
Memasuki tamanmu,
Aroma kamboja menyeretku ke pelataran rindu,
Dan sedih yang saling menindih,
Lemas persendianku, deras airmataku menganak sungai,
Sesampai di pusaramu, kujinakkan debar deru,
Sayap angan terbang menembus pekat bayang,
Memasuki alammu, tempat istirahat waktu,
Kau tidur panjang di pangkuan Maha Penyayang,
Tetaplah berseri-seri wajah mimpi,
Walau aku tiba tanpa membawa bunga,
Sebagai ganti kubawakan cinta dan doa-doa,
Sebagai pelita dengan ridho-Nya.
Pelangi kenang tetap indah membentang.
Kaulah wanita serupa bidadari.
Memberi kasih sayang tanpa keluh melayang.
Hanya dengan mengunjungimu dapat kuredakan hujan rindu.
Izinkanlah aku kembali mengikuti angin yang belum selesai.
Bersama cinta dan doa-doa.
Goresan Pena Gyo Madaskar Kontributor Semut Ibrahim Bandar Lampung
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Itu puisi aku tulis di depan makam ibunda tersayang di Belitang di saat aku ziarah sendirian. Lebih dari 2 jam aku serasa tidak bisa beranjak pulang… setelah aku menulis puisi ini baru terasa plong ……lalu pulang
Sangat menyentuh..Alfatihah untuk orangtua kita yang sudh meninggalkan kita semoga mereka mendpat tempat terindh di sisi_ Nya
Aamiin yra..