Oktober 9, 2026
Ilustrasi gambar dari ALif.id

Ahlul Sunah Wal Jama’ah (ASWAJA) tidak bisa lepas dari tokoh Abu Al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asyari (Abu Hasan Asy’ari).

Abu Hasan Asy’ari berguru kepada seorang tokoh Mu’tazilah Abu Ali al-Jubbaa’i sejak belia. Karena kecerdasannya Abu Hasan Asy’ari dihormati oleh penganut Mu’tazilah, beliau sering menggantikan gurunya berdebat.

Fase kemuktazilahan Abu Hasan Asy’ari hingga usia 40 tahun, kemudian beliau mengasingkan dirinya dan sampai pada kesadaran setelah beliau bermimpi berjumpa Nabi Muhammad SAW.

“Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dengan berjama’ah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS: 3/103)

ORMAS ASWAJA DI INDONESIA

1. Jamiat Khair (al-Jam’iyah al-Khairiyyah)

Jamiat Khair (al-Jam’iyah al-Khairiyyah) adalah ormas Islam pertama yang didirikan di Indonesia pada tahun 1901, dan pada tanggal 17 Juli 1905 Jamiat Khair mendapatkan izin resmi dari Pemerintah Hindia Belanda di Batavia sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Hindia Belanda mengizinkan dengan syarat tidak boleh membuka cabang-cabangnya di luar Batavia, meskipun sejak tahun 1903 telah mengajukan untuk di akui sebagai organisasi/perkumpulan namun baru 1905 di akui oleh londo (red).

Jamiat Khair didirikan oleh Habib Abubakar bin Muhammad Alhabsyi, Habib Abubakar bin Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, Sayid Muhammad Al-Fakir bin Abn Al Rahman Al Mansyur, Sayid Idrus bin Ahmad Shahab, Sayid Ali bin Ahmad Shahab, Habib Abubakar bin Abdullah Alatas, Sayid Muhammad bin Abdurrahman Shahab dan Sayid Syechan bin Ahmad Shahab.

Harmoni Tanpa Rasisme  di Jamiat Khair

Pada tahun 1911 M, dilaksanakan Kongres pertama Jamiatul Khair. Salah satu keputusan pentingnya adalah mendatangkan guru-guru agama dari Timur Tengah ke Indonesia.

Jamiat Khair sejatinya merupakan organisasi yang terbuka bagi siapapun, meski mayoritas anggotanya merupakan orang-orang Arab keturunan. Tokoh-tokoh non Arab yang tercatat pernah menjadi anggota ormas Jamiat Khair antara lain : K. H. Ahmad Dahlan dan Raden Hassan Djajadiningrat. Tokoh-tokoh Islam berikut pun lahir dari Jamiat Khair, antara lain : Kyai H. Oemar Said Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), Kyai H. Samanhudi (tokoh Sarekat Dagang Islam), H. Agus Salim dan Habib Idrus bin Salim Aljufri (pendiri Alkhairaat).

2. Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 M/8 Dzulhijjah 1330 H. Pada masa kepemimpinan Kiai Dahlan (1912-1923) Muhammadiyah telah memiliki cabang-cabang di Pulau Jawa (Surakarta dan Pekalongan).

Haji Abdul Karim Amrullah (HAMKA) adalah orang pertama yang membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat pada tahun 1925, dan cabang-cabang Muhammadiyah pun berkembang pesat, dalam kurun waktu yang relatif singkat, hingga tahun 1938, Muhammadiyah telah memiliki cabang hampir di seluruh kota besar di Indonesia.

Fokus gerakan organisasi Muhammadiyah adalah meluruskan kesalahpahaman ajaran Islam atau penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) di tengah masyarakat melalui dakwah dan pembukaan lembaga pendidikan serta amal-amal usaha lainnya, seperti rumah sakit, lembaga wakaf dan lain-lain untuk pengembangan dan penguatan ekonomi umat.

3. Mathla’ul Anwar (MA)

Mathla’ul Anwar (MA) didirikan 1916 M oleh Abdurahman bin Jamal, TB Sholeh Kananga, Kiai Yasin, Kiai Arsyad dan Kiai Rusdi. Lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar berpusat di Banten dan berumur 10 tahun lebih tua dari NU. Menteri Agama Fachrul Razi Batubara adalah seorang kader Mathla’ul Anwar.

4. Nahdlatul Ulama (NU)

Sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), K. H. Wahab Chasbullah dan K. H. Mas Mansur mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan tanah air) di tahun 1914. (Keren kan namanya dengan spirit kebangkitan bukan spirit angpau-red). Lebih lengkapnya silahkan baca “Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999.

Pada tahun 1916, Nahdlatul Wathan makin berkembang dengan memiliki beberapa madrasah dan gedung di Surabaya, serta cabang-cabang di Malang, Semarang, Gresik dan Jombang, kemudian K. H. Wahab Chasbullah menggagas satu organisasi yang bernama Nahdlatul Tujjar (kebangkitan para pedagang). Semangat kebangkitan kembali di gelorakan.

Pada tanggal 31 Januari 1926, Para Kiai berkumpul di kediaman Kiai Wahab dan memutuskan membentuk suatu organisasi kemasyarakatan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang dinamakan Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti “kebangkitan para ulama”, maka tanggal 31 Januari 1926 kemudian ditetapkan sebagai hari lahir NU.

5. PERSIS (Persatuan Islam)

PERSIS (Persatuan Islam) adalah organisasi Islam modernis di Indonesia yang didirikan di Bandung oleh tokoh utama yakni Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus pada tanggal 12 September 1923, bertujuan memurnikan ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, serta aktif di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial dengan fokus kembali pada sumber asli Islam dan memberantas bid’ah, takhayul, dan khurafat.

PERSIS memiliki berbagai sayap otonom seperti Ikatan Pelajar Persis (IPP) dan Pemuda Persis, serta menerbitkan majalah seperti Pembela Islam, al-Fatwa, dan al-Lisaan di masa lalu.

Tujuan Awal berdirinya PERSIS:
Memperbaiki pemahaman Islam yang dianggap telah bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, dan tidak kritis, dengan kembali pada pemahaman ulama salafush Shalih.

Fokus Kegiatan
Pendidikan: Sangat menekankan pendidikan, dengan kurikulum yang memadukan ilmu agama (sesuai Al-Qur’an dan Hadits) dan ilmu umum.
Dakwah: Menyebarkan pemahaman Islam yang murni melalui berbagai kegiatan dan media.
Pemurnian Akidah: Berupaya membersihkan praktik keagamaan dari unsur-unsur yang dianggap bid’ah, takhayul, dan khurafat.

Ciri Khas PERSIS
Modernis: Mengusung pemikiran Islam modern yang dinamis.
Tidak Bermazhab Kaku: Tidak terikat pada satu mazhab tertentu, tetapi mengambil pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Struktur dan Sayap Organisasi PERSIS diantaranya:
PP PERSIS: Pimpinan Pusat.
IPP (Ikatan Pelajar Persis): Sayap pelajar.
Pemuda Persis: Sayap pemuda.

Media:
Menerbitkan majalah seperti Pembela Islam, al-Fatwa, dan al-Lisaan di masa lalu.
Persis Online menyediakan informasi kegiatan dan struktur organisasi saat ini.

6. Rabithah Alawiyah

Rabithah Alawiyah lahir pada tanggal 27 Desember 1928 sebagai ormas Islam yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pada umumnya organisasi ini menghimpun WNI keturunan Arab, khususnya yang memiliki keturunan langsung atau dzuriat dari Nabi Muhammad SAW.

7. Alkhairaat (1930)

Alkhairaat di dirikan oleh Habib Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, Guru Tua pernah mengajar di Jamiatul Khair dan Tebu Ireng Jombang. Kedatangan Guru Tua di Wani, Kabupaten Donggala pada tahun 1929 adalah atas usulan dan permintaan saudara beliau Sayyid Alwi bin Salim Al-Jufri dan masyarakat Wani.

Madrasah pertama yang didirikan di Wani bernama Al-Hidayah. Nama ini merujuk madrasah Al-Hidayah milik Al-Habib Abu bakar bin Shofi Alhabsyi di Makassar dan mempunyai cabang di Kabupaten Touna, Ampana, Kabupaten Banggai, Luwu, Provinsi Gorontalo dan Provinsi Ternate.

Pada tahun 1930 Guru Tua pindah ke Lembah Palu (Kota Palu sekarang-red), Beliau menetap di Ujuna dan mengajar di Kampung Baru, dirumah H. Daeng Marocca, sepupu istri beliau, Hj. Ince Ami binti Daeng Sute hingga menetap di Kampung Baru.

Kader-kader Alkhairaat antara lain : Salim Segaf al Jufri Ketua Majelis Syuro PKS, Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Pimpinan MPR (2019-2024), Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA, Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah, Sakinah Aljufri, S.Ag Anggota DPR_RI (2019-2024) dll.

8. Nahdlatul Watha (NW)

Nahdlatul Watha (NW) didirikan pada 1 Maret 1953 M/15 Jumadatsaniyah 1372 H oleh Tuan Guru K. H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid bergelar Tuan Guru Pancor, gelar tersebut berasal dari nama daerah organisasi ini pertama kali di dirikan yaitu, Pancor, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

9. Hidayatullah

Hidayatullah didirikan oleh KH Abdullah Said, dimulai sejak 5 Februari 1973 Masehi atau 1 Muharram 1393 Hijriyah, tepatnya sejak berdirinya Pesantren Hidayatullah di Gunung Sari, Kalimantan Timur.

Setelah beberapa kali pindah akhirnya pada tahun 1976, pusat pembinaan para santri Hidayatullah menempati lokasi di Gunung Tembak, Kalimantan Timur, bersamaan dengan diresmikannya Pesantren Hidayatullah di wilayah tersebut oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Mukti Ali. Pesantren seluas 120 hektar ini kemudian menjadi pusat kultur Hidayatullah.

Saat ini, di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak telah berdiri Masjid Ar-Riyadh, gedung-gedung sekolah dan perguruan tinggi, aula pertemuan, kantor, guest house, dan perumahan warga, dilengkapi sarana umum serta lingkungan hijau yang ditata asri.

Tak heran bila pada tahun 1984, Presiden Soeharto menganugerahkan Kalpataru kepada pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, karena beliau dinilai mampu mengubah kawasan kritis di Gunung Tembak menjadi lingkungan pesantren yang hijau dan asri.

Dalam perkembangan selanjutnya, KH Abdullah Said mengirimkan santri-santrinya berdakwah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, khususnya daerah-daerah pedalaman dan minoritas Muslim, hingga tersebar di seluruh Indonesia.

Abdullah Said pernah menjadi aktivis Muhammadiyah (Pemuda Muhammadiyah) mulai dari tingkat Cabang di Malimongan Baru Makassar hingga Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) periode 1966-1968. Di periode ini, Abdullah Said menjabat sebagai Ketua Biro Dakwah dan Publikasi.

Setelah KH Abdullah Said wafat tahun 1998, kepemimpinan Hidayatullah dilanjutkan oleh KH Abdurrahman Muhammad. Melalui Musyawarah Nasional pertama tanggal 9-13 Juli 2000 di Balikpapan, Kalimantan Timur, Hidayatullah secara resmi mengubah bentuknya dari organisasi sosial menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dengan 5 jenjang kepengurusan, yakni nasional/pusat, wilayah/provinsi, daerah/kabupaten-kota, cabang/kecamatan, dan ranting/desa-kelurahan.

9. Front Pembela Islam (FPI)

Front Pembela Islam (FPI), Ormas yang didirikan dan dipimpin oleh Dr. Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab, Lc., M.A., Ph.D., DPMSS. Sejak didirikan hingga dibubarkan FPI berkembang dan memiliki anggota hampir 10 juta orang.

Front Pembela Islam (FPI) didirikan pada tanggal 17 Agustus 1998 (bertepatan dengan 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang Selatan.

Organisasi ini dideklarasikan oleh sejumlah habaib, ulama, mubaligh, dan aktivis Muslim.

Berikut sekikas terkait berdirinya FPI:
Pendiri: Dipelopori oleh Habib Muhammad Rizieq Shihab bersama para ulama lainnya.
Tujuan: Didirikan sebagai wadah kerja sama antara ulama dan umat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan, mencegah kemungkaran).

Latar Belakang: Muncul di awal era Reformasi, didorong oleh keprihatinan terhadap maraknya kemaksiatan dan lemahnya penegakan hukum saat itu.

Status Terakhir: Pemerintah resmi membubarkan dan melarang aktivitas FPI sejak 30 Desember 2020, kemudian Front Pembela Islam berubah menjadi Front Persaudaraan Islam.


Ahlu Sunnah Wal Jama’ah atau ASWAJA melatar belakangi lahirnya gerakan, kesadaran cinta tanah air, dari ASWAJA kemudian telah lahir tokoh-tokoh dan organisasai-organisasi massa. ASWAJA bukan hanya milik sekelompok orang atau satu organisasi sehingga dengan ringan mengatakan orang-orang yang diluar organisasinya bukan ASWAJA.

Na’u dzubillah, tsuma na’u dzubillah. Semoga Allah menjaga kita semua dalam naungan dan kelurusan akidah kepada Allah SWT semata. Mohon maaf atas segala khilaf dan kurangnya. Salam Semut Ibrahim.

Naskah ini dikutip dari kultwitnya Sang Langit dan pembaca bisa mengunjungi dan membaca kultwitnya di sini.


Baca juga kisah pilu masyarakat melayu Rempang dalam tajuk “Tak Melayu Hilang di Bumi” yang membahas tentang Konflik Rempang secara berseri di sini


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca