Oktober 10, 2026

HARI ANAK PEREMPUAN INTERNASIONAL: MUHAMMADIYAH DAN ‘AISYIYAH TIDAK BERETORIKA TAPI MEMBUKTIKAN

Oleh: Utomo Dwiharsanto, ST., MM., CHD, CPM, CHCM, CPTM.

Tanggal 11 Oktober ini, banyak masyarakat yang tidak mengetahui diperingati sebagai hari peringatan apa. Hak-hak perempuan dan anak perempuan pertama kali diperjuangkan melalui Deklarasi Beijing di 1995 pada Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing. Dalam konferensi ini negara-negara anggota akan melakukan rencana aksi yang mendukung hak-hak perempuan dan untuk melindungi masa depan anak perempuan muda secara internasional. Dengan inisiatif Plan International, dan badan-badan lain menyuarakan dukungan mereka dalam perlindungan anak perempuan dan perempuan, yang nantinya pada perjalannya akhirnya mendapatkan daya tarik yang lebih besar.

Deklarasi ini menjadi deklarasi pertama yang mengidentifikasi kebutuhan untuk mengatasi isu-isu yang dihadapi oleh remaja perempuan di seluruh dunia.

Kemudian, akhirnya Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation) dalam Sidang Umumnya pada tanggal 19 Desember 2011 menetapkan bahwa tanggal 11 Oktober adalah Hari Anak Perempuan Internasional.  Oleh sebab itu, sejak saat itulah pada tanggal tersebut dirayakan di seluruh dunia dengan berbagai kegiatan untuk pemberdayaan anak perempuan dan perempuan secara umum. Setiap tahun diperingati dengan tema-tema yang berkaitan dan menyoroti isu-isu yang dihadapi anak perempuan ataupun perempuan.

‘Aisyiyah, sebagai organisasi otonom dari Muhammadiyah ternyata sudah menginisiasi gerakan ini sejak jaman dahulu, bahkan sebelum Kemerdekaan Indonesia dan PBB didirikan.

Aksi ‘Aisyiyah dalam gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak perempuan dilakukan sejak Aisyiyah didirikan pada tahun 1917 di Yogyakarta oleh Nyai Siti Walidah, istri KH. Ahmad Dahlan dan murid-murid beliau berdua.

Pengambilan nama ‘Aisyiyah merupakan inspirasi dari keteladanan Aisyah, istri Nabi Muhammad, yang dikenal karena kecerdasan dan kualitas pemikirannya yang jauh ke depan. Sejak saat itu, Aisyiyah sebagai bagian dari Muhammadiyah menjadi ujung tombak dan wadah dalam memberdayakan perempuan, memperjuangkan pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, ‘Aisyiyah telah menjadi sumber inspirasi bagi jutaan perempuan Indonesia untuk menjadi agen perubahan melalui gerakan-gerakan inklusif, tertata dan terorganisir dengan baik.

Ditarik ke masa sebelumnya, bahkan gerakan ini sudah ada sejak tahun 1914 melalui kelompok pengajian yang bernama “Sopo Tresno” (berarti “Siapa Cinta”) yang didirikan oleh Nyai Siti Walidah bersama suaminya, Kiai Haji Ahmad Dahlan, di Kauman, Yogyakarta.

Kelompok Pengajian Sopo Tresno berfungsi sebagai forum pendidikan dan pengajian bagi perempuan, baik muda maupun tua, yang di masa ketika itu pendidikan perempuan masih sangat terbatas. Pengajian ini secara luas memberikan pencerahan kepada jamaahnya, tentang hak-hak dan kewajiban perempuan, baik di dalam keluarga maupun sebagai anggota masyarakat di lingkungannya.

Dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan sebagai dasar langkah selanjutnya, Kyai Ahmad Dahlan melakukan langkah pertama dengan kaderisasi murid-murid utama perempuannya. Mereka dianjurkan untuk bersekolah baik di sekolah umum formal maupun non formal (kursus) milik Belanda maupun di sekolah Diniyah milik Muhammadiyah. Hal ini didasarkan pada komitmen beliau untuk mendorong perempuan menempuh pendidikan, baik di pendidikan formal umum maupun keagamaan. Berbeda dengan pemikiran dan tradisi saat itu yang berpendapat bahwa perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan (perempuan hanya sebagai konco ‘wingking’). Bahkan kala itu, pun bila anak-anak harus bersekolah, mereka tidak boleh bersekolah di sekolah ‘kafir’ yaitu sekolah milik Belanda semacam Sekolah Netral (Neutraal Meisjes School), Holland Inlandsche School (HIS) ataupun Fur Huischoud School. Namun Kyai Ahmad Dahlan menepis hal itu.

Para murid perempuan utama (awal) Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah itu, antara lain; Siti Bariyah (Pemimpin pertama ‘Aisyiyah) lulusan sekolah Belanda (Neutraal Meisjes School), Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busyro (putri dari K.H. Ahmad Dahlan sendiri), Siti Wadingah, Siti Aminah (Bendahara ‘Aisyiyah pertama), Siti Munjiyah, Siti Haniyah, Siti Badilah Zuber (Sekretaris ‘Aisyiyah pertama) dan Siti Umniyah (guru sekaligus pendiri Frobel School Muhammadiyah) dan masih banyak lagi, yang kemudian diteruskan generasi selanjutnya dari Kauman sendiri maupun wilayah sekitarnya.

Toloh-tokoh senior ‘Aisyiyah awal terdapat nama Nyai Siti Walidah, Nyai  H. Abdullah, Ny. Fatimah Wasaal, dan masih banyak lagi yang terlibat dalam pembinaan perempuan pada masa awal berdirinya Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah melalui ortom ‘Aisyiyah pada tahun 1919, dengan kadernya yang bernama  Siti Umniyah (saat itu masih berusia 17 tahun) mendirikan Frobel School Muhammadiyah, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang menjadi tonggak dan pelopor berdirinya Taman Kanak-Kanak (TK) pertama di Indonesia.

Frobel School ini kelak berkembang menjadi TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), yang kini tersebar di seluruh Indonesia dan menjadi inspirasi pemerintah maupun organisasi lain mendirikan sekolah TK bagi anak-anak. Hal ini merupakan langkah pembaharuan dan berkemajuan bagi bangsa ini.

Selanjutnya, yaitu sejak tahun 1923, ‘Aisyiyah melalui gerakan literasinya memulai gerakan pemberantasan buta huruf, baik huruf Latin maupun Arab. Gerakan ini merupakan awal dari emansipasi perempuan baik bagi kader Muhammadiyah/’Aisyiyah maupun perempuan bangsa dalam mengakses ilmu pengetahuan dan turut serta dalam kehidupan publik. Untuk itu, guna mendukung gerakan tersebut ‘Aisyiyah melakukan pendidikan keaksaraan, pendirian mushala perempuan pada 1922, kongres bayi, inovasi peningkatan derajat kaum perempuan, hingga penerbitan majalah Suara ‘Aisyiyah pada 1926.

Di kancah nasional, gerakan ‘Aisyiyah juga berperan aktif dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I dan memprakarsai berdirinya Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) tahun 1928 di Batavia (Jakarta), dan ikut dalam Federasi Perempuan KOWANI merupakan federasi dari 103 organisasi perempuan tingkat nasional dan menjadi organisasi federasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia. Dalam Kongres tersebut, selain berperan sebagai inisiator kongres, ‘Aisyiyah juga mengirimkan dua kadernya, Siti Munjiyah dan Siti Hayinah Mawardi, yang berperan penting dalam kongres. Siti Munjiyah menjabat sebagai Wakil Ketua dan menyampaikan pidato fenomenal berjudul “Derajat Kaum Perempuan”, sementara Siti Hayinah menyampaikan pidato tentang “Persatuan Islam”. Kader ‘Aisyiyah lainnya, Siti Sukaptinah didaulat menjadi Sekretaris (hadir mewakili Jong lslamiten Bond Afdeeling Wanita cabang Yogyakarta). Siti Sukaptinah juga adalah anggota Siswapraja Wanita Muhammadiyah, cikal-bakal Nasyiatul ‘Aisyiyah.

Di masa kemerdekaan dan sampai saat ini, lebih dari 1 (satu) Abad, telah banyak kiprah Muhammadiyah melalui organisasi otonomnya baik ‘Aisyiyah mapun kepemudaaan perempuannya, Nasyiatul ‘Aisyiyah. Banyak program pemberdayaan perempuan dan anak-anak melalui lembaga pendidikan formal dan non-formal didirikan. Di pendidikan anak usia dini (PAUD), sejak awal jenjang pendidikan ini sampai sekarang diserahkan pada ‘Aisyiyah melalui TK/PAUD ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) yang tersebar di seluruh negeri ini. Di pendidikan jenjang perguruan tinggi juga berdiri Universitas ‘Aisyiyah. Untuk urusan kesehatan, peran ‘Aisyiyah juga banyak berperan di lembaga-lembaga kesehatan seperti Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Bersalin, Rumah Sakit Ibu dan Anak. Untuk bidang sosial dan ekonomi, ‘Aisyiyah telah mengembangkan 459 organisasi sosial dan 503 industri usaha kecil, memberdayakan perempuan dalam sektor ekonomi serta meluncurkan program pemberdayaan perempuan berbasis komunitas untuk mendukung kemandirian keluarga.

Dalam perannya pada perlindungan anak perempuan, kiprah ‘Aisyiyah berperan dalam perlindungan anak perempuan melalui pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi dengan program seperti sosialisasi, pendampingan hukum, pelatihan, dan pemberdayaan ekonomi. ‘Aisyiyah juga berfokus pada pemberdayaan perempuan agar dapat menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak serta advokasi terkait undang-undang perlindungan anak.

Pada peran pencegahan, pendampingan hukum dan rehabilitasi, ‘Aisyiyah banyak melakukan Sosialisasi dan Edukasi dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang hak-haknya, pentingnya menjaga diri dari kekerasan seksual, penyimpangan dan perundungan serta semua bentuk tindakan asusila lainnya, dan cara melaporkan jika menjadi korban kekerasan.

Khusus menangani isu krisis iklim, melalui program “Green Nasyiah”, Aisyiyah berupaya mencegah krisis iklim yang berdampak pada pemenuhan hak anak. Untuk pendampingan hukum dibentuklah Pos Bantuan Hukum (Posbakum) untuk memberikan pendampingan hukum, termasuk penyediaan paralegal untuk korban kekerasan. Untuk pemulihan psikososial dilakukan program pemulihan psikososial dan ekonomi bagi korban kekerasan, termasuk anak-anak. Selain itu, ‘Aisyiyah juga menginiasi adanya Rumah Aman yaitu menyiapkan rumah aman dengan memanfaatkan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak ‘Aisyiyah.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memang tidak pandai beretorika karena Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah lebih berfokus pada “membangun” dan mengamalkan gerakan Al Maun.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan: “Muhammadiyah itu inklusif, Muhammadiyah itu NKRI. Cuma Muhammadiyah ini tidak pandai beretorika, jarang Muhammadiyah berteriak NKRI Harga Mati, jarang bilang Bhinneka Tunggal Ika, tapi Muhammadiyah mempraktekkan NKRI Harga Mati dan Bhinneka Tunggal Ika itu dalam perbuatan nyata yang mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan. Dan itu dirasakan betul (oleh masyarakat),”.

Muhammadiyah tidak pandai beretorika, namun lebih fokus mempraktekkannya dalam Amal Nyata.

Penulis: Utomo Dwiharsanto, ST., MM., CHD, CPM, CHCM, CPTM.
Anggota Majelis Ekonomi PCM Muhammadiyah Grabag – Kab. Magelang.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca