Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Haremen

Di atas mimbar dunia, sering terdengar tuduhan tanpa suara keadilan : “Semua Muslim adalah teroris.” Kata-kata itu berulang, menyusup ke layar televisi, mengalir di koran, menggema di rapat-rapat kekuasaan dunia.

Namun sejarah menolak diam, ia bangkit dari lembar-lembar luka, ia menjerit dari kuburan massal, ia menuding siapa sebenarnya yang menyalakan api teror, yang menumpahkan darah tanpa ampun: Siapa yang memulai Perang Salib, membakar tanah suci dengan bendera salib? Bukan Muslim.

Siapa yang memicu Perang Dunia Pertama, mengirim jutaan pemuda ke parit-parit mati? Bukan Muslim.

Siapa yang mengobarkan Perang Dunia Kedua, dengan ambisi buta dan mesin perang raksasa? Bukan Muslim.

Siapa yang membantai 20 juta Aborigin di tanah yang kini disebut Australia? Bukan Muslim.

Siapa yang menjatuhkan bom nuklir, dua matahari palsu di langit Hiroshima dan Nagasaki, melenyapkan 300 ribu jiwa dalam sekejap? Bukan Muslim.

Siapa yang menghapus jejak 100 juta suku Indian di Amerika Utara, menukar tanah leluhur dengan peluru dan wabah? Bukan Muslim.

Siapa yang melenyapkan 50 juta jiwa suku Indian di Amerika Selatan, menjadikan emas lebih berharga dari nyawa? Bukan Muslim.

Siapa yang menculik 180 juta orang Afrika, memasung mereka dengan rantai budak, 88 persen terlempar ke lautan, dimakan hiu, dimakan ombak Samudra Atlantik? Bukan Muslim.

Siapa yang membunuh 1 juta warga sipil Irak dengan dalih demokrasi, padahal yang lahir hanya reruntuhan dan mayat. Bukan Muslim.

Siapa yang menyalakan Holocaust, membantai 6 juta kaum Yahudi, dengan racun, kamp konsentrasi, dan api krematorium? Bukan Muslim.

Siapa yang merobek tanah Palestina, melakukan genosida perlahan, dengan bom, dengan fosfor putih, dengan dinding blokade, dengan senjata pembunuh masal? Bukan Muslim.

Siapa yang mengirim senjata, mendanai peluru, mendukung penjajahan Israel? Bukan Muslim.

Siapa yang membunuh jutaan orang di Kamboja? Bukan Muslim.

Siapa yang menanam kuburan massal di Namibia? Bukan Muslim.

Siapa yang memusnahkan manusia di Bosnia, di bawah mata dunia yang pura-pura buta? Bukan Muslim.

Siapa yang merobek-robek Rwanda, membanjiri sungai dengan darah? Bukan Muslim.

Siapa yang memaksa rakyat tunduk di bawah mesin represif Uni Soviet? Bukan Muslim.

Siapa yang membantai di Myanmar, membakar desa demi desa Genosida Rohingya. Bukan Muslim.

Siapa yang menindas Uyghur di tanah Xinjiang, dengan kamp re-edukasi, dengan penghapusan identitas? Bukan Muslim.

Siapa yang menyalakan perang panjang di Sudan, membiarkan rakyat terpotong oleh peluru Bukan Muslim.

Siapa yang datang dengan jargon Gold, Glory, Gospel, mencabik Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan wajah misionaris, tangan pedang, dan kapal-kapal dagang. Bukan Muslim.

Maka tanyakan lagi dengan jujur : Apakah benar semua Muslim adalah teroris? Ataukah kata itu hanyalah senjata, yang dipakai untuk membungkam, untuk menindas, untuk menutupi dosa-dosa kekuasaan dunia?

Istilah Terorisme lahir di Perancis, ketika terjadi Genosida hingga 60 ribu rakyat yang menentang pemerintahan revolusi. Terorisme bukan milik agama. Ia lahir dari kerakusan, dari haus kuasa, dari cinta berlebihan pada emas dan senjata.

Jika seorang Non-Muslim membunuh, itu disebut “kriminalitas.” Jika seorang Muslim melakukan kesalahan kecil, ia langsung dicap “teroris”. Inilah wajah standar ganda, yang membuat dunia pincang, kebenaran lumpuh, dan keadilan tertidur.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca