Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Pada Kamis siang, 02 Oktober 2025, selesai Sholat Jumat, jam 13.00 tepat genderang dipukul, hingga senja merapat pukul 17.00, jalan menuju Gedung KPK bergetar, oleh derap langkah ribuan suara mengepung KPK.

Mereka datang, bukan sekadar massa, tapi gladiator kebenaran, yang menolak uang haram mengikat negeri, yang menolak kursi kekuasaan jadi tahta mafia, yang menolak hukum jadi barang dagangan, yang menolak aji mumpung keluarga naik jabatan.

Gladiator : Gerakan Lintas Aliansi Adili Para Koruptor. Mengangkat Bendera—mulai dari FPPN hingga ARM, dari PEJABAT yang kini berpihak pada rakyat, hingga FORUM AKSI yang menggema lantang. PETISI 100 melukis seratus luka bangsa, AL INSAN mengingatkan nurani tidak boleh diam, HEALTHY INTELLECT FOR INDONESIA JUSTICE menyulut api akal sehat untuk menimbang keadilan.

GERNAS INDONESIA GEMILANG meneriakkan janji negeri terang, UI WATCH mengawasi dari mata kampus yang tajam, KAMI KARAWANG membawa semangat sawah dan pabrik, SUARA RAKYAT LEBAK datang dari tanah yang jauh, namun dekat pada getir korupsi.

GERAKAN BELA NEGARA menegakkan dada, JASMANIES melangkah berbaris, APIB BANTEN dan BANTEN BERSATU menyalakan bara provinsi yang pernah diam. FORMASI berdiri rapih seperti pasukan, ASTERNAL BEKASI hadir dengan wajah kota buruh. SOLIDARITAS MASYARAKAT JAKARTA UTARA menyambung suara pelabuhan dan kampung nelayan, FRONT GERAKAN RAKYAT SEMESTA membawa bendera sebesar langit, BANTEN INDEPENDENT COMMUNITY bersaksi bahwa rakyat berdaulat sendiri.

MUJAHIDAH PEJABAT, tidak gentar berdiri di garda perempuan, WAJAN yang panas mendidihkan amarah, ASELI mengingatkan keaslian hati rakyat, BARISAN MERAH PUTIH berjanji tidak membiarkan bangsa ini retak.

FORBAS dan KOALISI RAKYAT BANTEN menyambung tali yang tidak mudah putus, FRONT KEBANGKITAN PETANI DAN NELAYAN membawa bau lumpur sawah dan asin laut, SEMUT BANTEN merayap tidak terhitung, tapi kekuatan mereka tidak bisa diremehkan.

VOICE OF BANTEN menggema, APP TNI berdiri gagah mengawal amanah, FDI menutup barisan,seperti tombak terakhir di medan juang.

Mereka datang bukan untuk huru-hara, mereka datang bukan untuk kepentingan sesaat, mereka datang dengan damai, mereka datang tidak membawa galang anarki, mereka datang karena korupsi adalah racun, yang membunuh perlahan, dengan wajah manis dan janji pembangunan.Di hadapan Gedung KPK, teriakan tidak lagi sekadar kata, tapi doa, kutukan, sekaligus perintah rakyat : “Adili para koruptor! Jangan biarkan negeri ini diperjual belikan. Jangan biarkan keringat rakyatjadi upeti meja kekuasaan.”

Gedung tinggi itu pun bergetar, bukan karena gempa, tapi karena suara rakyat yang bersatu dalam satu kata: keadilan. Dan sejarah pun mencatat, bahwa pada hari itu, Gladiator dari segala penjuru aliansi, mengepung bukan untuk menaklukkan, tapi untuk menyelamatkan negeri dari tirani korupsi.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca