mulyadi (KDM), gubernur yang bicara pakai logika rakyat.
Mata kuliahnya? “Floating Money dan Dana Mengendap.” Materinya? Triliunan rupiah uang rakyat. Lucunya, semua orang jadi murid. Mulai dari guru SD sampai pejabat BUMN. Semuanya ikut nimbrung, diskusi, analisa, bikin thread, bahkan debat. Dan untuk pertama kalinya, masyarakat bicara ekonomi dengan antusiasme politikus kampanye.
Purbaya Efeck !!!
Lihat komentar netizen cerdas, tajam, namun santun. Dari “Guru Matematika” sampai ibu rumah tangga ikut buka data. Rasanya kayak Indonesia tiba-tiba punya jutaan analis ekonomi baru, Dan Ini keren, ini literasi publik yang hidup. Satu langkah lagi menuju bangsa melek keuangan. Tapi… seperti biasa, di balik keramaian kelas, selalu ada “ujian akhir” yang lebih dalam.
Pelajaran lanjutan tentang versi Don Baros
Pelajaran Pertama Pak Purbaya, Bukan Inkonsisten, Tapi Main di Dua Dimensi, Banyak yang bilang, Pak Purbaya inkonsisten, Deposito dikritik, giro juga dikritik. Lalu Muncul Pertanyaan yang sama dari publik Mau nya apa sih?” Nah, ini salah kaprah, Pak Purbaya itu bukan inkonsisten, dia cuma main di dua layer ekonomi sekaligus.
Bayangkan uang daerah itu seperti mobil dinas.
Kalau uang daerah disimpan di Deposito, itu kayak mobil yang diparkir di garasi. Aman, tapi diam. Nggak nganter rakyat ke pasar, nggak nyicil pembangunan. Pak Purbaya bilang: “Jalankan mobilnya! Gerakkan ekonomi, jangan disimpan.” Tapi kalau uang daerah disimpan di Giro, itu kayak parkir di pinggir jalan tanpa pengaman. Bisa digas sama orang lain. Bank pakai buat kredit, pejabat dapet fee, rakyat cuma dapet cerita.
Makanya, Mas Pur bukan inkonsisten, Dia bilang: kalau mobilnya harus parkir, parkir lah di tempat yang menghasilkan (Deposito). tapi kalau bisa, ya jalanin buat rakyat.
Simple. Tapi kena.
Pelajaran Kedua “Sisi Gelap Floating Money”
Di Sini Uangnya Hilang. Nah, di sinilah kelas ekonomi berubah jadi film thriller. Ada komentar menarik: “Bahaya tuh, uang di giro bisa dijual ke kredit jangka pendek. Selisih bunga dibagi dua.” Dan Boom inilah yang disebut Don Baros, floating money corruption.
Modus lama, wajah baru.
Dana APBD ditaruh di giro, bank pakai uang itu buat puterin kredit, selisih bunga dibagi dua antara Bank dan oknum pemda, Legal di kertas, tapi ilegal di hati nurani. Kasus nyata?\Kasus Fee BPD, dana Rp 360 miliar dari APBD “mengalir” ke pejabat lewat skema fee Bank. lanjut Kasus Anambas: pejabat dapat “hadiah” mobil & motor dari Bank karena rajin naruh dana daerah di situ.
Itu bukan rumor, Itu fakta.
Dan kalau diperhatikan wajah Pak Purbaya saat bahas “Giro”, ada gerakan halus di alisnya
kode keras bahwa dia tahu kotak pandora-nya baru kebuka sedikit.
Dari Murid Dadakan Jadi Pengawal Uang Rakyat
Inilah momen pentingnya, Kita bukan lagi penonton debat, Kita adalah lulusan kelas ekonomi dadakan versi 2025, Dan tugas kita sekarang: mengawal uang daerah agar tidak jadi bancakan, Wajib Yang harus publik sorot adalah oknum-oknum yang main di bawah meja, Yang bicara manajemen keuangan, tapi hatinya manajemen untuk keuntungan pribadi dan golongannya.
Jadi, mulai dari kita.
Jadi pengawas, bukan pengamat, Karena kalau rakyatnya cerdas, koruptornya kejang. Karena Ekonomi itu bukan cuma angka. Ia punya moral, punya arah, punya nilai. Pak Purbaya menyalakan obor literasi. maka tugas kita para “lulusan kelas dadakan” adalah menjadi Komisi Kawal Floating Money (KKFM) versi rakyat.
Negeri ini nggak kekurangan uang.
Yang kurang itu, integritas dan keberanian menjaga uang tetap terang. Selamat, murid ekonomi rakyat. Kamu lulus dengan nilai A+. Hanya berdasarkan pengalaman dan berbagi pengetahuan
Kabar Jabar / semutibrahim.com / Konsolidasi Forum / Komite Kemanusiaan
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.