Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Rakyat bukan milik penguasa, bukan kuda tunggangan ambisi, bukan lembar kertas yang bisa ditandai, atau angka yang bisa dijumlahkan dalam kotak suara.

Namun berulang kali, lidah-lidah para calon penguasa mengucap dengan pongah : “Rakyat saya… rakyatku… rakyat milikku…” seolah rakyat adalah tanah warisan yang bisa diwariskan pada anak cucu kekuasaan.

Mereka lupa—bumi ini bukan milik istana, laut bukan milik pengusaha, langit bukan milik bendera. Kita semua hanyalah hamba, ciptaan yang fana, yang pada akhirnya akan kembali kepada Pemilik yang sesungguhnya : Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rakyat adalah denyut kehidupan yang mendiami tanah air, yang menyemai padi, yang menimba air, yang berdoa di surau, yang berdiri di pasar menjajakan rezeki.

Secara politis—rakyat adalah jiwa-jiwa yang berada di bawah naungan sebuah negara. Secara sosiologis—rakyat adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan rasa persamaan, yang menanggung derita bersama, yang menegakkan harapan bersama.

Namun para penguasa lupa, bahwa rakyat bukan budak yang bisa diperjualbelikan, bukan ternak yang bisa ditambatkan dengan tali janji-janji kosong. Mereka lupa, seluruh alam semesta diciptakan bukan untuk menuhankan manusia, tapi agar manusia beribadah dan menegakkan amanah.

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan (menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang, semua tunduk kepada perintah-Nya.

”Rakyat adalah khalifah di bumi, bukan hamba para penguasa. Mereka yang berdiri di sawah, yang berjalan di jalanan kota, yang menunggu upah di pabrik, semua adalah bagian dari satu tubuh kehidupan. Dan tidak seorang pun pemimpin berhak berkata : “Mereka milikku.” Karena jauh sebelum bintang-bintang dinyalakan, sebelum bumi digelar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan Nur Muhammad SAW, sebagai cahaya awal segala penciptaan.

Di bawah cahaya itu, manusia dititipkan tugas—menjaga bumi, menegakkan keadilan, bukan memperbudak sesamanya.

Wahai para penguasa, jangan kau sebut rakyat “milikmu”, karena kau hanyalah sementara, sedangkan rakyat adalah nadi sejarah yang tak bisa dipenjara oleh satu nama.

Jangan kau ciptakan kesan perbudakan di zaman yang mengaku merdeka, jangan jadikan rakyat sekadar alat, sementara istana menari di atas penderitaan.

Rakyat bukan milikmu. Rakyat adalah amanah. Dan amanah adalah beban, yang kelak akan ditanya oleh Sang Pemilik Segala Kehidupan.

Apakah engkau telah berlaku adil? Atau engkau menjadikan rakyat sebagai budak dalam narasi kekuasaanmu? Di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada penguasa yang bisa bersembunyi dari pertanyaan itu.

Disampaikan Oleh : Atma

Slipi the land of the brave, 2/9/2025

#BangkitlahNuswantara


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca