Oktober 10, 2026
ilustrasi gambar semut ibrahim news / kabar jabar

Kasihan bangsa

Yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum susu yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa

yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa

yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa

Yang tidak pernah angkat suara, kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa

Yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa

Yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa

Yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu, dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa

Yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.

Kasihan bangsa

Alamnya yang indah, sawahnya hijau sepanjang masa tapi banyak penjahat dan orang bodoh dijadikan pemimpin negara.

Kasihan bangsa

Hasil laut, tambang dan hutannya seperti sorga di dunia, Tapi banyak rakyatnya menderita, Karena kejujuran dan keadilah telah sirna.

Kasihan bangsa

Tempat-tempat ibadahnya penuh Puja dan puji selalu menggema, Tapi para pencuri tertawa-tawa Karena mereka bebas semaunya.

Puisi Khalil Gibran / Red Team Semut ibrahim News / Kabar Jabar / Forum Konsolidasi / Komite Kemanusiaan. Keprihatinan Terhadap Kondisi Bangsa Yang Dikuasai Oleh Kebodohan Dan Memilih Orang Bodoh Menjadi Pahlawan.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca