
Disampaikan Oleh : Haremen
Di bawah langit Jakarta yang pengap, gedung parlemen berdiri kaku, seakan tidak lagi mendengar jerit sawah yang retak, pekarangan yang gersang, atau kaki-kaki petani yang penuh lumpur dan debu perjalanan.
Namun di tengah ruang sidang yang sering dingin, Adian Napitupulu bangkit berdiri, suara seraknya tidak menutup semangat, ia bicara bukan untuk dirinya, tapi untuk mereka yang suaranya selalu ditenggelamkan bising pembangunan semu.
“Andai para duta besar, atase, diplomat kita,” katanya dengan nada lantang, “tidak hanya sibuk menandatangani nota kesepahaman, tidak hanya sibuk memuji produk asing di pesta jamuan, tapi diwajibkan—ya, diwajibkan!—menjadi marketing bagi kopi petani, cokelat perkebunan, hasil laut nelayan, dan kerajinan UMKM yang sering dipandang sebelah mata.”
Seisi ruangan terdiam, sebagian tersenyum sinis, sebagian menatap serius, tapi ia terus berbicara, karena ia tahu kata-katanya lahir dari tanah yang diinjak oleh rakyat kecil, bukan dari udara ber-AC kantor kementerian.
Ia melukiskan gambaran : Bayangkan jika diplomat kita berjalan di Paris, bukan hanya membawa pidato, tapi juga menenteng kopi Toraja yang harum, madu hutan Kalimantan yang manis, keripik singkong Garut yang renyah, rendang daging Minang.
Bayangkan jika duta besar di Tokyo tidak hanya bicara geopolitik, tapi membuka stan kecil dengan tenun ikat Flores, batik, ukiran Jepara, kerajinan rotan Cirebon dan berbagai produk UMKM.
Bayangkan jika perwakilan Indonesia di Afrika menawarkan rempah-rempah Nusantara, yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa berlayar ribuan mil, yang pernah menyalakan perang berabad-abad, tapi kini ditinggalkan oleh generasi yang lupa jati diri.Adian berkata lantang : “Saatnya diplomasi kitatidak hanya tentang menjaga kursi di forum, tapi tentang menjaga kursi makan rakyat, agar tidak kosong, agar nasi di piring tidak hilang, agar dapur tetap mengepul.” Tapi yang terjadi Pejabat kita sering jadi pengiklan gratis produk asing, jadi corong industri global, seakan lupa bahwa di tanah sendiri jutaan petani menggantungkan hidup pada harga cabai, pada harga beras, pada harga karet yang kian jatuh.
Bangsa ini pun tergadai, pasar terbuka lebar, mal asing menjamur, sementara warung kecil di gang, pasar rakyat, yang berumur puluhan tahun satu per satu roboh, terganti oleh lampu neon yang dingin.
Adian mengguncang kalimatnya : “Mengapa kita selalu bangga menjadi pembeli terbesar? Padahal kebanggaan sejati adalah ketika dunia membeli dari tangan kita, dari tanah kita, dari keringat rakyat kita.”Ia berhenti sejenak. Suara di ruang sidang tercekik. Lalu ia melanjutkan, kali ini seperti doa, seperti nubuat : “Bayangkan sebuah Indonesia yang diplomatnya bukan hanya penonton, tapi pedagang yang cerdas, pemasar yang lihai, yang setiap langkahnya membuka pintu rezeki, yang setiap senyumnya mengangkat harga diri bangsa.”
“Bayangkan sebuah negeri yang anak mudanya tidak lagi pergi jadi buruh murah, karena di tanah air, pabrik UMKM berdiri kokoh, produk kita diekspor ke seluruh benua, dan pasar dunia mengucap hormat kepada karya orang Indonesia.”
“Bangsa besar bukanlah bangsa yang hanya bisa mengonsumsi, tapi bangsa yang berani menjual, berani mengibarkan bendera di setiap rak supermarket dunia, berani berkata : inilah hasil bumi kami, inilah tangan terampil rakyat kami, inilah martabat Indonesia!”
Dan ketika kata-kata itu usai, ruangan hening. Seolah ada gema jauh dari gunung, dari sawah, dari laut, menjawab lirih : Aamiin.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.